Liu Yongxing, Buruh Tani Berharta Rp155 T dari Bisnis Burung Puyuh Cs
Agus Triyono | CNN Indonesia
Minggu, 26 Nov 2023 08:24 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Liu Yongxing yang masa kecil dan remajanya pernah menjadi buruh tani menjelma menjadi salah satu orang terkaya di China dan dunia dengan kekayaan Rp155 triliun. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani).
Hal itu juga yang berlaku pada Liu Yongxing. Pernah menjadi buruh tani pada masa kecilnya, ia kini menjelma menjadi orang yang kaya raya.
Catatan Forbes, total kekayaannya mencapai US$10 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp15.532 per dolar AS, kekayaan Yongxing tembus Rp155,33 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekayaan itu membuatnya menjadi orang terkaya nomor 192 di dunia dan 25 di China.
Lalu siapa sebenarnya Liu Yongxing dan apa usahanya sehingga ia bisa menjelma dari buruh tani menjadi orang kaya?
Mengutip berbagai sumber, Yongxing lahir di Sichiuan, China pada Juni 1948 lalu. Ia sebenarnya berasal dari keluarga tuan tanah yang kaya raya.
Namun, latar belakang keluarga yang kontrarevolusioner membuatnya hidup dalam masalah, terutama saat China dilanda Revolusi Kebudayaan.
Pasalnya, karena cap itu, ayahnya harus dihukum oleh pemerintah dan dimasukkan ke 'Kamp Pendidikan'. Masalah yang sama juga menimpa ibunya.
Karena masalah itu, ia harus menjalani masa hidup yang berat. Yongxing harus menghadapi cemoohan dan dikucilkan banyak orang.
Tak hanya itu, ia dan saudara-saudaranya harus bekerja sebagai buruh tani di perkebunan dan industri milik pemerintah. Namun, masalah hidup itu tak membuat Liu Yongxingdan saudara-saudaranya putus asa.
Ia tetap rajin belajar supaya bisa mendapatkan ilmu pengetahuan untuk meneruskan hidup. Pada 1978, ia berhasil diterima belajar jurusan teknik di perguruan tinggi di daerahnya.
Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi itulah semangat Liu Yongxing dan saudara-saudaranya untuk bermimpi menjadi orang kaya raya menguat.
Setelah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, Liu dan saudaranya langsung mendirikan perusahaan di bidang elektronik. Tapi apa daya, dewi fortuna belum berpihak kepada Liu bersaudara.
Usaha itu langsung bangkrut. Hal itu dipicu cap 'kapitalis' yang diberikan oleh pejabat Partai Komunis China kepada perusahaannya. Karena label tersebut, Liu dan saudaranya tidak bisa memiliki pabrik atau menjalankan bisnis elektronik karena orang China saat itu didorong menjadi pengusaha sosialis bukan kapitalis.
Namun, kekangan itu tak mengendurkan langkah mereka. Segera setelah itu, ia dan saudara-saudaranya mengumpulkan modal untuk mendirikan usaha baru pada 1982.
Mereka menggadaikan semua barang yang dimiliki dan berhasil mengumpulkan modal US$120. Uang itu mereka pakai untuk memulai usaha peternakan burung puyuh di Gujia, salah satu desa yang sangat miskin di timur laut Chengdu.
Tidak ada listrik maupun air mengalir di sana. Rumah pun hanya berubah gubuk kecil yang dibangun dari lumpur dan rumput. Tapi itu tak mengendurkan semangat mereka.
Liu Yongxing justru menilai itu bagus untuk beternak puyuh. Pasalnya, burung puyuh tidak perlu banyak pakan.
Aksi mereka itu tiba-tiba diikuti penduduk desa lain. Mereka ikut beternak burung puyuh. Karena itulah, Gujia kemudian terkenal sebagai sentra penghasil telur puyuh.
Pelanggan dari kota besar China mengantre untuk membeli telur puyuh. Usaha Liu Yongxing dan saudaranya pun berkembang pesat.
Pada akhir 1980-an, bisnis telur puyuh mereka berhasil memproduksi 10 juta telur puyuh per hari. Kapasitas produksi itu menjadikan perusahaan mereka yang terbesar di dunia.
Keberhasilan itu menarik perhatian pejabat partai setempat. Ia diberi penghargaan sampai 10 ribu RMB karena dianggap menjadi teladan bagi pengusaha sosialis China dalam mengumpulkan mata uang China.
Kebetulan sektor tersebut belum banyak dilirik. Peternak saat itu hanya memberi makan ternak mereka dengan sisa makanan atau sampah.
Dengan meniru Charoen Pokhpand Group, produsen makanan ternak dari Thailand, mereka belajar membuat produk makanan ternak berkualitas.
Setelah itu mereka memasarkan produk itu ke masyarakat. Harga pakan yang dijual lebih murah dari buatan Charoen Pokhpand pun membuat pemasaran itu sukses.
Usaha makan ternak yang dirintis Liu Yongxin dan saudaranya kembali mencetak hasil gemilang. Pasar pakan ternak di China berhasil mereka rajai.
Berkait keberhasilan usaha itu, Song Jian, seorang pejabat Partai Komunis China yang sedang berkuasa saat itu, mengunjungi pabriknya sembari mengatakan masa depan reformasi ekonomi China bergantung pada pengusaha seperti Liu Yongxing dan saudaranya.
Liu Yongxing mengatakan pernyataan itu menguntungkan perusahaannya. Setelah itu, hampir semua pejabat di Sichuan datang ke pabriknya.
Atas dasar itulah kemudian ia dan saudaranya memberikan nama perusahaan 'Hope Group'.
"Itu seperti iklan besar bagi kami," katanya seperti dikutip dariNew York Times.
Pada 1992, Hope Group membesar. Liu Yongxing memutuskan untuk membaginya menjadi empat perusahaan sehingga setiap orang bisa mengejar kepentingan dan mimpinya sendiri dan mendiversifikasi kekayaan keluarga.
Usai pembagian itu, Liu Yongxing pindah ke Shanghai dan membuka bisnis baru di bidang aluminium, pembangkit listrik dan sektor keuangan. Dari bisnis inilah, kekayaan Liu YongXing kian melesat.
Hal itu juga yang berlaku pada Liu Yongxing. Pernah menjadi buruh tani pada masa kecilnya, ia kini menjelma menjadi orang yang kaya raya.
Catatan Forbes, total kekayaannya mencapai US$10 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp15.532 per dolar AS, kekayaan Yongxing tembus Rp155,33 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekayaan itu membuatnya menjadi orang terkaya nomor 192 di dunia dan 25 di China.
Lalu siapa sebenarnya Liu Yongxing dan apa usahanya sehingga ia bisa menjelma dari buruh tani menjadi orang kaya?
Mengutip berbagai sumber, Yongxing lahir di Sichiuan, China pada Juni 1948 lalu. Ia sebenarnya berasal dari keluarga tuan tanah yang kaya raya.
Namun, latar belakang keluarga yang kontrarevolusioner membuatnya hidup dalam masalah, terutama saat China dilanda Revolusi Kebudayaan.
Pasalnya, karena cap itu, ayahnya harus dihukum oleh pemerintah dan dimasukkan ke 'Kamp Pendidikan'. Masalah yang sama juga menimpa ibunya.
Karena masalah itu, ia harus menjalani masa hidup yang berat. Yongxing harus menghadapi cemoohan dan dikucilkan banyak orang.
Tak hanya itu, ia dan saudara-saudaranya harus bekerja sebagai buruh tani di perkebunan dan industri milik pemerintah. Namun, masalah hidup itu tak membuat Liu Yongxingdan saudara-saudaranya putus asa.
Ia tetap rajin belajar supaya bisa mendapatkan ilmu pengetahuan untuk meneruskan hidup. Pada 1978, ia berhasil diterima belajar jurusan teknik di perguruan tinggi di daerahnya.
Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi itulah semangat Liu Yongxing dan saudara-saudaranya untuk bermimpi menjadi orang kaya raya menguat.
Setelah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, Liu dan saudaranya langsung mendirikan perusahaan di bidang elektronik. Tapi apa daya, dewi fortuna belum berpihak kepada Liu bersaudara.
Usaha itu langsung bangkrut. Hal itu dipicu cap 'kapitalis' yang diberikan oleh pejabat Partai Komunis China kepada perusahaannya. Karena label tersebut, Liu dan saudaranya tidak bisa memiliki pabrik atau menjalankan bisnis elektronik karena orang China saat itu didorong menjadi pengusaha sosialis bukan kapitalis.
Namun, kekangan itu tak mengendurkan langkah mereka. Segera setelah itu, ia dan saudara-saudaranya mengumpulkan modal untuk mendirikan usaha baru pada 1982.
Mereka menggadaikan semua barang yang dimiliki dan berhasil mengumpulkan modal US$120. Uang itu mereka pakai untuk memulai usaha peternakan burung puyuh di Gujia, salah satu desa yang sangat miskin di timur laut Chengdu.
Tidak ada listrik maupun air mengalir di sana. Rumah pun hanya berubah gubuk kecil yang dibangun dari lumpur dan rumput. Tapi itu tak mengendurkan semangat mereka.
Liu Yongxing justru menilai itu bagus untuk beternak puyuh. Pasalnya, burung puyuh tidak perlu banyak pakan.
Aksi mereka itu tiba-tiba diikuti penduduk desa lain. Mereka ikut beternak burung puyuh. Karena itulah, Gujia kemudian terkenal sebagai sentra penghasil telur puyuh.
Pelanggan dari kota besar China mengantre untuk membeli telur puyuh. Usaha Liu Yongxing dan saudaranya pun berkembang pesat.
Pada akhir 1980-an, bisnis telur puyuh mereka berhasil memproduksi 10 juta telur puyuh per hari. Kapasitas produksi itu menjadikan perusahaan mereka yang terbesar di dunia.
Keberhasilan itu menarik perhatian pejabat partai setempat. Ia diberi penghargaan sampai 10 ribu RMB karena dianggap menjadi teladan bagi pengusaha sosialis China dalam mengumpulkan mata uang China.
Mendapat Iklan Gratis dari Kunjungan Pejabat China
Bisnis yang didirikan oleh Liu Yongxing mendapatkan berkah besar dari iklan gratis yang terjadi imbas kedatangan pejabat China ke pabriknya. Ilustrasi. (Pezibear/Pixabay).
Kesuksesan itu semua tak membuat Liu Yongxing dan saudaranya lekas berpuas diri. Mereka berambisi melebarkan sayap usaha ke bisnis lain.
Dan angin segar mereka dapat untuk mewujudkan ambisi itu ketika mendengar adanya reformasi pasar yang dilakukan pemerintah China.
Imbas reformasi, sektor pertanian ditetapkan menjadi salah satu prioritas.
Mereka pun memanfaatkan momentum itu dengan membuka usaha di sektor pakan ternak.
Kebetulan sektor tersebut belum banyak dilirik. Peternak saat itu hanya memberi makan ternak mereka dengan sisa makanan atau sampah.
Dengan meniru Charoen Pokhpand Group, produsen makanan ternak dari Thailand, mereka belajar membuat produk makanan ternak berkualitas.
Setelah itu mereka memasarkan produk itu ke masyarakat. Harga pakan yang dijual lebih murah dari buatan Charoen Pokhpand pun membuat pemasaran itu sukses.
Usaha makan ternak yang dirintis Liu Yongxin dan saudaranya kembali mencetak hasil gemilang. Pasar pakan ternak di China berhasil mereka rajai.
Berkait keberhasilan usaha itu, Song Jian, seorang pejabat Partai Komunis China yang sedang berkuasa saat itu, mengunjungi pabriknya sembari mengatakan masa depan reformasi ekonomi China bergantung pada pengusaha seperti Liu Yongxing dan saudaranya.
Liu Yongxing mengatakan pernyataan itu menguntungkan perusahaannya. Setelah itu, hampir semua pejabat di Sichuan datang ke pabriknya.
Atas dasar itulah kemudian ia dan saudaranya memberikan nama perusahaan 'Hope Group'.
"Itu seperti iklan besar bagi kami," katanya seperti dikutip dariNew York Times.
Pada 1992, Hope Group membesar. Liu Yongxing memutuskan untuk membaginya menjadi empat perusahaan sehingga setiap orang bisa mengejar kepentingan dan mimpinya sendiri dan mendiversifikasi kekayaan keluarga.
Usai pembagian itu, Liu Yongxing pindah ke Shanghai dan membuka bisnis baru di bidang aluminium, pembangkit listrik dan sektor keuangan. Dari bisnis inilah, kekayaan Liu YongXing kian melesat.