Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah konglomerat dalam negeri, seperti Sugianto Kusuma alias Aguan, mulai berminat berpartisipasi dalam proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Badan Otorita IKN mengklaim sembilan dari 270 investor yang berminat investasi, akan meneken kesepakatan dalam waktu dekat.
Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otorita IKN Nusantara Agung Wicaksono menyebut Aguan melalui Agung Sedayu akan berinvestasi sekitar Rp20 triliun untuk sektor hiburan atau play di IKN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau yang dari swasta, tadi sudah ada Rp20 triliun. Ini mainly play, play artinya entertainment, hotel dan lain sebagainya, termasuk ruang terbuka hijau," katanya di sela acara ASEAN Investment Summit 2023 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (3/9).
Selain dari Agung Sedayu, Agung juga menyebut nama-nama developer domestik ternama di antaranya Summarecon, PT Intiland Development Tbk, hingga Ciputra Group.
Para hartawan itu rencananya akan membangun 200 tower rumah susun atau rusun di ibu kota baru. Selain nama-nama besar tadi, nama miliarder Sukanto Tanoto juga disebut bakal masuk di proyek IKN.
Namun, detail proyek apa saja yang akan dibangun Sukanto di IKN belum diketahui. Hanya saja, investasi itu berhubungan dengan fasilitas umum seperti entertainment hingga perhotelan.
Agung menjelaskan saat ini sedang dilakukan feasibility study atau studi kelayakan atas proyek tersebut.
Pada kesempatan itu ia menjelaskan pembangunan IKN banyak menggunakan skema KPBU yang jumlahnya sekitar 52 persen. Sedangkan sisanya berasal dari APBN dan investasi swasta murni.
"Kalau tidak salah IKN itu US$32 miliar, atau Rp500 triliun. Itu kan 20 persennya APBN negara. Banyak untuk yang (proyek) work tadi. Tapi kemudian 52 persen itu adalah KPBU, dan banyak di (proyek) live. Nah kemudian yang (proyek) play itu adalah swasta, murni investasinya. Jadi ada 3, APBN, KPBU dan swasta," ungkapnya.
Munculnya beberapa nama investor kakap Tanah Air ini bisa dibilang buah dari upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) merangkul mereka untuk bergabung membangun IKN.
Tak hanya investor dalam negeri, Jokowi juga getol membujuk investor global untuk menanamkan modal di proyek kebanggannya itu.
Tengoklah, pemerintah sempat menjajal kerja sama dengan Kerajaan Arab Saudi terkait investasi di IKN. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian terkait hal tersebut.
Jokowi juga terbang ke Singapura dan menawarkan 300 paket investasi dengan total nilai mencapai US$2,6 miliar atau Rp38,68 triliun (kurs Rp14.880 per dolar AS) untuk proyek IKN pada Juni lalu.
Selang satu bulan, Jokowi meluncur ke China. Di sana, ia bertemu dengan pimpinan sejumlah perusahaan Negeri Tirai Bambu. Kepala negara lantas menawarkan pengusaha China investasi di 34 ribu hektare (ha) lahan yang sudah siap di IKN.
Dari sejumlah upaya Jokowi tersebut, tentu masuknya para konglomerat Tanah Air bukan tanpa alasan.
Direktur Center of Law and Economic Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai masuknya konglomerat sebagai investor di IKN lebih ditujukan sebagai business guarantee.
"Ini untuk pancingan saja, bahwa pelaku usaha domestik terlibat di IKN. Sebagai signaling dalam rangka menarik investor asing yang lebih kakap," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (5/9).
Apalagi, mengajak investor lokal memang lebih realistis. Sebab, investor asing pertimbangannya lebih banyak.
Bhima berpendapat investor asing ada yang khawatir soal risiko politik. Maklum, pasca pemilu bisa saja proyek IKN tidak berlanjut.
Ada juga investor asing yang melihat kondisi makro-ekonomi global kurang mendukung, suku bunga mahal, hingga risiko geopolitik tinggi. Dengan kata lain, ada kehati-hatian dalam masuk proyek infrastruktur.
Bhima mengatakan sebagian investor asing lainnya pun punya standar ketat dalam menanam modalnya. Misalnya, dari sisi lingkungan mereka akan bertanya soal deforestasi di lokasi IKN.
"Dampak sosialnya bagaimana jangan sampai proyeknya tidak lolos standar ESG (environment, social, governance). Kalau konglomerat lokal mungkin agak lebih longgar ya dengan standar-standar tadi," imbuhnya.
Bersambung ke halaman berikutnya
Bisakah investasi pengusaha dalam negeri menarik minat para investor asing?
Masuknya pengusaha dalam negeri di proyek IKN belum tentu bisa menggaet investor asing. Hal itu tergantung pada seberapa besar realisasi proyek yang dilakukan. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Terkait seberapa efektif masuknya investor kakap dalam negeri untuk menggaet investor lain, Bhima mengatakan hal itu tergantung pada seberapa besar realisasi proyek yang dilaksanakan.
Pasalnya, kalau minta investasi Aguan cs masih berbentuk komitmen alias belum ada realisasinya, maka magnet penarik investor lainnya pun kurang kuat.
Menurut Bhima, para investor di luar sana baru akan tertarik jika investasi dari Aguan cs sudah terealisasi dengan jelas. Di samping itu, para investor juga masih mewaspadai tahun politik di Indonesia.
"Tunggu pemilu selesai," kata Bhima.
Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda berpendapat investor asing tampaknya tidak terlalu melihat faktor investasi Aguan cs.
"Karena mereka melihat keberlangsungan project dan expected gain ke depan," kata dia.
Sementara, investor dalam negeri mungkin masuk tapi nilainya tidak akan besar karena keterbatasan modal.
Nailul juga menyebut proses investasi Aguan masih tahap feasibility study. Artinya, kelanjutan investasi Aguan cs biasa batal juga seperti investor lainnya.
Ia mengatakan langkah Aguan cs yang bergabung ke IKN bisa dilihat dari dua hal.
Pertama, akhirnya ada investor swasta yang bangun fasilitas di IKN.
Kedua, apakah nantinya ada "deal" tersembunyi antara Aguan cs dengan pemerintah.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar hak guna bangunan harus dilihat secara cermat harga dan waktunya. Kemudian, investasi di sektor play akan dibarengi dengan pembangunan perumahan sebagai infrastruktur inti IKN.
"Harus bisa dilihat harga dan sebagainya agar tidak memberatkan ASN ataupun pegawai yang nantinya akan pindah ke IKN," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]