ANALISIS

Peta Energi Bergeser Usai UEA Keluar OPEC: RI Cuan atau Kian Tertekan?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Kamis, 30 Apr 2026 08:35 WIB
Keluarnya UEA menjadi pukulan telak bagi OPEC, tetapi keputusan Abu Dhabi belum tentu membawa angin segar bagi pasar minyak global, termasuk buat RI.
Dampak ke RI. (Foto: via REUTERS/MIRAFLORES PALACE_

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai keluarnya UEA dari OPEC tak terlalu berdampak bagi Indonesia. Pengaruh utama yang paling menggebuk kondisi energi RI saat ini masih berasal dari penutupan Selat Hormuz.

Menurutnya, penutupan Selat Hormuz ini akan terus menekan fiskal RI. Jika konflik meningkat dan harga minyak dunia terus naik, beban APBN akan makin besar.

Selain itu, harga minyak yang terus naik juga akan mengerek biaya logistik, menekan harga pangan melalui ongkos distribusi, dan memperkuat inflasi biaya produksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Indonesia (BI) juga dapat menghadapi dilema menjaga stabilitas rupiah di tengah kebutuhan pembiayaan sektor riil.

"Bank Indonesia menghadapi dilema karena stabilitas rupiah dan inflasi dapat menuntut kebijakan moneter lebih hati-hati, sedangkan sektor riil tetap membutuhkan pembiayaan yang terjangkau," ujar Syafruddin.

Ia menyarankan pemerintah untuk memperkuat cadangan energi strategis, memperluas sumber impor, mempercepat transportasi publik dan elektrifikasi, serta menata subsidi agar lebih tepat sasaran.

"Pasar minyak global kini tidak hanya ditentukan oleh OPEC, tetapi juga perang, sanksi, jalur laut, ekspor Amerika Serikat, dan strategi nasional produsen besar seperti UEA," ujar Syafruddin.

Meski begitu, ada skenario positif bagi Indonesia. Jika keluarnya UEA melemahkan disiplin OPEC dan menambah pasokan minyak global, RI dapat memperoleh ruang bernapas melalui harga impor energi yang lebih rendah.

Menurut Syafruddin, kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap harga BBM, beban subsidi dan kompensasi energi, defisit migas, serta kebutuhan dolar untuk impor minyak.

Praktisi Migas Hadi Ismoyo juga menilai keluarnya UEA menjadi keputusan berat bagi OPEC karena mengurangi peran produksi organisasi tersebut. OPEC tak lagi selincah sebelumnya dalam mengendalikan pasar.

"OPEC tidak akan selincah sebelumnya dalam membuat keputusan untuk mengendalikan pasar," ujar Hadi.

Namun, ia melihat keluarnya UEA dari OPEC dinilai tidak terlalu berdampak bagi Indonesia. Pasalnya, hubungan impor minyak antara Indonesia dan UEA berlangsung secara langsung melalui skema pemerintah ke pemerintah (G to G) maupun bisnis ke bisnis (B to B), bukan melalui mekanisme OPEC.

Menurutnya, Indonesia saat ini lebih merasakan dampak penutupan Selat Hormuz dibanding keputusan UEA keluar dari OPEC. Pengaruh terbesar pada energi RI berasal dari terganggunya jalur distribusi utama tersebut.

Menurutnya, kondisi Selat Hormuz menjadi faktor yang lebih menentukan bagi pasokan energi Indonesia.

"Tidak akan berpengaruh (ke Indonesia) kecuali Selat Hormuz dibuka. Pengaruhnya karena konsep choke point masih berlaku signifikan," kata Hadi.

[Gambas:Youtube]

(pta) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2