Inflasi Sri Lanka Meroket 2 Kali Lipat Imbas Kenaikan Harga Energi
Inflasi Sri Lanka melonjak tajam pada April 2026, dipicu kenaikan harga energi di tengah konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.
Inflasi tahunan negara tersebut tercatat menembus 5,4 persen pada April, alias naik dua kali lipat dibandingkan catatan Maret yakni 2 persen, sebagaimana dilansir dari AFP.
Departemen Sensus dan Statistik Sri Lanka menyebut lonjakan inflasi terutama disebabkan kenaikan harga bahan bakar dan tarif listrik, yang kemudian mendorong biaya transportasi serta harga pangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah menaikkan harga bensin dan solar hampir sepertiga, serta tarif listrik hingga 40 persen, menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Lihat Juga : |
Data resmi juga menunjukkan inflasi non-pangan meningkat lebih tinggi, yakni 6,8 persen pada April, dibandingkan 2,9 persen pada Maret. Angka tersebut juga berbalik dari deflasi 3,6 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, inflasi April tercatat lebih tinggi dari proyeksi Central Bank of Sri Lanka yang memperkirakan inflasi sebesar 5,0 persen.
Sri Lanka sendiri masih berupaya memulihkan ekonomi pascakrisis parah pada 2022, saat negara itu kehabisan cadangan devisa untuk membayar impor penting seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Pemulihan tersebut sempat terganggu bencana siklon pada November lalu yang menewaskan sedikitnya 643 orang dan berdampak pada lebih dari 10 persen populasi negara tersebut. World Bank memperkirakan kerusakan langsung akibat bencana itu mencapai US$4,1 miliar.
Saat ini, Sri Lanka tengah menjalankan program bailout senilai US$2,9 miliar dari International Monetary Fund yang disepakati pada awal 2023. Namun, lonjakan harga energi dinilai menjadi tantangan besar bagi upaya pemulihan ekonomi negara tersebut.
Sebagai catatan, inflasi Sri Lanka sempat mencapai puncaknya di kisaran hampir 70 persen pada September 2022, saat krisis ekonomi mencapai titik terburuk.
(lau/ins) Add
as a preferred source on Google