Bisakah Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi di Tengah Lonjakan Harga?
Harga minyak mentah dunia tembus level US$100 barel per hari (bph) pada Senin (9/3) imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Lonjakan ini menjadi rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Juli 2022 lalu.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent tercatat sempat naik US$15,24 atau 16,4 persen ke level US$107,93 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga US$18,35 atau 19,8 persen menjadi US$111,04 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$16,50 atau 18,2 persen menjadi US$107,40 per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh US$111,24 per barel.
Meski begitu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan tak akan ada kenaikan harga BBM subsidi, Pertalite dan Solar, menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
"Saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM sampai dengan hari raya Insya Allah tidak ada kenaikan apa-apa. Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3).
Bahlil menyadari eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi berdampak ke ekonomi Indonesia dan memastikan pemerintah tengah menyiapkan langkah mitigasi mengatasi persoalan itu.
Pada saat yang sama, Bahlil juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Ia memastikan stok BBM nasional RI masih tercukupi.
"Industri kita jalan terus dan impor kita enggak ada masalah apalagi di Timur Tengah itu kita cuma impor crude minyak mentahnya sementara minyak jadinya kita impor dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri," ujarnya.
Lantas, bisakah pemerintah menahan harga BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia?
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai dalam jangka pendek pemerintah bisa menahan harga BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Syafruddin menyebut pilihan tersebut diambil saat pemerintah ingin menjaga daya beli, menahan inflasi, dan mencegah kepanikan pasar. Hal tersebut karena dalam kondisi global yang tegang, keputusan menahan harga BBM bisa memberi ruang napas bagi rumah tangga, pelaku usaha kecil, sektor transportasi, dan distribusi pangan.