Setoran Pajak Hanya Rp1.917 T pada 2025, Shortfall Rp271,7 T

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 06:45 WIB
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak neto sepanjang 2025 turun 0,7 persen ke Rp1.917,6 triliun dibandingkan 2024 sebesar Rp 1.931,6 triliun.
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak neto sepanjang 2025 turun 0,7 persen ke Rp1.917,6 triliun dibandingkan 2024 sebesar Rp 1.931,6 triliun. Ilustrasi. (iStockphoto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak Rp1.1917,6 triliun (neto) sepanjang 2025. Angka itu hanya 87,6 persen dari target Rp2.189,3 triliun atau mengalami kekurangan (shortfall) Rp271,7 triliun.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya, realisasi itu juga turun 0,7 persen dari Rp1.931,6 triliun.

Namun, secara bruto penerimaan pajak masih naik 3,7 persen dari Rp2.197,3 triliun pada 2024 ke 2.278,8 triliun pada 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Angka neto penerimaan pajak adalah minus 0,7 persen. Jadi di bawah 2025 itu di bawah 2024," ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1).

Dalam paparannya, Suahasil mengatakan penurunan penerimaan pajak neto disebabkan kombinasi faktor moderasi harga komoditas, peningkatan restitusi akibat relaksasi dan percepatan pemeriksaan, serta kebijakan fiskal yang ditujukan untuk menjaga daya beli dan keberlanjutan usaha masyarakat.

Suahasil mengatakan apabila dilihat berdasarkan pembagian semester, penerimaan pajak menunjukkan perbaikan pada semester II 2025.

Untuk Pajak Penghasilan (PPh) Badan, terkontraksi sekitar 10 persen (yoy) pada semester I 2025. Kemudian membaik pada semester II dengan pertumbuhan 2,3 persen.

Begitu juga dengan PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 yang tertekan hingga 19,4 persen pada semester I, kemudian naik 17,5 persen pada semester II. Kemudian PPh final, PPh 22, PPh 26 terkontraksi 4 persen pada semester I dan naik 8 persen pada semester II.

Selanjutnya, PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) terkontraksi 14,7 persen pada semester I, lalu tumbuh 2,1 persen pada paruh kedua.

[Gambas:Video CNN]

(fby/sfr)