Jakarta, CNN Indonesia -- Menikmati kekayaan dari hasil kerja keras di masa tua mungkin itu menjadi impian setiap orang. Tapi itu tidak sama halnya dengan yang dilakukan oleh Sulaiman Al Rajhi.
Pengusaha sukses Arab itu memilih untuk jatuh miskin lagi dengan menyumbangkan hartanya, baik dalam bentuk uang, saham maupun properti untuk beramal.
Lalu siapa sebenarnya Sulaiman Al Rajhi dan bagaimana dia bisa kaya raya dan menyumbangkan banyak hartanya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulaiman Al Rajhi mempunyai nama lengkap Sheikh Sulaiman bin Abdulazis Al Rajhi. Ia lahir di Al Bukairiyah, Provinsi Al Qassim, Arab Saudi pada 30 November 1928.
Dengan kata lain, ia kini sudah berusia 94 tahun. Mengutip forbesmiddleeast.com sebelum sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di Arab Saudi dan dunia, Al Rajhi mengalami jalan hidup berliku.
Maklum, Al Rajhi kecil memang berasal dari kalangan keluarga miskin. Karena keadaan tersebut, ia sudah harus bekerja sebagai porter di Pasar Al Khadra Riyadh meski baru berusia 9 tahun.
Di usianya yang masih hijau, ia harus mondar mandir membawa barang belanjaan untuk pembeli di pasar tersebut. Kemudian pada saat usianya menginjak 12 tahun, Al Rajhi harus bekerja sebagai pengumpul kurma dengan bayaran tak lebih dari 6 rial per bulan.
Kondisi hidup yang demikian membuatnya juga tidak jarang harus tidur beralas kerikil di tempat kerja. Tak hanya itu, karena kondisi tersebut ia sering tidur dengan mengenakan pakaian yang ia kenakan saat bekerja.
Pada satu titik, Al Rajhi juga pernah bekerja sebagai juru masak di salah satu hotel di Riyadh dan pelayan di salah satu perusahaan kontraktor Saudi dengan bayaran 60 rial sebulan.
Setelah mempunyai tabungan dari hasil jerih payahnya, Al Rajhi banting setir menjadi pedagang grosir minyak tanah impor. Ia kemudian membuka toko kelontong sendiri untuk melancarkan bisnisnya.
Namun, itu tak berlangsung lama. Pada saat berusia 15 tahun, ia memutuskan untuk menjual tokonya. Langkah tersebut dilakukan terkait keputusannya untuk menikah. Ia memerlukan banyak uang untuk biaya pernikahan sehingga harus menjual tokonya dan menguras tabungannya.
Usai menikah, Sulaiman bekerja di perusahaan penukaran uang milik saudaranya Saleh Al Rajhi. Kolaborasi Al Rajhi dan saudaranya itu membuahkan hasil gemilang. Berkat kerja sama mereka berdua, usaha jasa penukaran uang berkembang pesat.
Mereka memutuskan untuk membuka cabang baru demi menopang perkembangan usaha tersebut. Namun, perkembangan itu tak lantas membuat Al Rajhi berpuas diri.
Pada 1970, Al Rajhi memutuskan untuk mencari tantangan baru; berpisah dengan saudaranya dan kemudian membuka perusahaan penukaran uang sendiri.
Berkat Kepiawaiannya, bisnis tersebut membuat usahanya berkembang pesat. Hanya dalam waktu singkat, ia berhasil mengembangkan usaha penukaran uang yang dikembangkannya menjadi 30 cabang yang tersebar di seluruh Arab Saudi.
Bahkan, ia berhasil melebarkan sayap usahanya ke beberapa negara Arab, seperti Mesir dan Lebanon. Setelah sukses dengan pengembangan jasa penukaran uang itu, pada 1978, Al Rajhi kemudian kembali berkolaborasi dengan ketiga saudara; Saleh Al Rajhi, Mohammed Al Rajhi dan Abdullah Al Rajhi membentuk payung Perusahaan Perdagangan dan Penukaran Al Rajhi.
Setelah dua tahun berjalan, perusahaan tersebut berubah nama jadi Al Rajhi Banking and Investment, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Al Rajhi Bank, salah satu bank syariah terbesar di dunia.
Bank tersebut tumbuh besar hingga memiliki 600 cabang yang tersebar di Arab Saudi, Kuwait, Yordania hingga Malaysia dan memiliki aset hingga US$88 miliar.
Kegemilangan kinerja banknya tersebut membuat kekayaannya melejit. Berdasarkan catatan Forbes, kekayaan Al Rajhi pada 2011 kemarin tembus US$7,7 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp14.674 per dolar AS, kekayaan itu tembus Rp112,9 triliun.
Namun, pada 2015 kekayaan itu turun menjadi tinggal US$2,1 miliar atau Rp30,8 triliun. Penurunan kekayaan terjadi setelah 2011 lalu, Al Rajhi menyatakan komitmennya untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal, mendanai upaya pengentasan kelaparan dan pendidikan di Arab Saudi.
Puncak dari komitmen itu, ia mentransfer 20 persen sahamnya di Al-Rajhi Bank pada 2013 lalu ke lembaga amal.
Karena amalnya tersebut, Al Rajhi harus rela terlempar dari daftar orang kaya versi Forbes.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Undangan Pemerintah Arab dan Hiburan Tak Sesuai Syariat Islam
Kekayaan yang melimpah tak membuat Sulaiman Al Rajhi lupa diri dan melupakan agama. Bahkan ketika harus berhadapan dengan pemerintah Arab. (Rafael Henrique/SOPA Images/LightRocket via Getty Images).
Mengutip Arabnews.com, Al Rajhi bercerita bagaimana ia akhirnya bisa kaya dari bisnis perbankan dan mengamalkan seluruh hartanya. Ia mengatakan usaha jasa penukaran uang yang pernah dilakoninya bersama dengan saudaranya merupakan godaan terjun ke bisnis tersebut.
Selain itu, ketiadaan lembaga keuangan syariah juga menjadi faktor pendorong utama. Ia mengakui tidak mudah memang meyakinkan semua orang soal bank syariah.
Maklum, percobaan pertama yang ia lakukan dalam mendirikan bank syariah dimulai dari Inggris. Saat itu kenangnya, permohonan untuk mendirikan bank syariah banyak mendapat penolakan dari otoritas perbankan setempat.
"Ini karena para pejabat Inggris yang bersangkutan tidak tahu apa-apa tentang perbankan Islam," katanya.
Tak mau menyerah, ia akhirnya terbang ke London untuk menemui manajer Bank of England dan dua wakilnya guna meyakinkan mereka bahwa bank syariah dapat membantu memperkuat ekonomi dunia.
"Saya bilang ke mereka Muslim dan Kristen menganggap bunga sebagai hal yang haram, umat Islam dan Kristen tidak mau melakukan transaksi dengan bank berdasarkan bunga dan lebih memilih untuk menyimpan uang tunai dan barang berharga lainnya di dalam kotak di rumah mereka," katanya.
Upayanya membuahkan hasil. Ia akhirnya berhasil meyakinkan otoritas dan berhasil mendapatkan izin mendirikan bank syariah di Inggris.
"Dengan rahmat Allah, perbankan Islam berhasil terlaksana dalam satu tahun. Mereka memuji saya atas inisiatif tersebut. Kami mulai mengimplementasikan proyek secara agresif dan itu dalam bentuk Bank Al-Rajhi seperti yang Anda lihat sekarang," katanya.
Kesuksesan di sektor perbankan tak membuat Al Rajhi berpuas diri. Ia melebarkan usaha ke sektor perunggasan dengan mendirikan Al-Watania Poultry.
Ide mendirikan usaha perunggasan itu muncul setelah kunjungannya ke proyek unggas di luar negeri. Saat kunjungan, ia melihat cara menyembelih ayam tidak benar sesuai syariat Islam.
"Kemudian saya memutuskan untuk berinvestasi di bidang perunggasan setelah menganggapnya sebagai kewajiban agama dan bangsa. Saya memulai proyek tersebut meskipun melakukan investasi pada unggas melibatkan risiko tinggi pada masa itu," katanya.
Kini Al-Watania telah menjadi perusahaan penting yang berperan penting dalam mencapai ketahanan pangan dalam banyak hal di Saudi. Perusahaan berhasil menguasai 40 persen pangsa pasar di Kerajaan.
Maklum, dalam menjalankan bisnis perunggasan, Al Rajhi selalu memberikan makanan ternaknya secara alami. Tak hanya itu dalam proses penyembelihan, itu semua dilakukan juga sesuai dengan syariat Islam.
[Gambas:Photo CNN]
Undangan Pemerintah Arab dan hiburan tak sesuai tradisi Islam
Meskipun menjadi pengusaha yang kaya raya, Al Rajhi tidak lupa diri. Ia tetap menganggap semua kekayaan yang dimilikinya adalah anugerah Allah yang harus dijaga jangan sampai dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.
Layaknya orang kaya yang punya banyak harta dan bisa membeli apa-apa, Al Rajhi justru memilih untuk tetap hidup sederhana. Ia tidak mau memiliki pesawat pribadi.
Dalam berpergian pun, ia lebih menaiki pesawat kelas ekonomi. Selain itu, Al Rajhi juga tidak punya kesenangan berwisata.
"Saya bukan orang kikir. Saya orang yang waspada dengan pemborosan dengan keyakinan bahwa Allah menganugerahkan kekayaan kepada kita bukan untuk menunjukkan kesombongan atau pemborosan tetapi untuk menangani kekayaan sebagai harta yang dipercaya," katanya.
Karena itulah, kemudian ia bertekad untuk mengamalkan uangnya supaya lebih bermanfaat.
Karena keyakinan agama yang kuat itu juga, Al Rajhi selalu memegang prinsip hidupnya dengan kuat. Meskipun itu harus berhadapan dengan pemerintah Arab.
Ia bercerita suatu hari pernah mendapat undangan konferensi investasi dari pemerintah Arab. Di sela-sela konferensi, ia diundang ke jamuan makan malam. Namun, saat datang ke acara makan malam itu ternyata ada hiburan yang bertentangan dengan agamanya.
"Saya segera keluar dari tempat itu dan Abdul Aziz Al-Ghorair dari UEA juga bergabung dengan saya. Segera menteri yang berkuasa penuh mendatangi kami bertanya. Kami menjelaskan kepadanya bahwa hiburan yang ditampilkan bertentangan dengan tradisi Islam kami. Jadi dia memberi tahu kami bahwa pesta rekreasi akan dibatalkan. Ketika mereka membatalkan pesta itu, kami ikut serta dalam makan malam," katanya.
Namun, ia tak merinci hiburan apa yang dimaksudnya tersebut.
[Gambas:Video CNN]