Bank Mandiri Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen Tahun Ini
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk optimistis perekonomian Indonesia bisa tumbuh 5,2 persen pada 2026. Namun, ini bisa terjadi apabila belanja pemerintah bisa terus diakselerasi untuk mendorong konsumsi.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pertumbuhan di atas 5 persen bisa tercapai apabila kebijakan pemerintah tetap stabil dalam menjaga inflasi. Salah satunya, menjaga subsidi tetap seperti saat ini.
"Pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2 persen, kecuali ada kenaikan dari harga subsidi BBM yang mungkin bisa ketarik ke bawah 5,2 persen," ujar Andry dalam Mandiri Macro and Market Brief 2026 secara virtual, Senin (11/5).
Bank Mandiri menilai pertumbuhan tinggi ini ditopang oleh realisasi perekonomian pada kuartal I 2026 yang berhasil melaju 5,61 persen.
Hal ini ditopang oleh percepatan program prioritas yang dijalankan pemerintah mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG) sampai Koperasi Desa/Keluruhan Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
Selain itu, pada kuartal II 2026, pertumbuhan diproyeksi akan tetap tumbuh tinggi meski tak sebaik kuartal I.
Hal ini disebabkan faktor musiman seperti ramadan dan lebaran tak berulang, tapi cukup tanggung di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dalam negeri.
"Kita melihat ada peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 5,1-5,5 persen di kuartal II tahun 2026 ini," ujar Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina dalam acara yang sama.
Sementara itu, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif akan terus menjadi penopang pertumbuhan ke depan.
"Ke depan, tantangan global akan terus ada, namun di balik setiap tantangan juga terdapat peluang yang dapat dioptimalkan melalui strategi yang tepat. Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, kami meyakini pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga secara berkelanjutan," jelasnya.
Lebih lanjut Ari menyebutkan, Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memang mendorong harga minyak melampaui US$100 per barrel dan memicu volatilitas pasar keuangan global.
Namun, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan dinilai menjadi faktor positif yang mampu menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan memelihara stabilitas keuangan.
Bank Indonesia pun terus melakukan bauran kebijakan, termasuk intervensi nilai tukar, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 3,9 persen sepanjang 2026. Akselerasi belanja fiskal dan sinergi tiga otoritas dipercaya masih dapat menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun.
Optimisme ini juga tercermin di sektor perbankan, kinerja intermediasi tetap solid. Kredit industri tumbuh 9,49 persen (yoy) per Maret 2026 dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) terjaga di 2,14 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) industri tumbuh 13,55 persen YoY, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di level 84,63 persen yang mencerminkan likuiditas yang memadai.
Bank Mandiri mencatatkan akselerasi yang melampaui rata-rata industri. Kredit bank only per Maret 2026 mencapai Rp1.530 triliun atau tumbuh 17,4 persen (yoy). DPK menguat ke Rp1.675 triliun atau naik 21,1 persen (yoy), dengan Current Account Saving Account (CASA) menyentuh Rp1.201 triliun, tumbuh 12,7 persen (yoy).
Laba bersih konsolidasi tercatat Rp15,4 triliun atau tumbuh 16,6 persen (yoy), dengan Return on Equity (ROE) di 22,1 persen, Capital Adequacy Ratio (CAR) di 19,7 persen, dan rasio BOPO yang membaik ke 58,0 persen.
"Bank Mandiri optimis dapat mempertahankan kinerja yang solid sepanjang 2026. Ke depan, kami akan terus menjalankan strategi bisnis secara disiplin dan terukur, sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," pungkas Ari.
(ldy/sfr)