Amankah Pasokan RI meski India Setop Ekspor Beras?
tim | CNN Indonesia
Rabu, 26 Jul 2023 07:34 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
India menghentikan ekspor beras demi menjaga pasokan dalam negeri. Meski demikian, Indonesia tak perlu risau mengingat setok beras dalam negeri cukup aman. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indiaresmi menghentikan ekspor beras sejak 20 Juli 2023 demi mengamankan cadangan dalam negeri.
Kebijakan serupa juga diterapkan oleh Vietnam yang memangkas ekspor beras sebesar 44 persen. Kendati, Vietnam baru akan menerapkan kebijakan tersebut pada 2030.
Keputusan India dan Vietnam jelas akan mengkhawatirkan, mengingat dua negara tersebut masuk dalam lima importir terbesar Indonesia.
Kendati demikian, Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menyatakan kebijakan larangan ekspor beras India tersebut tak akan berpengaruh signifikan terhadap stabilitas pangan Tanah Air. Sebab, stok beras pemerintah cukup banyak.
"Kita akan pastikan bahwa Indonesia memiliki stok yang cukup, hitungannya carry over dari 2022 ke 2023 itu ada sekitar 4 juta ton, kemudian dari amatan KSA (Kerangka Sampel Area) kita punya produksi lebih dari 2,8 juta ton amatan bulan Mei, jadi kita optimis beras aman," kata Arief melalui keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com.
Adapun target produksi beras dalam negeri mencapai 30 juta ton. Saat ini stok Bulog berada di angka 735 ribu ton ditambah realisasi importasi sekitar 500 ribu ton karena masih dilakukan penyerapan dari dalam negeri.
Selain itu, pemerintah melalui Perum Bulog juga mempersiapkan impor untuk memenuhi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak dua juta ton dari beberapa negara, tidak termasuk India.
Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal mengatakan India hanya salah satu sumber beras impor Indonesia. Mayoritas beras impor Indonesia berasal dari Thailand dan Vietnam.
Berdasarkan data BPS, impor beras Indonesia pada 2021 paling banyak dari India mencapai 215,38 ribu ton. Kemudian disusul oleh Thailand sebesar 69,36 ribu ton dan Vietnam sebanyak 65,69 ribu ton.
Pada 2022 posisi tak banyak berubah, impor utama beras Indonesia berasal dari India sebanyak 178,53 ribu ton, lalu diikuti oleh Pakistan sebanyak 84,4 ribu ton dan Vietnam sebanyak 81,82 ribu ton.
Sedangkan Thailand bergeser ke posisi keempat dengan total impor sebanyak 80,18 ribu ton sepanjang tahun lalu.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance Indef Rusli Abdullah membenarkan jika kebijakan India tak akan berdampak banyak pada pasokan beras Indonesia.
Pasalnya, tak semua beras yang dikirim ke Tanah Air untuk stok pemerintah. Sebagian dari beras impor adalah beras khusus yang dipasok untuk perusahaan swasta, seperti beras basmati.
"Selama ini beras kita surplus, beras umum ya bukan beras khusus. Jadi memang beras umum yang digunakan masyarakat itu kita surplus sejak 2018," jelas Rusli.
Menurutnya, untuk beras umum yang selama ini menjadi tugas Bulog untuk stabilisasi harga dan stoknya sangat aman karena surplus.
Walaupun ada impor itu hanya memenuhi mandat untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan itu pun hanya sedikit dari India.
"Kita nggak impor beras umum dari India ataupun Vietnam, kalaupun ada impor kecil, makanya pengaruhnya nggak langsung," imbuhnya.
Rusli menilai saat ini yang lebih berdampak pada kenaikan harga beras adalah kekhawatiran akan el nino. Sehingga inilah yang perlu dicari pemerintah cara untuk mengatasinya.
"Harga beras domestik kenaikannya lebih didorong karena kekhawatiran el nino bukan karena India dan Vietnam stop ekspor beras mereka," jelasnya.
Senada, Pengamat Pertanian dari IPB Dwi Andreas Santosa juga menyatakan dampak pelarangan ekspor beras India tak terlalu besar ke Indonesia.
Sebab, beras yang diimpor dari India kebanyakan khusus untuk restoran, ataupun digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan tepung.
"Impor dari India relatif kecil dan dalam bentuk menir yang memang terbesar sana. Jadi nggak akan terlalu berpengaruh terhadap stok beras di Indonesia," jelasnya.
Menurutnya, saat ini cadangan beras pemerintah di Perum Bulog masih besar. Apalagi pada akhir 2022 lalu sudah disepakati untuk impor beras sebanyak satu juta ton dan sudah masuk sekitar 500 ribu ton untuk menambah cadangan beras umum.
Oleh karena itu, ia memperkirakan harga beras sepanjang 2023 ini akan relatif stabil.
Hal ini tercermin dari harga beras di masyarakat masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp13.900 per kilogram (kg).
"Perhitungan saya harga beras 2023 relatif stabil, paling nanti akhir tahun naik tapi nggak terlalu besar karena harga beras di masyarakat stabil dan hampir semua di bawah HET Rp13.900, rata-rata masih (jual) Rp13.500 dan Rp13 ribu," imbuhnya.
Kendati demikian, ia meminta pemerintah untuk mengantisipasi dampak el nino. Meski tak berdampak besar, setidaknya ia melihat produksi beras bisa turun hingga 5 persen akibat el nino ini.
Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah bisa menjaga pasokan air untuk petani, khususnya wilayah-wilayah tertentu yang memang selama ini membutuhkan pengairan. Caranya, dengan memberikan insentif berupa gratis solar untuk menghidupkan mesin perairan di desa-desa tersebut.
"Itu nggak akan mahal biayanya menggratiskan solar untuk wilayah tertentu, paling sekitar Rp300 miliar tapi akan sangat membantu untuk pengairan," jelasnya.
Selain itu, ia meminta pemerintah juga untuk memperhatikan ketersediaan pupuk di petani dengan memastikan subsidi tepat sasaran.
Indiaresmi menghentikan ekspor beras sejak 20 Juli 2023 demi mengamankan cadangan dalam negeri.
Kebijakan serupa juga diterapkan oleh Vietnam yang memangkas ekspor beras sebesar 44 persen. Kendati, Vietnam baru akan menerapkan kebijakan tersebut pada 2030.
Keputusan India dan Vietnam jelas akan mengkhawatirkan, mengingat dua negara tersebut masuk dalam lima importir terbesar Indonesia.
Kendati demikian, Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menyatakan kebijakan larangan ekspor beras India tersebut tak akan berpengaruh signifikan terhadap stabilitas pangan Tanah Air. Sebab, stok beras pemerintah cukup banyak.
"Kita akan pastikan bahwa Indonesia memiliki stok yang cukup, hitungannya carry over dari 2022 ke 2023 itu ada sekitar 4 juta ton, kemudian dari amatan KSA (Kerangka Sampel Area) kita punya produksi lebih dari 2,8 juta ton amatan bulan Mei, jadi kita optimis beras aman," kata Arief melalui keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com.
Adapun target produksi beras dalam negeri mencapai 30 juta ton. Saat ini stok Bulog berada di angka 735 ribu ton ditambah realisasi importasi sekitar 500 ribu ton karena masih dilakukan penyerapan dari dalam negeri.
Selain itu, pemerintah melalui Perum Bulog juga mempersiapkan impor untuk memenuhi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak dua juta ton dari beberapa negara, tidak termasuk India.
Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal mengatakan India hanya salah satu sumber beras impor Indonesia. Mayoritas beras impor Indonesia berasal dari Thailand dan Vietnam.
Berdasarkan data BPS, impor beras Indonesia pada 2021 paling banyak dari India mencapai 215,38 ribu ton. Kemudian disusul oleh Thailand sebesar 69,36 ribu ton dan Vietnam sebanyak 65,69 ribu ton.
Pada 2022 posisi tak banyak berubah, impor utama beras Indonesia berasal dari India sebanyak 178,53 ribu ton, lalu diikuti oleh Pakistan sebanyak 84,4 ribu ton dan Vietnam sebanyak 81,82 ribu ton.
Sedangkan Thailand bergeser ke posisi keempat dengan total impor sebanyak 80,18 ribu ton sepanjang tahun lalu.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance Indef Rusli Abdullah membenarkan jika kebijakan India tak akan berdampak banyak pada pasokan beras Indonesia.
Pasalnya, tak semua beras yang dikirim ke Tanah Air untuk stok pemerintah. Sebagian dari beras impor adalah beras khusus yang dipasok untuk perusahaan swasta, seperti beras basmati.
"Selama ini beras kita surplus, beras umum ya bukan beras khusus. Jadi memang beras umum yang digunakan masyarakat itu kita surplus sejak 2018," jelas Rusli.
Menurutnya, untuk beras umum yang selama ini menjadi tugas Bulog untuk stabilisasi harga dan stoknya sangat aman karena surplus.
Walaupun ada impor itu hanya memenuhi mandat untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan itu pun hanya sedikit dari India.
"Kita nggak impor beras umum dari India ataupun Vietnam, kalaupun ada impor kecil, makanya pengaruhnya nggak langsung," imbuhnya.
Rusli menilai saat ini yang lebih berdampak pada kenaikan harga beras adalah kekhawatiran akan el nino. Sehingga inilah yang perlu dicari pemerintah cara untuk mengatasinya.
"Harga beras domestik kenaikannya lebih didorong karena kekhawatiran el nino bukan karena India dan Vietnam stop ekspor beras mereka," jelasnya.
Waspadai el nino, pemerintah diminta jaga pasokan air petani
India menghentikan ekspor beras demi menjaga pasokan dalam negeri. Meski demikian, Indonesia tak perlu risau mengingat setok beras dalam negeri cukup aman. (iStockphoto/subodhsathe)
Senada, Pengamat Pertanian dari IPB Dwi Andreas Santosa juga menyatakan dampak pelarangan ekspor beras India tak terlalu besar ke Indonesia.
Sebab, beras yang diimpor dari India kebanyakan khusus untuk restoran, ataupun digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan tepung.
"Impor dari India relatif kecil dan dalam bentuk menir yang memang terbesar sana. Jadi nggak akan terlalu berpengaruh terhadap stok beras di Indonesia," jelasnya.
Menurutnya, saat ini cadangan beras pemerintah di Perum Bulog masih besar. Apalagi pada akhir 2022 lalu sudah disepakati untuk impor beras sebanyak satu juta ton dan sudah masuk sekitar 500 ribu ton untuk menambah cadangan beras umum.
Oleh karena itu, ia memperkirakan harga beras sepanjang 2023 ini akan relatif stabil.
Hal ini tercermin dari harga beras di masyarakat masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp13.900 per kilogram (kg).
"Perhitungan saya harga beras 2023 relatif stabil, paling nanti akhir tahun naik tapi nggak terlalu besar karena harga beras di masyarakat stabil dan hampir semua di bawah HET Rp13.900, rata-rata masih (jual) Rp13.500 dan Rp13 ribu," imbuhnya.
Kendati demikian, ia meminta pemerintah untuk mengantisipasi dampak el nino. Meski tak berdampak besar, setidaknya ia melihat produksi beras bisa turun hingga 5 persen akibat el nino ini.
Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah bisa menjaga pasokan air untuk petani, khususnya wilayah-wilayah tertentu yang memang selama ini membutuhkan pengairan. Caranya, dengan memberikan insentif berupa gratis solar untuk menghidupkan mesin perairan di desa-desa tersebut.
"Itu nggak akan mahal biayanya menggratiskan solar untuk wilayah tertentu, paling sekitar Rp300 miliar tapi akan sangat membantu untuk pengairan," jelasnya.
Selain itu, ia meminta pemerintah juga untuk memperhatikan ketersediaan pupuk di petani dengan memastikan subsidi tepat sasaran.