ANALISIS

Hati-hati 'Chaos', Benahi Data Sebelum Batasi Beli LPG Bersubsidi

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Kamis, 29 Jan 2026 07:00 WIB
Pengamat wanti-wanti soal pendataan yang matang sebelum menerapkan pembatasan pembelian LPG 3 kg 10 tabung per bulan per kk. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Farid).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina Patra Niaga mengusulkan agar pembelian LPG 3 kg dibatasi 10 tabung per bulan per satu kepala keluarga (KK). Tujuannya untuk mengendalikan lonjakan permintaan gas bersubsidi tersebut.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar mengatakan kuota penyaluran LPG 3 kg cenderung meningkat setiap tahunnya dari jatah yang diberikan pemerintah dan kuota revisi.

"Dari kuota yang diberikan oleh pemerintah dan kuota revisi, kecenderungannya untuk LPG ini berbeda dengan BBM subsidi. LPG ini cenderung meningkat, bahkan selalu meningkat, selalu direvisi sejak tahun 2023," ujar Achmad dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (27/1).

Lalu, tepatkah kebijakan ini dilakukan?

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai wacana pembatasan pembelian LPG 3 kg ini sangat berisiko jika tidak ditopang sistem pendataan yang matang.

"Kalau kita lihat ya disini yang menjadi permasalahan dari pemerintah itu sistem database untuk pemasaran dari pengguna LPG 3 kg, itu yang masalahnya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Menurutnya, LPG 3 kg merupakan komoditas yang sangat sensitif secara sosial dan politik karena menyentuh langsung kebutuhan dasar rumah tangga miskin. Isu kecil saja bisa memicu kepanikan di tingkat bawah jika tidak dikelola dengan hati-hati.

"Nah, kemudian ketika misalkan sekarang pemerintah ingin membatasi kalau misalkan database-nya tidak baik, saya kira itu nggak bijak," kata Yayan.

Yayan menilai pembatasan tanpa basis data yang kuat justru berpotensi menciptakan masalah baru. Kebijakan yang tergesa-gesa bisa menimbulkan gejolak yang lebih besar dibandingkan manfaat penghematan subsidi.

Terlebih, kondisi sosial dan politik saat ini jauh lebih rentan dibandingkan beberapa tahun lalu. Ketidakstabilan kebijakan makro turut memperbesar risiko kesalahan kebijakan energi.

"Kenapa? Karena komoditas LPG 3 kilo itu sangat sensitif, terutama bagi isu-isu yang sekarang ini mungkin akan lebih sensitif dibandingkan dengan isu-isu tahun-tahun sebelumnya," ujar Yayan.

Menurutnya, langkah paling aman bagi pemerintah saat ini adalah menahan diri. Fokus utama seharusnya bukan pada pembatasan, melainkan pembenahan fondasi data.

Jika pembatasan tetap ingin dilakukan, pemerintah dinilai harus memulai dari perbaikan sistem pendataan konsumen. Tanpa data yang solid, kebijakan kuota hanya akan menjadi blunder.

"Jadi saya kira mungkin langkah baiknya menunda dulu deh isu-isu seperti ini. Kalau misalkan ingin membatasi pun, mungkin alangkah baiknya jika tahun ini untuk memperbaiki sistem databasenya terlebih dahulu," ucap Yayan.

Selain itu, ia menilai konsumsi LPG 3 kg tidak bisa dipukul rata karena sangat tergantung jenis dan ukuran rumah tangga. Perbedaan kebutuhan ini harus tercermin dalam sistem kebijakan.

Oleh sebab itu, ia menilai pemerintah harus melakukan pembenahan data yang idealnya dilakukan setidaknya selama enam bulan. Tujuannya untuk memetakan pola konsumsi rumah tangga secara lebih akurat.

"Sehingga kita bisa mengetahui bahwa kira-kira konsumsi ataupun rata-rata konsumsi, memang kalau kita lihat bahwa rata-rata konsumsi masyarakat ini tergantung dari jenis rumah tangga," ujar Yayan.

Ia menyebut pembatasan berbasis kelompok pendapatan sebenarnya memungkinkan secara konsep. Namun, implementasinya sangat bergantung pada transparansi data.

Misalnya, untuk kelompok desil bawah, konsumsi LPG 3 kg memang berkisar antara 5 hingga 10 tabung per bulan. Tetapi angka ini harus didukung pencatatan yang jelas dan terbuka.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Pengawasan Harus Jelas


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :