Kondisi Terkini Harga Daging Sapi usai Pedagang Mogok Jualan
Plt Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP) Popy Rufaidah mengatakan harga daging sapi di tingkat nasional dinilai tetap stabil dan aman, meskipun sempat terjadi aksi mogok jualan pedagang di wilayah Jabodetabek.
Data terbaru menunjukkan gejolak pasokan yang terjadi tidak berujung pada lonjakan harga di tingkat konsumen.
Berkaca dari kondisi tersebut, Poppy menyampaikan bahwa secara nasional harga daging sapi masih terkendali.
"Harga daging sapi secara nasional berada dalam kondisi aman, rata-rata sekitar Rp141 ribu per kilogram, hanya sedikit di atas harga acuan," ujar Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa (27/1).
Berdasarkan pemantauan SP2KP Kementerian Perdagangan (Kemendag) per 23 Januari 2026, harga daging sapi tercatat Rp141 ribu per kilogram (kg), dengan harga acuan penjualan (HAP) Rp140 ribu per kg. Artinya, harga hanya sekitar 0,71 persen di atas HAP, dengan kenaikan bulanan yang sangat tipis, yakni 0,14 persen.
Meski harga nasional stabil, KSP mencatat masih terdapat ketimpangan antarwilayah.
"Harga nasional cukup stabil, namun ketimpangan antarwilayah masih ada terutama di daerah yang akses logistiknya masih terbatas," kata Popy.
Data KSP menunjukkan disparitas harga daging sapi di tingkat daerah mencapai 11,54 persen, masuk kategori sedang. Wilayah dengan harga tertinggi tercatat berada di Papua Tengah dan Kabupaten Nabire, dengan harga mencapai Rp200 ribu per kg.
Adapun daerah lain dengan harga tinggi antara lain Kabupaten Puncak Jaya yakni Rp200 ribu per kg, Karimun dan Lingga yakni Rp180 ribu, serta Kapuas Hulu dan Kaimana Rp180 ribu per kg.
Sebaliknya, daerah dengan harga terendah berada di Kota Batam dan Kabupaten Rote Ndao, masing-masing Rp90 ribu per kg, disusul Timor Tengah Selatan, Malaka, dan Maluku Barat Daya di kisaran Rp100 ribu per kg.
Secara mingguan, harga daging sapi tercatat naik di lima provinsi, turun di satu provinsi, dan tetap di 32 provinsi.
Popy menilai stabilitas harga daging sapi saat ini tidak lepas dari kondisi pasokan yang relatif terjaga, meskipun distribusi ke wilayah tertentu masih menjadi tantangan.
"Kondisi ini menunjukkan pasokan nasional relatif aman, namun distribusi antarwilayah masih perlu terus dikawal agar ketimpangan harga tidak melebar," ujarnya.
Stabilitas harga ini terjadi setelah pedagang daging sapi di Jabodetabek sempat melakukan mogok jualan pada Kamis (22/1) silam. Aksi tersebut dipicu protes atas mahalnya harga sapi hidup di tingkat feedlot yang dinilai memberatkan pedagang.
Mogok jualan tersebut sempat menekan pasokan daging sapi di sejumlah pasar tradisional. Namun, aksi berakhir setelah pemerintah bersama asosiasi pedagang dan importir sapi menyepakati harga sapi hidup di tingkat feedlot sebesar Rp55 ribu per kg hingga Lebaran.
Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Wahyu Purnama memastikan pedagang kembali berjualan mulai Jumat (23/1) meski aktivitas jual beli di sejumlah pasar belum sepenuhnya pulih.
Bapanas juga mencatat ketersediaan stok daging sapi dan kerbau nasional hingga Idulfitri 2026 masih mencukupi. Total ketersediaan Januari-Maret 2026 diproyeksikan mencapai 185,4 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di kisaran 179 ribu ton, sehingga terdapat surplus sekitar 6,3 ribu ton.
Pemerintah pun menyatakan akan menindak tegas pelaku usaha feedlot yang menjual sapi hidup di atas harga kesepakatan.
(del/ins)