Jakarta, CNN Indonesia -- Bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menyelimuti pekerja di Indonesia. Setelah sebelumnya badai PHK menimpa karyawan startup, sekarang masalah itu mengintai pekerja sektor lain.
Baru-baru ini Wakil Ketua Kadin Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta Kamdani mengingatkan badai PHK berpotensi mengintai pekerja di sektor padat karya.
Meski demikian, ia tak merinci kapan gelombang PHK sektor padat karya akan terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, padat karya untuk dipertahankan karyawannya itu sulit. Bahkan, mereka berupaya untuk tidak melakukan PHK, tapi sekali lagi, ini sulit. Karena permintaan dan pasarnya menurun signifikan, jadi mereka banyak melakukan efisiensi," ujar Shinta dalam Bincang Bersama BKPM, Bappenas, dan Kadin, seperti dilansir Antara, Selasa (25/10).
Dalam situasi seperti ini tentunya para pekerja harus selalu bersiap. Adapun jika Anda termasuk dalam kelompok yang terkena PHK, Anda bisa memanfaatkan uang pesangon untuk bertahan hingga pendapat penghasilan baru.
Uang pesangon yang diberikan perusahaan pun beragam, tergantung posisi dan berapa lama karyawan bekerja. Karena sifatnya sebagai dana untuk meneruskan hidup setelah PHK, pengalokasian uang pesangon harus dikelola sedemikian rupa.
Hal ini dilakukan agar Anda bisa bertahan, bahkan mendapat penghasilan pengganti.
Lantas, seperti apa acara mengelola uang pesangon setelah PHK?
Susun Ulang Anggaran Rumah Tangga
Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo mengatakan sebelum menggunakan uang pesangon ada hal-hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu, yakni menyusun ulang anggaran rumah tangga.
Hal ini perlu dilakukan agar dana yang tersedia dapat bertahan cukup lama hingga 6 bulan atau lebih.
"Susun ulang anggaran rumah tangga dengan melakukan pencatatan dan review sesuai kebutuhan dan prioritas. Utamakan untuk meminimalisir dulu pengeluaran," papar Budi kepada CNNIndonesia.com.
Selain itu, ia juga mengatakan sebelum menggunakan uang pesangon, sebaiknya rekap dulu semua sumber daya keuangan yang dimiliki saat PHK.
Pencatatan bisa dilakukan mulai dari tabungan, uang pesangon, investasi, rumah, kendaraan dan lainnya. Rekap juga semua utang-utang baik besarnya pokok utang serta nilai cicilan yang harus dibayar. Hal ini agar pemetaan alokasi dana lebih teratur.
Utamakan Bayar Utang
Jika Anda memiliki utang setelah PHK, sebaiknya Anda melunasinya terlebih dahulu. Sebab, utang biasanya akan menjadi beban, apalagi saat tidak memiliki penghasilan lagi.
"Hilangkan atau kurangi beban cicilan jika memungkinkan," kata Budi.
Meski begitu, ia memberikan catatan, pelunasan utang ini bisa dilakukan jika Anda memang memiliki uang pesangon berlebih dan sudah bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sisihkan Modal Usaha
Perencana keuangan membagikan sejumlah cara mengelola uang pesangon usai terkena PHK. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Sisihkan Modal Usaha
Budi mengatakan kepastian mendapat pekerjaan baru susah diukur. Karenanya, Anda bisa menggunakan uang pesangon untuk modal usaha.
Selain itu, Anda bisa mandiri secara keuangan.
"Uang pesangon dapat menjadi jaring pengaman untuk menyokong kehidupan bagi yang tidak memiliki dana darurat dan investasi. Atau dapat berfungsi bagi modal usaha bagi yang membutuhkan pengganti penghasilan segera," jelas Budi.
Namun, kata dia, Anda sebaiknya tetap menyisakan pesangon paling tidak sampai dengan 3-4 bulan pengeluaran.
"Jadi penggunaan uang pesangon memang harus melihat dulu situasi keuangan yang bersangkutan," imbuhnya.
Alokasi Investasi
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho Anda bisa menggunakan sebagian dari uang pesangon untuk investasi. Namun, investasi sebaiknya dilakukan pada instrumen dengan risiko rendah dan gampang dicairkan.
Oleh karena itu, ia menyarankan investasi pada logam mulia dan deposito.
"Jangan di instrumen berisiko tinggi, cari yang risikonya rendah. Misalnya logam mulia atau deposito, yang penting risiko rendah dan gampang dicairkan lagi," kata Andi.
Menurutnya, sebelum berinvestasi pun Anda juga perlu menyiapkan alokasi untuk biaya hidup sehari-hari.
Jika sudah terpenuhi dan mencukupi untuk minimal tiga bulan ke depan, Anda bisa berinvestasi dengan alokasi sesuai kebutuhan.
Bukan untuk Senang-senang
Andi mengatakan sejatinya uang pesangon adalah untuk bertahan hidup selama tidak bekerja. Oleh karena itu, yang diutamakan adalah untuk kebutuhan, bukan senang-senang.
"Jadi fungsinya di situ, jadi bukan untuk senang-senang," ujarnya.
Ia menjelaskan jika Anda tidak memiliki dana darurat atau tabungan, Anda bisa menggunakan 100 persen uang pesangon untuk kebutuhan saja.
Lalu, prioritaskan uang itu untuk hal-hal penting, seperti uang sekolah anak, bayar listrik, atau apapun yang seandainya pembayarannya tertunda berimbas pada sanksi.
[Gambas:Video CNN]