Harga Minyak US$200/Barel: Fantasi Liar atau Ancaman Nyata Depan Mata?
China di Tengah Konflik Timur Tengah
Di tengah konflik yang berlangsung, China juga menjadi sorotan karena tetap menerima pasokan minyak mentah dari Iran.
Data dari TankerTrackers menunjukkan Iran telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah ke China melalui Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bhima Yudhistira menilai langkah tersebut menunjukkan kemampuan China menjaga pasokan energi di tengah situasi perang.
Ia memprediksi ke depan Indonesia juga bisa bergantung pada China dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan energi.
"Ke depan ekonomi Indonesia makin andalkan dukungan dari China, termasuk dalam pembelian berbagai bahan baku dan minyak dengan rute memutar. Biasanya beli dari Timur Tengah langsung, (sekarang) bisa saja impor dari China," kata Bhima.
Sementara itu, Ibrahim Assuabi menyebut China memang dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kedekatan dengan Iran. Contohnya dalam hal tekonologi.
Sebelumnya, muncul laporan yang menyebutkan Iran diduga menggunakan sistem navigasi satelit milik China untuk menargetkan aset militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Sejumlah pakar menilai Iran kemungkinan telah mengintegrasikan sistem navigasi China jauh sebelum delapan bulan terakhir.
Mantan direktur intelijen luar negeri Prancis, Alain Juillet, mengatakan dalam podcast independen Prancis Tocsin pekan ini bahwa Iran kemungkinan telah diberi akses ke sistem navigasi satelit BeiDou milik China.
Menurut Juliet, penggunaan BeiDou menjadi penjelasan yang masuk akal atas meningkatnya presisi serangan Iran.
"Kalau China masih bagus karena memang sampai saat ini China salah satu negara pendukung Iran kan. Teknologi-teknologi (yang dipakai Iran, red) semua kan dari China," kata Ibrahim.
Ibrahim juga mengatakan kapal-kapal dari negara tertentu masih dapat melewati Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, Iran bahkan dapat memilah kapal yang melewati jalur tersebut berdasarkan asal negaranya.
"Nah, di situ kan dipilah-pilah juga kapal yang melewati Selat Hormuz. 'Oh iya ini Indonesia, ini China, ini Jepang, ini Korea Selatan, silakan keluar'," ujarnya.
(ins)