Daftar 10 Bos Perusahaan yang Ketiban Sial di 2023
Mochammad Ryan Hidayatullah | CNN Indonesia
Sabtu, 30 Des 2023 06:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tahun ini menjadi awan gelap bagi sejumlah bos perusahaan besar karena beberapa usaha mereka hancur dan bahkan ada yang tersandung kasus hukum. ( AFP/BRENDAN SMIALOWSKI).
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi sebagian bos perusahaan raksasa, 2023 adalah tahun yang ingin segera mereka lupakan. Pasalnya, di 2023 sebagian para pengusaha mengalami rintangan berat dalam bisnis.
Tak berlebihan rasanya jika 2023 ditasbihkan sebagai tahun yang buruk, mengerikan, dan menakutkan. Pasalnya, ada sejumlah bos yang justru banyak ketiban sial pada tahun ini.
CNN Business pun mencatat ada 10 bos yang mengalami hal-hal buruk di 2023. Berikut daftarnya:
CEO Tesla Elon Musk sebenarnya cukup beruntung dibanding para bos di perusahaan lain. Maklum, saham Tesla meningkat dua kali lipat di 2023.
Di 2023 juga Tesla meluncurkan Cybertruck pertamanya setelah lama dijanjikan.
Namun, Tesla juga menghadapi banyak masalah di 2023. Perusahaan itu harus lela memotong harga demi meningkatkan penjualan di tengah persaingan dagang kendaraan listrik.
Hal ini pun menekan margin keuntungan Tesla. Meskipun Cybertruck sudah diproduksi, tapi Tesla diperkirakan baru bisa mendapat keuntungan satu tahun kemudian.
"Ini akan membutuhkan kerja keras untuk mencapai volume produksi dan menghasilkan arus kas positif dengan harga yang mampu dijangkau masyarakat," kata Musk Oktober lalu.
Selain itu, regulator keselamatan federal belakangan memaksa Tesla untuk menarik kembali lebih dari 2 juta kendaraan di AS butut penggunaan sistem autopilot yang mengancam keselamatan pengemudi.
Awal tahun ini, Tesla terpaksa menarik kembali hampir 363 ribu kendaraannya di AS yang dilengkapi dengan perangkat lunak bantuan pengemudi 'Full Self Driving'.
Selain Tesla, perusahaan milik Musk lainnya juga mengalami kesulitan pada 2023. Space X misalnya. Perusahaan eksplorasi ruang mengalami dua kali ledakan roket Startship.
Namun, perusahaan Musk yang mengalami hal paling buruk di 2023 adalah X. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter dan dibeli Musk pada akhir 2022 itu ditinggalkan para pengiklan.
Padahal, pengingklan ada sumber pendapatan utama dari perusahaan tersebut. Tercatat pada September lalu penjualan X anjlok 60 persen.
Perginya para pengiklan bukan tanpa alasan. Mereka mundur setelah Musk resmi membeli media sosial tersebut.
Para pengiklan menilai Musk cukup kontroversial. Contohnya, Musk kedapatan me-retweet dan mendukung postingan yang mengatakan bahwa komunitas Yahudi telah mendorong kebencian terhadap orang kulit putih.
Musk pun meminta maaf atas postingan tersebut. Namun, ia malah menantang para pengiklan yang mundur alih-alih memperbaiki hubungan.
Setahun lalu, Bob Iger dipuji karena kembali memegang Disney. Iger ditunjuk untuk menyelamatkan bisnis raksasa media itu yang sebelumnya terlilit masalah.
Kembalinya Iger pada awalnya tampaknya merupakan langkah kemenangan. Namun, ternyata masalah di Disney, termasuk kerugian pada layanan streaming Disney+, terus berlanjut.
Berbagai solusi yang ditawarkan Iger tak membuahkan hasil. Faktanya, kerugian pada layanan tersebut melonjak, membuat saham semakin anjlok.
Disney dan studio serta layanan streaming lainnya juga terkena pemogokan yang dilakukan oleh Writers Guild of America dan SAG-AFTRA, yang mewakili 160 ribu aktor. Dengan pemogokan itu, Disney menghentikan produksi film dan televisi.
Pemogokan tersebut akhirnya berakhir setelah hampir lima bulan dan serikat pekerja memenangkan banyak tuntutan mereka.
Greg Becker menghadapi masalah setelah Silicon Valley Bank (SVB) dinyatakan bangkrut pada Maret 2023 lalu.
Becker mengungkapkan bahwa bank tersebut menghadapi masalah likuiditas dan berharap dapat meningkatkan modal sebesar US$2,25 miliar, serta menjual aset senilai US$21 miliar. Hal ini pun memicu krisis dalam sistem perbankan di AS.
Runtuhnya bank pemberi modal startup itu terjadi usai perusahaan 48 jam mengalami krisis modal.
Regulator California akhirnya menutup bank ini dan menempatkan di bawah kendali Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) sebagai pihak yang melikuidasi aset-aset bank untuk membayar dana nasabah.
Sinyal runtuhnya perusahaan mulai terlihat pada 8 Maret 2023, ketika SVB mengumumkan mereka telah menjual banyak sekuritas yang merugi.
Hal ini memicu kepanikan di antara pemodal perusahaan ventura utama. Dilaporkan perusahaan pemodal ke bank tersebut melakukan penarikan dana dari SVB.
Esok harinya, pada 9 Maret 2023 nilai saham perusahaan pun jatuh, menyeret bank-bank lain untuk ikut jatuh. Lalu pada Jumat pagi, saham SVB dihentikan dan perusahaan ini meninggalkan upaya untuk meningkatkan modal atau mencari pembeli.
Beberapa saham bank lain juga dihentikan sementara, imbas penghentian jualan dari SVB seperti pada First Republic, PacWest Bancorp dan Signature Bank.
Hal itu disebutnya lantaran para deposan menarik uang dengan sangat cepat sehingga SVB bangkrut dan bank run tidak dapat dihindari.
Bank run adalah suatu peristiwa di mana banyak nasabah secara bersamaan menarik dana secara besar-besaran dan sesegera mungkin pada suatu bank.
Korner mendapat kesulitan hanya beberapa hari setelah kebangkrutan SVB. Pasalnya, bank investasi Swiss Credit Suisse miliknya ikut mengalami kesulitan modal.
Sebulan sebelum kesulitan tersebut, Credit Suisse melaporkan kinerja tahunan terburuknya sejak krisis keuangan global.
Harga saham Credit Suisse anjlok lebih dari 20 persen, 15 Maret 2023 lalu. Saham Credit Suisse ditutup setelah menukik ke posisi terendah 24,24 persen dalam sejarah.
Akibatnya, nilai perusahaan menurun di bawah US$7 miliar. Saham bank terbesar kedua di Swiss itu ambruk usai pemegang saham mayoritas menolak mengucurkan modal lagi untuk Credit Suisse.
Hal ini pun membuat investor panik. Pasalnya, selama berbulan-bulan mereka khawatir melihat kinerja buruk bank, sehingga mungkin harus meminta tambahan modal kepada para pemegang saham.
Krisis Credit Suisse bahkan menyebar ke saham perbankan Eropa lainnya, dengan bank-bank Prancis dan Jerman seperti BNP Paribas, Societe Generale, Commerzbank, dan Deutsche Bank turun antara 8 persen dan 10 persen.
Pada awal 2022, CEO Binance Changpeng Zhao adalah salah satu orang terkaya di planet ini menurut Indeks Miliarder Bloomberg. Tercatat saat itu ia memiliki kekayaan bersih hampir US$100 miliar.
Namun pada akhir 2023, ia mengaku bersalah atas tuduhan pencucian uang di AS. Binance setuju untuk membayar denda sebesar US$4 miliar.
Zhao sendiri membayar denda US$200 juta dan mengundurkan diri sebagai CEO pertukaran kripto yang ia dirikan itu.
Masalah Zhao masih jauh dari selesai. Dia terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara, meski hukuman akhirnya mungkin akan jauh lebih ringan.
Pedoman federal kemungkinan menetapkan hukuman tertinggi bagi Zhao, yaitu sekitar 18 bulan.
China Renaissance, sebuah bank investasi besar dan perusahaan ekuitas swasta yang berbasis di Beijing, mengungkapkan pada Februari 2023 bahwa mereka tidak dapat menghubungi CEO-nya, Bao Fan.
Bao Fan pun dinyatakan menghilang. Menghilangnya Bao Fan ini membuat geger para pemain bursa saham dan juga sektor teknologi China.
Saham di China Renaissance juga merosot hingga 20 persen sehingga mereka sempat disuspensi dari perdagangan bursa pada awal April.
Perusahaan juga menangguhkan perilisan laporan keuangan tahunan karena auditor tidak bisa mengontak Bao Fan.
Usut punya usut, pada Juni 2023, media pemerintah mengungkapkan bahwa Bao telah ditahan oleh badan pengawas anti-korupsi utama Negeri Tirai Bambu.
Menghilangnya Bao Fan juga bersamaan dengan aksi sapu-bersih korupsi yang diluncurkan Partai Komunis pada sektor keuangan. Para pengamat meyakini aksi ini merupakan salah satu cara baru Presiden Xi Jinping untuk menguatkan kekuasaannya di tengah berbagai ancaman domestik maupun di luar.
Penahanan Bao Fan ini juga terkait dengan kasus lain yang melibatkan Cong Ling, mantan presiden China Renaissance yang diangkat pada Juli 2020 lalu.
Cong Ling sebelumnya pernah menjabat beberapa posisi penting di bank negara terbesar di China, Commercial Bank of China (ICBC).
Dia ditahan sejak September 2-22 lalu oleh lembaga anti-korupsi, terkait dengan perannya di bagian Financial Leasing di ICBC.
Country Garden menjadi kontraktor terbesar di China dan Yang Huiyan menjadi salah satu wanita terkaya di dunia. Namun setelah bencana di 2023, hal itu sepertinya hanya tinggal kenangan.
Pada Oktober 2023, Country Garden gagal membayar obligasi senilai US$500 juta. Hal ini dianggap sebagai pertanda bahwa pasar properti penting di China sedang mengalami penurunan tajam.
Hal itu tentu merupakan ancaman besar terhadap prospek pertumbuhan negara tersebut.
Pada Agustus 2023, menjelang gagal bayar tersebut, Bloomberg melaporkan bahwa Yang telah kehilangan kekayaan lebih banyak dibandingkan miliarder manapun di dunia dalam dua tahun terakhir.
Kekayaan Yang anjlok 84 persen sejak Juni 2021, atau senilai US$28,6 miliar.
8. Pendiri Adani Group Gautam Adani
Gautam Adani juga menjadi salah seorang yang kekayaannya anjlok pada 2023.
Pada 2022, kekayaan Gautam Adani diperkirakan mencapai US$146,9 miliar. Namun, kekayaan itu kini tinggal tersisa sebesar US$84,3 miliar.
Penurunan kekayaan itu terjadi setelah Adani Group dituding melakukan penipuan. Tuduhan itu dilayangkan oleh perusahaan short-seller Hindenberg Research.
Adani Group pun melawan balik dengan bantahan setebal 400 halaman. Adani Group menyebut laporan Hindenberg Research bohong.
Rosalind Brewer mengundurkan diri dari jabatannya setelah saham Walgreens anjlok 32 persen tahun ini.
Saham perusahaan obat itu anjlok setelah permintaan vaksin covid-19 menurun.
Brewer juga telah menutup 450 tok di AS dan Inggris. Selain itu, ia juga memangkas 10 persen tenaga kerja di AS.
10. CEO BP Bernard Looney
Bernard Looney bergabung dengan BP pada usia 21 tahun pada 1991. Ia diangkat sebagai CEO pada Juli 2020.
Saat itu pandemi covid-19 tengah melanda dan lockdown di seluruh dunia telah menghancurkan permintaan minyak.
Industri ini juga menghadapi peningkatan tuntutan untuk mengurangi emisi pemanasan global guna memerangi perubahan iklim.
Namun kedua hal tersebut bukanlah penyebab jatuhnya Looney. Ia mengundurkan diri pada September 2023 karena menyembunyikan fakta tentang hubungan gelap dengan sejumlah rekan kerja.
Pada Desember 2023 ini, BP mengumumkan bahwa Looney akan kehilangan sekitar US$40 juta uang pesangon karena dewan direksi perusahaan memutuskan bahwa ia telah melakukan pelanggaran serius.
Bagi sebagian bos perusahaan raksasa, 2023 adalah tahun yang ingin segera mereka lupakan. Pasalnya, di 2023 sebagian para pengusaha mengalami rintangan berat dalam bisnis.
Tak berlebihan rasanya jika 2023 ditasbihkan sebagai tahun yang buruk, mengerikan, dan menakutkan. Pasalnya, ada sejumlah bos yang justru banyak ketiban sial pada tahun ini.
CNN Business pun mencatat ada 10 bos yang mengalami hal-hal buruk di 2023. Berikut daftarnya:
CEO Tesla Elon Musk sebenarnya cukup beruntung dibanding para bos di perusahaan lain. Maklum, saham Tesla meningkat dua kali lipat di 2023.
Di 2023 juga Tesla meluncurkan Cybertruck pertamanya setelah lama dijanjikan.
Namun, Tesla juga menghadapi banyak masalah di 2023. Perusahaan itu harus lela memotong harga demi meningkatkan penjualan di tengah persaingan dagang kendaraan listrik.
Hal ini pun menekan margin keuntungan Tesla. Meskipun Cybertruck sudah diproduksi, tapi Tesla diperkirakan baru bisa mendapat keuntungan satu tahun kemudian.
"Ini akan membutuhkan kerja keras untuk mencapai volume produksi dan menghasilkan arus kas positif dengan harga yang mampu dijangkau masyarakat," kata Musk Oktober lalu.
Selain itu, regulator keselamatan federal belakangan memaksa Tesla untuk menarik kembali lebih dari 2 juta kendaraan di AS butut penggunaan sistem autopilot yang mengancam keselamatan pengemudi.
Awal tahun ini, Tesla terpaksa menarik kembali hampir 363 ribu kendaraannya di AS yang dilengkapi dengan perangkat lunak bantuan pengemudi 'Full Self Driving'.
Selain Tesla, perusahaan milik Musk lainnya juga mengalami kesulitan pada 2023. Space X misalnya. Perusahaan eksplorasi ruang mengalami dua kali ledakan roket Startship.
Namun, perusahaan Musk yang mengalami hal paling buruk di 2023 adalah X. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter dan dibeli Musk pada akhir 2022 itu ditinggalkan para pengiklan.
Padahal, pengingklan ada sumber pendapatan utama dari perusahaan tersebut. Tercatat pada September lalu penjualan X anjlok 60 persen.
Perginya para pengiklan bukan tanpa alasan. Mereka mundur setelah Musk resmi membeli media sosial tersebut.
Para pengiklan menilai Musk cukup kontroversial. Contohnya, Musk kedapatan me-retweet dan mendukung postingan yang mengatakan bahwa komunitas Yahudi telah mendorong kebencian terhadap orang kulit putih.
Musk pun meminta maaf atas postingan tersebut. Namun, ia malah menantang para pengiklan yang mundur alih-alih memperbaiki hubungan.
Setahun lalu, Bob Iger dipuji karena kembali memegang Disney. Iger ditunjuk untuk menyelamatkan bisnis raksasa media itu yang sebelumnya terlilit masalah.
Kembalinya Iger pada awalnya tampaknya merupakan langkah kemenangan. Namun, ternyata masalah di Disney, termasuk kerugian pada layanan streaming Disney+, terus berlanjut.
Berbagai solusi yang ditawarkan Iger tak membuahkan hasil. Faktanya, kerugian pada layanan tersebut melonjak, membuat saham semakin anjlok.
Disney dan studio serta layanan streaming lainnya juga terkena pemogokan yang dilakukan oleh Writers Guild of America dan SAG-AFTRA, yang mewakili 160 ribu aktor. Dengan pemogokan itu, Disney menghentikan produksi film dan televisi.
Pemogokan tersebut akhirnya berakhir setelah hampir lima bulan dan serikat pekerja memenangkan banyak tuntutan mereka.
Greg Becker menghadapi masalah setelah Silicon Valley Bank (SVB) dinyatakan bangkrut pada Maret 2023 lalu.
Becker mengungkapkan bahwa bank tersebut menghadapi masalah likuiditas dan berharap dapat meningkatkan modal sebesar US$2,25 miliar, serta menjual aset senilai US$21 miliar. Hal ini pun memicu krisis dalam sistem perbankan di AS.
Runtuhnya bank pemberi modal startup itu terjadi usai perusahaan 48 jam mengalami krisis modal.
Regulator California akhirnya menutup bank ini dan menempatkan di bawah kendali Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) sebagai pihak yang melikuidasi aset-aset bank untuk membayar dana nasabah.
Sinyal runtuhnya perusahaan mulai terlihat pada 8 Maret 2023, ketika SVB mengumumkan mereka telah menjual banyak sekuritas yang merugi.
Hal ini memicu kepanikan di antara pemodal perusahaan ventura utama. Dilaporkan perusahaan pemodal ke bank tersebut melakukan penarikan dana dari SVB.
Esok harinya, pada 9 Maret 2023 nilai saham perusahaan pun jatuh, menyeret bank-bank lain untuk ikut jatuh. Lalu pada Jumat pagi, saham SVB dihentikan dan perusahaan ini meninggalkan upaya untuk meningkatkan modal atau mencari pembeli.
Beberapa saham bank lain juga dihentikan sementara, imbas penghentian jualan dari SVB seperti pada First Republic, PacWest Bancorp dan Signature Bank.
Hal itu disebutnya lantaran para deposan menarik uang dengan sangat cepat sehingga SVB bangkrut dan bank run tidak dapat dihindari.
Bank run adalah suatu peristiwa di mana banyak nasabah secara bersamaan menarik dana secara besar-besaran dan sesegera mungkin pada suatu bank.
Korner mendapat kesulitan hanya beberapa hari setelah kebangkrutan SVB. Pasalnya, bank investasi Swiss Credit Suisse miliknya ikut mengalami kesulitan modal.
Sebulan sebelum kesulitan tersebut, Credit Suisse melaporkan kinerja tahunan terburuknya sejak krisis keuangan global.
Harga saham Credit Suisse anjlok lebih dari 20 persen, 15 Maret 2023 lalu. Saham Credit Suisse ditutup setelah menukik ke posisi terendah 24,24 persen dalam sejarah.
Akibatnya, nilai perusahaan menurun di bawah US$7 miliar. Saham bank terbesar kedua di Swiss itu ambruk usai pemegang saham mayoritas menolak mengucurkan modal lagi untuk Credit Suisse.
Hal ini pun membuat investor panik. Pasalnya, selama berbulan-bulan mereka khawatir melihat kinerja buruk bank, sehingga mungkin harus meminta tambahan modal kepada para pemegang saham.
Krisis Credit Suisse bahkan menyebar ke saham perbankan Eropa lainnya, dengan bank-bank Prancis dan Jerman seperti BNP Paribas, Societe Generale, Commerzbank, dan Deutsche Bank turun antara 8 persen dan 10 persen.
Pada awal 2022, CEO Binance Changpeng Zhao adalah salah satu orang terkaya di planet ini menurut Indeks Miliarder Bloomberg. Tercatat saat itu ia memiliki kekayaan bersih hampir US$100 miliar.
Namun pada akhir 2023, ia mengaku bersalah atas tuduhan pencucian uang di AS. Binance setuju untuk membayar denda sebesar US$4 miliar.
Zhao sendiri membayar denda US$200 juta dan mengundurkan diri sebagai CEO pertukaran kripto yang ia dirikan itu.
Masalah Zhao masih jauh dari selesai. Dia terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara, meski hukuman akhirnya mungkin akan jauh lebih ringan.
Pedoman federal kemungkinan menetapkan hukuman tertinggi bagi Zhao, yaitu sekitar 18 bulan.
Hilang dan Ditangkap Pemerintah China Atas Tuduhan Korupsi
Tahun ini menjadi awan gelap bagi sejumlah bos perusahaan besar karena beberapa usaha mereka hancur dan bahkan ada yang tersandung kasus hukum. (Getty Images via AFP/KIMBERLY WHITE).
6. CEO China Renaissance Bao Fan
China Renaissance, sebuah bank investasi besar dan perusahaan ekuitas swasta yang berbasis di Beijing, mengungkapkan pada Februari 2023 bahwa mereka tidak dapat menghubungi CEO-nya, Bao Fan.
Bao Fan pun dinyatakan menghilang. Menghilangnya Bao Fan ini membuat geger para pemain bursa saham dan juga sektor teknologi China.
Saham di China Renaissance juga merosot hingga 20 persen sehingga mereka sempat disuspensi dari perdagangan bursa pada awal April.
Perusahaan juga menangguhkan perilisan laporan keuangan tahunan karena auditor tidak bisa mengontak Bao Fan.
Usut punya usut, pada Juni 2023, media pemerintah mengungkapkan bahwa Bao telah ditahan oleh badan pengawas anti-korupsi utama Negeri Tirai Bambu.
Menghilangnya Bao Fan juga bersamaan dengan aksi sapu-bersih korupsi yang diluncurkan Partai Komunis pada sektor keuangan. Para pengamat meyakini aksi ini merupakan salah satu cara baru Presiden Xi Jinping untuk menguatkan kekuasaannya di tengah berbagai ancaman domestik maupun di luar.
Penahanan Bao Fan ini juga terkait dengan kasus lain yang melibatkan Cong Ling, mantan presiden China Renaissance yang diangkat pada Juli 2020 lalu.
Cong Ling sebelumnya pernah menjabat beberapa posisi penting di bank negara terbesar di China, Commercial Bank of China (ICBC).
Dia ditahan sejak September 2-22 lalu oleh lembaga anti-korupsi, terkait dengan perannya di bagian Financial Leasing di ICBC.
Country Garden menjadi kontraktor terbesar di China dan Yang Huiyan menjadi salah satu wanita terkaya di dunia. Namun setelah bencana di 2023, hal itu sepertinya hanya tinggal kenangan.
Pada Oktober 2023, Country Garden gagal membayar obligasi senilai US$500 juta. Hal ini dianggap sebagai pertanda bahwa pasar properti penting di China sedang mengalami penurunan tajam.
Hal itu tentu merupakan ancaman besar terhadap prospek pertumbuhan negara tersebut.
Pada Agustus 2023, menjelang gagal bayar tersebut, Bloomberg melaporkan bahwa Yang telah kehilangan kekayaan lebih banyak dibandingkan miliarder manapun di dunia dalam dua tahun terakhir.
Kekayaan Yang anjlok 84 persen sejak Juni 2021, atau senilai US$28,6 miliar.
8. Pendiri Adani Group Gautam Adani
Gautam Adani juga menjadi salah seorang yang kekayaannya anjlok pada 2023.
Pada 2022, kekayaan Gautam Adani diperkirakan mencapai US$146,9 miliar. Namun, kekayaan itu kini tinggal tersisa sebesar US$84,3 miliar.
Penurunan kekayaan itu terjadi setelah Adani Group dituding melakukan penipuan. Tuduhan itu dilayangkan oleh perusahaan short-seller Hindenberg Research.
Adani Group pun melawan balik dengan bantahan setebal 400 halaman. Adani Group menyebut laporan Hindenberg Research bohong.
Rosalind Brewer mengundurkan diri dari jabatannya setelah saham Walgreens anjlok 32 persen tahun ini.
Saham perusahaan obat itu anjlok setelah permintaan vaksin covid-19 menurun.
Brewer juga telah menutup 450 tok di AS dan Inggris. Selain itu, ia juga memangkas 10 persen tenaga kerja di AS.
10. CEO BP Bernard Looney
Bernard Looney bergabung dengan BP pada usia 21 tahun pada 1991. Ia diangkat sebagai CEO pada Juli 2020.
Saat itu pandemi covid-19 tengah melanda dan lockdown di seluruh dunia telah menghancurkan permintaan minyak.
Industri ini juga menghadapi peningkatan tuntutan untuk mengurangi emisi pemanasan global guna memerangi perubahan iklim.
Namun kedua hal tersebut bukanlah penyebab jatuhnya Looney. Ia mengundurkan diri pada September 2023 karena menyembunyikan fakta tentang hubungan gelap dengan sejumlah rekan kerja.
Pada Desember 2023 ini, BP mengumumkan bahwa Looney akan kehilangan sekitar US$40 juta uang pesangon karena dewan direksi perusahaan memutuskan bahwa ia telah melakukan pelanggaran serius.