Amran Ungkap 1.000 Ton Beras Selundupan Dikirim dari Daerah Nol Sawah

CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 11:23 WIB
Amran mengungkap temuan 1.000 ton beras selundupan di Kabupaten Karimun, Kepri, dikirim dari daerah nihil sawah, serta dikirim ke daerah surplus beras. (Foto: Arsip FMB9)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkap temuan 1.000 ton beras selundupan atau ilegal di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, dikirim dari daerah tak punya sawah.

Amran menjelaskan penyelundupan ribuan beras tersebut dikirim dari daerah yang tak mempunyai sawah, yakni Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, sehingga asal beras tersebut patut dipertanyakan.

"Ini cukup aneh, kenapa? Beras ini dari Tanjung Pinang. Tanjung Pinang itu tidak ada sawah, kok bisa produksi beras? Nah ini harus dipertanyakan, dari mana beras itu masuk Tanjung Pinang?" ujar Amran dalam wawancara bersama CNN Indonesia TV, Senin (20/1).

Ia pun mengungkap kejanggalan lainnya, yakni ribuan ton beras selundupan tersebut hendak dikirim ke Sumatera Selatan yang surplus beras sebesar 1,1 juta.

"Anehnya, ini dikirim ke Sumatera Selatan. Sumatera Selatan surplus 1,1 juta ton. Total produksinya 3,5 juta ton. Jadi, yang tidak punya beras mengirim ke daerah yang surplus beras," ungkapnya.

Saat ditanya apakah sudah diketahui dugaan siapa penadah penyelundupan di daerah tujuan, Amran menjawab penegak hukum pasti tahu sehingga harus ditindak tegas.

"Oh ya pasti. Penegak hukum pasti (tahu). Kami minta, itu harus ditindak tegas. Kasihan ya, tidak punya rasa nasionalisme. Mungkin tidak pernah miskin dia, tidak merasakan apa yang dirasakan petani kita," kata Amran.

Ia menduga penyelundupan ribuan ton beras ini melibatkan korporasi besar. Namun, ia tetap menyerahkan kepada penegak hukum untuk membuktikannya.

"Ini dugaan saya ya, tentu melibatkan korporasi besar. Tapi nanti yang membuktikan adalah penegak hukum. Kalau dugaan saya, ini bisa melibatkan orang korporasi," ujar Amran.

Menurutnya, apabila penyelundupan beras terus terjadi, harga gabah bisa turun sehingga kerugian petani diproyeksi total mencapai Rp65 triliun. Amran juga menyinggung hilangnya potensi penerimaan pajak negara 

"Petani kita berapa? Keluarganya 29 juta, kali empat orang, 116 juta orang yang terpukul. Kalau ini terjadi terus menerus, ini harga bisa turun. Turun seribu rupiah saja, untuk petani kita yang punya satu hektar, itu dia kehilangan Rp5 juta. Petani kita yang punya setengah hektar, itu Rp2,5 juta. Kalau dia sepertiga, dia mungkin Rp1,5 juta kehilangan," ujar Amran.

"Kalau turun seribu rupiah saja, seribu rupiah saja turun harga gabah karena pengaruh penyelundupan, itu Rp65 triliun ruginya petani," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau buntut temuan ribuan ton beras ilegal yang diduga kuat diselundupkan.

"Ini tidak boleh dibiarkan. Kita sudah swasembada, stok beras nasional lebih dari 3 juta ton. Tapi masih ada pihak-pihak yang memasukkan beras secara ilegal. Ini mengganggu petani kita, 115 juta rakyat Indonesia yang menggantungkan hidup dari pertanian," ujar Amran, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (19/1).

Berdasarkan hasil penindakan, aparat mengamankan total 1.000 ton beras ilegal, dengan 345 ton masih berada di gudang Bea Cukai. Beras tersebut diduga masuk tanpa prosedur karantina dan kepabeanan.

Beras diangkut menggunakan enam kapal dari FTZ Tanjung Pinang, wilayah yang secara faktual bukan daerah produsen beras, dengan tujuan ke sejumlah daerah sentra produksi seperti Palembang dan Riau. Menurut Amran, pola distribusi ini tidak masuk akal dan menguatkan dugaan penyelundupan.

Selain beras, aparat juga mengamankan gula pasir, cabai kering, bawang merah, dan bawang putih yang seluruhnya tidak dilengkapi sertifikat karantina, tidak melalui tempat pengeluaran resmi, serta tidak dilaporkan kepada pejabat berwenang.

(fln/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK