ANALISIS

Harga Minyak US$200/Barel: Fantasi Liar atau Ancaman Nyata Depan Mata?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Jumat, 13 Mar 2026 07:25 WIB
Komando militer Iran menyatakan AS harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak US$200 per barel menyusul serangan tiga kapal di kawasan Teluk yang diblokade.
Komando militer Iran menyatakan AS harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak US$200 per barel menyusul serangan tiga kapal di kawasan Teluk yang diblokade. Ilustrasi (AFP/ATTA KENARE).
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia yang berpotensi menembus US$200 per barel di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Peringatan tersebut muncul setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di kawasan Teluk pada Rabu (11/3).

Berdasarkan unggahan akun Instagram @middleeasteye, komando militer Iran menyatakan Amerika Serikat harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel menyusul serangan terhadap tiga kapal di kawasan Teluk yang diblokade.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai peluang harga minyak dunia mencapai US$200 per barel memang ada. Ia memperkirakan kemungkinan tersebut berada di kisaran 40 persen.

"Probabilitas harga minyak naik ke US$200 per barel sekitar 40 persen. Artinya tetap mungkin meski saat ini IEA (International Energy Agency atau Badan Energi Internasional) telah memerintahkan pelepasan cadangan minyak," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).

Menurut Bhima, jika dibandingkan dengan krisis minyak pada 1973 saat embargo minyak terjadi, gangguan pasokan saat ini lebih besar. Pada krisis 1973, gangguan pasokan hanya sekitar 7 persen dari stok minyak dunia.

Sementara dalam konflik AS-Israel melawan Iran saat ini, sekitar 20 persen stok minyak dunia disebut berpotensi terganggu.

Ia mengatakan harga minyak bisa melonjak hingga US$200 per barel jika pembatasan di Selat Hormuz terus berlanjut dan serangan terhadap kapal tanker masih terjadi.

Selain itu, eskalasi perang berpotensi makin parah jika yang disasar adalah infrastruktur energi di Iran dan negara-negara Teluk.

Faktor lain yang dapat memicu lonjakan harga adalah jika cadangan minyak yang dirilis oleh IEA tidak cukup untuk menutup penurunan produksi global.

Peluang harga minyak mentah dunia menembus US$200 per barel semakin besar lagi jika pengembangan energi terbarukan sebagai sumber cadangan tidak dipercepat penerapannya.

Senada, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuabi juga menilai peluang harga minyak mencapai US$200 per barel cukup memungkinkan terjadi.

Namun, hal tersebut baru bisa terjadi jika konflik berkembang menjadi perang besar yang melibatkan kekuatan militer secara langsung.

Ia menilai lonjakan harga ekstrem bisa terjadi apabila kilang-kilang minyak di Timur Tengah milik negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Irak menjadi sasaran serangan.

Meski demikian, Ibrahim mengaku belum sepenuhnya yakin harga minyak akan benar-benar mencapai level tersebut. Salah satu faktor yang menurutnya menahan eskalasi adalah langkah Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz yang penuh kehati-hatian.

"Angkatan Laut Amerika tidak mau mengambil risiko di Selat Hormuz (karena) sampai saat ini ribuan ranjau sudah dipasang oleh pasukan Garda Revolusi Iran," kata Ibrahim.

Harga Minyak US$200/Barel: Fantasi Liar atau Ancaman Nyata Depan Mata? BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2