Purbaya Bakal Lantik Dua Pejabat Kemenkeu Baru Rabu Esok

CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 18:19 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa akan melantik dua pejabat baru di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Rabu (6/5). (CNN Indonesia/Sakti Darma Abhiyoso).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akan melantik dua pejabat baru di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Rabu (6/5).

Pelantikan ini dilakukan untuk mengisi posisi kosong setelah pencopotan pejabat terkait data pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi).

"Besok akan kita lantik langsung pejabat barunya," ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5).

Namun, Sang Bendahara Negara belum mengungkapkan identitas maupun jabatan yang akan diisi oleh kedua pejabat tersebut.

Purbaya mencopot dua pejabat tinggi Kemenkeu setelah menemukan ketidaksesuaian data terkait restitusi pajak atau pengembalian kelebihan bayar pajak wajib pajak.

Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan investigasi internal terhadap pejabat yang terlibat dalam pengelolaan restitusi.

"Saya investigasi lima orang pejabat yang paling tinggi mengeluarkan restitusi, hari ini dua akan saya copot. Serius kan? Ada itu, suka-suka menteri lah," ujarnya.

Purbaya mengungkapkan nilai restitusi pajak pada 2025 mencapai Rp361,15 triliun atau meningkat 35,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia mengaku sempat mempertanyakan proyeksi restitusi kepada jajarannya, tetapi angka yang dilaporkan tidak sesuai dengan realisasi di akhir tahun.

"Di rapat sudah saya tanyakan berapa sih potensinya. Staf saya bilang sedikit. Di akhir tahun saya baru tahu keluarnya berkali-kali lipat yang mereka sebutkan," ujarnya.

Menurutnya, perbedaan data tersebut menjadi dasar untuk melakukan pembenahan agar tidak terjadi kesalahan informasi serupa di masa mendatang.

Selain investigasi internal, Purbaya juga meminta audit menyeluruh atas restitusi pajak kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk periode 2016-2025.

"Saya minta diaudit dengan betul supaya kita tidak kecolongan," ujarnya.

Ia juga menyinggung adanya potensi ketidaktepatan perhitungan dalam restitusi, termasuk pada sektor tertentu seperti industri batu bara.

"PPN-nya saya nombok Rp25 triliun restitusinya, net, jadi saya bayar. Kan ada yang enggak benar hitungannya," ujarnya.

(sfr/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK