Rupiah Amblas ke Rp17.500, Seberapa Gawat untuk Ekonomi RI?
Nilai tukar rupiah anjlok hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5), melampaui posisi terlemah saat pandemi covid-19.
Kurs mata uang Garuda bahkan mendekati titik psikologis yang dianggap rawan bagi pasar keuangan domestik. Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5), rupiah berada di level Rp17.529 per dolar AS, melemah 115 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Seberapa gawat kondisi jatuhnya nilai tukar rupiah pada ekonomi Tanah Air?
Meski jatuh ke level Rp17.500, ekonom menilai kondisi saat ini belum bisa disamakan dengan krisis moneter 1998. Fundamental ekonomi RI dinilai masih relatif lebih kuat dibanding periode krisis kala itu.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah saat ini memang sudah perlu diwaspadai, tetapi belum bisa dikategorikan sebagai krisis seperti 1998 karena saat ini fondasi ekonomi RI lebih tahan banting.
"Pelemahan rupiah jelas memberi tekanan besar, namun kondisi fundamental Indonesia masih jauh lebih baik dibanding era krisis: cadangan devisa masih relatif kuat, inflasi terkendali, perbankan stabil, dan pertumbuhan ekonomi masih positif," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/5).
Meski begitu, ia mengatakan peluang rupiah menembus level Rp18 ribu per dolar AS tetap terbuka apabila tekanan global semakin memburuk. Faktor terbesar saat ini adalah prospek suku bunga AS, harga minyak mentah dunia yang tinggi, dan keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang (emerging markets).
Menurutnya, pelemahan mata uang sebenarnya tidak hanya dialami Indonesia. Sejumlah mata uang Asia lain juga mengalami tekanan besar dalam sepekan terakhir. Won Korea, peso Filipina, rupee India dan beberapa mata uang Asia lain juga anjlok.
Lukman menjelaskan pelemahan rupiah akan berdampak luas terhadap ekonomi domestik karena membuat biaya impor semakin mahal seperti harga beli energi, bahan baku industri hingga pangan. Kenaikan ini ujungnya dapat mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta juga meningkat dalam nilai rupiah.
Namun di sisi lain, pelemahan kurs memberi keuntungan bagi eksportir berbasis dolar. Yang diuntungkan di antaranya eksportir batu bara, kelapa sawit (CPO), dan beberapa komoditas lainnya yang transaksinya berbasis dolar.
Sementara, sektor yang paling terpukul adalah industri yang bergantung besar pada impor atau memiliki utang dalam dolar AS.
"Industri penerbangan misalnya menghadapi kenaikan biaya avtur dan leasing pesawat yang mayoritas berbasis dolar. Sektor otomotif, elektronik, farmasi, dan manufaktur juga tertekan karena banyak menggunakan bahan baku impor sehingga biaya produksi meningkat," ujarnya.
Menurutnya, perusahaan dengan utang dolar besar juga akan menghadapi kenaikan beban pembayaran cicilan dan bunga. Sebaliknya, sektor berbasis ekspor justru relatif lebih tahan terhadap tekanan kurs.
"Di sisi lain, sektor berbasis ekspor cenderung lebih tahan, bahkan sebagian diuntungkan, karena pendapatan mereka diterima dalam dolar AS," katanya.
Lukman menilai langkah paling penting saat ini adalah menjaga kepercayaan pasar agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi kepanikan.
"BI perlu tetap aktif melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valas dan obligasi, serta menjaga suku bunga tetap kompetitif agar rupiah masih menarik bagi investor," ujarnya.
Pemerintah juga harus disiplin fiskal dan mengkomunikasikan kebijakan yang jelas sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap kondisi APBN maupun arah kebijakan ekonomi.
"Dalam jangka menengah, Indonesia juga perlu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan memperkuat sumber devisa dari ekspor serta investasi asing langsung (FDI), sehingga fundamental rupiah menjadi lebih kuat dan tidak terlalu rentan terhadap gejolak global," katanya.