Apa yang Terjadi Jika Ekonomi Global Resesi?

tim | CNN Indonesia
Selasa, 27 Sep 2022 13:21 WIB
Banyak negara berpotensi masuk ke jurang resesi tahun depan. Jika itu terjadi, apa yang akan terjadi pada Indonesia? Banyak negara berpotensi masuk ke jurang resesi tahun depan. Jika itu terjadi, apa yang akan terjadi pada Indonesia? Ilustrasi. (AP/Dita Alangkara).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan dunia jatuh ke jurang resesi tahun depan. Hal ini karena banyak bank sentral yang sudah mengerek suku bunga acuan demi menekan inflasi.

"Kenaikan suku bunga acuan cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers, Senin (26/9).

Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mulai melambat pada kuartal II 2022. Beberapa contohnya, seperti Amerika Serikat (AS), Jerman, China, hingga Inggris.

"Tren pelemahan terlihat mulai kuartal II 2022 di beberapa negara dan akan lebih dalam kuartal III dan kuartal IV 2022, sehingga prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan, termasuk kemungkinan resesi mulai muncul," jelas Sri Mulyani.

Kendati demikian, ia masih percaya ekonomi RI baik-baik saja. Pasalnya, PDB RI tumbuh 5,44 persen pada kuartal II 2022 atau lebih tinggi dari kuartal I 2022 yang sebesar 5,01 persen.

"Indonesia juga sampai semester I 2022 ini level dari PDB sudah 7,1 persen di atas level sebelum terjadi pandemi," terang Sri Mulyani.

Lantas, apa yang akan terjadi jika ekonomi global resesi?

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan permintaan ekspor dari sejumlah negara yang masuk ke jurang resesi akan turun. Hal itu akan mempengaruhi neraca perdagangan RI.

Menurut Josua, dampak atas kegiatan ekspor dan impor ke PDB RI sebesar 20 persen. Sisanya berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi.

Meski tak besar, tapi pemerintah harus tetap waspada karena dampak gejolak ekonomi global akan merembet ke RI.

"Iya (ada pengaruh dari sisi ekspor impor). Tapi komponen ekspor impor kurang dari 20 persen terhadap PDB," kata Josua.

Senada, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai permintaan dari AS berpotensi turun tahun depan. Pasalnya, ekonomi Negeri Paman Sam semakin memburuk di tengah lonjakan inflasi.

"Ekspor dan impor juga berpengaruh mengingat AS juga menjadi salah satu tujuan ekspor produk Indonesia. Dengan lesunya ekonomi AS akan menurunkan permintaan produk dari Indonesia. Bisa jadi ekspor akan turun," ungkap Nailul.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), AS menjadi negara tujuan ekspor terbesar kedua setelah China pada Agustus 2022. Nilai ekspor RI ke AS sebesar US$2,59 miliar atau 9,87 persen dari total ekspor.

Namun, ia sependapat dengan Josua bahwa pengaruh ekspor dan impor kecil terhadap PDB RI. Dengan demikian, penurunan ekspor tak akan mendorong Indonesia masuk ke jurang resesi.

"Tapi pengaruh ekspor dan impor kecil, jadi pengaruhnya ke resesi cukup kecil," imbuh Nailul.

Sementara, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan kenaikan nilai ekspor RI tak hanya ditopang dari segi volume, tapi juga harga komoditas.

Ketika ekonomi dunia tertekan, Bhima memproyeksi harga komoditas juga rentan menurun. Pasalnya, permintaan dari global juga akan berkurang jika banyak negara yang masuk ke jurang resesi.

"Nah neraca dagang Indonesia kan selama ini ditopang harga komoditas yang tinggi. Kalau resesi maka permintaan barang industri menurun. Ini akibatnya terjadi penurunan harga komoditas unggulan dan menyebabkan tekanan dari sisi ekspor," ucap Bhima.

Selain itu, realisasi investasi langsung di Indonesia juga akan turun jika banyak negara yang resesi tahun depan. Investor akan mengamankan dananya ke instrumen yang lebih aman.

"Investasi langsung turun, rencana bisnis berubah. Apalagi kalau suku bunga acuan naik agresif demi tekan inflasi, maka biaya pinjaman sektor investasi tinggi dan akan mengganggu realisasi investasi langsung," jelas Bhima.

Tak hanya itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan penciptaan lapangan pekerjaan akan ikut menurun jika banyak negara masuk ke jurang resesi. Situasi itu akan menambah jumlah pengangguran.

"Penciptaan lapangan kerja turun, sehingga jumlah pengangguran meningkat," terang Faisal.

Lalu, ia sependapat bahwa ekspor akan turun bila ekonomi global tumbang. Namun, Faisal optimistis dampak penurunan ekspor ke ekonomi RI tidak signifikan.

"Kalau ekspor turun sepanjang di dalam negeri masih berputar perekonomiannya, UMKM jalan, artinya penciptaan lapangan kerja masih ada meski dari sektor informal, tapi ini tidak akan terlalu serius dampaknya," jelas Faisal.

[Gambas:Video CNN]

(aud/sfr)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER