Danantara Bakal Bangun Pabrik Baja Kapasitas 3 Juta Ton Bulan Depan
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan rencana pembangunan pabrik baja baru di Indonesia.
Proyek tersebut dijadwalkan masuk tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking bulan depan, dan diharapkan mampu menambah kapasitas 3 juta ton baja.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan pembangunan pabrik baja baru merupakan bagian dari roadmap pengembangan industri nasional yang tengah disiapkan Danantara, khususnya di sektor hilirisasi dan penguatan industri hulu baja.
"Salah satu proyek hilirisasi yang dilakukan Danantara tahun ini adalah pengembangan upstream industri baja yang akan segera kita groundbreaking bulan depan, dengan penambahan kapasitas 3 juta ton baja," ujar Dony dalam rapat kerja dan dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2).
Dony menyebut, pengembangan industri baja diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, seiring meningkatnya kebutuhan baja dalam negeri. Selama ini, konsumsi baja nasional masih didominasi oleh produk impor.
Selain pembangunan pabrik baja baru, Danantara juga melakukan perbaikan terhadap PT Krakatau Steel Tbk yang dinilai telah memasuki fase pemulihan kondisi keuangan. Menurut Dony, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menyeluruh untuk mendorong pertumbuhan industri strategis nasional.
"Sebenarnya ke depan kita ingin industri kita bertumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu beberapa proyek sedang kami lakukan, berkaitan dengan baja, termasuk perbaikan terhadap Krakatau Steel. Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat secara finansial, Danantara sudah melakukan intervensi dan perbaikan terhadap kesehatan Krakatau Steel," kata Dony.
Danantara juga mendorong industrialisasi perusahaan-perusahaan yang berada dalam lingkup pengelolaannya, termasuk di sektor perkapalan dan perkeretaapian, guna memperkuat rantai pasok industri nasional.
"Kami berharap kebutuhan baja kita hari ini masih didominasi impor, dengan mengembangkan pabrik baja kita ke depan di upstream yang akan groundbreaking bulan depan dengan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun, tentu harus ada keberpihakan pemerintah untuk melindungi industri yang sedang kita kembangkan," ucap Dony.
Dony menegaskan, pengembangan industri baja memerlukan dukungan dan keberpihakan pemerintah agar industri dalam negeri mampu bersaing dan menjadi pemasok utama bagi sektor-sektor turunan di dalam negeri.
"Karena tanpa daripada keberpihakan tentu industri ini akan sulit bersaing ke depan. Kami berharap ada keberpihakan kita memajukan industri baja yang ke depannya tentu jadi suplai bagi industri turunannya," pungkasnya.
(inn/inn)