Napas Pendek Kopi Indonesia di Tengah Kepungan Cuaca Ekstrem
Pagi baru saja dimulai ketika seorang pelanggan memesan segelas Americano di sebuah kedai kopi di Kota Malang, Jawa Timur. Seperti biasa, aroma kopi memenuhi ruangan.
Mesin espresso berdengung pelan. Barista meracik pesanan sambil bercakap ringan dengan pelanggan yang sebagian besar tak pernah benar-benar memikirkan dari mana biji kopi itu berasal.
Bagi banyak orang, kopi adalah bagian dari rutinitas sehari-hari. Teman bekerja, menemani rapat, atau sekadar alasan untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan. Namun belakangan, ada satu hal yang mulai sering dikeluhkan penikmat kopi, yakni harga yang terus naik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik kenaikan harga ada cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar biaya operasional kedai atau inflasi. Cerita itu bermula ratusan kilometer dari kota-kota besar, di kebun-kebun kopi yang kini harus berhadapan dengan musim yang semakin sulit ditebak.
Dalam dua tahun terakhir, para petani kopi menghadapi fenomena yang oleh para ahli disebut sebagai "kemarau basah". Musim kemarau yang seharusnya kering justru diwarnai hujan yang turun hampir sepanjang tahun.
Bagi sebagian orang, hujan mungkin terdengar sebagai kabar baik. Namun bagi tanaman kopi, kondisi itu justru dapat menjadi masalah.
"Perubahan iklim, terutama terjadinya kemarau basah yang terjadi dua tahun terakhir ini sangat berpengaruh pada penurunan produktivitas kopi," kata Presti Mardiyani, Ahli Muda di Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.
Menurut Presti, tanaman kopi membutuhkan masa "stres air" selama dua hingga tiga bulan untuk memicu pembungaan yang optimal. Masa kering itu ibarat sinyal alami yang memberi tahu tanaman bahwa waktunya berbunga telah tiba.
Ketika hujan turun terus-menerus, sinyal tersebut menjadi kacau.
"Jika sepanjang tahun terjadi hujan, maka masa stres tidak optimal yang berpengaruh terhadap pembungaan tidak serentak, banyak bunga rontok, biji kopi yang terbentuk banyak yang kopong, dan memicu munculnya hama atau penyakit karena sebagian besar OPT menyukai kondisi lembab," ujarnya.
Akibatnya, hasil panen menurun. Sebagian bunga gagal menjadi buah. Sebagian buah tumbuh tidak sempurna. Sebagian lainnya terserang penyakit sebelum sempat dipanen.
Perubahan iklim juga tidak memukul semua jenis kopi dengan cara yang sama.
Indonesia selama ini dikenal sebagai rumah bagi beragam varietas kopi. Namun masing-masing memiliki kebutuhan lingkungan yang berbeda.
Presti menjelaskan bahwa kopi robusta umumnya tumbuh optimal pada ketinggian 400 hingga 900 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan kemiringan lahan kurang dari 30 persen. Sementara kopi arabika membutuhkan udara yang lebih sejuk dan biasanya ditanam pada ketinggian lebih dari 1.000 hingga 2.100 mdpl dengan kemiringan lahan kurang dari 20 persen.
Selama kondisi lingkungan sesuai, tanaman dapat tumbuh dengan baik. Namun ketika suhu meningkat dan pola musim berubah, keseimbangan itu mulai terganggu.
Tak hanya hujan, cuaca ekstrem juga menjadi tantangan baru.
Menurut Presti, banyak orang menganggap ancaman terbesar datang dari banjir di dataran rendah. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
"Ancaman banjir akan terjadi jika lahan kopi terletak di daerah lereng gunung yang rawan longsor, atau di dataran rendah dan pesisir yang rawan banjir rob. Jadi lahan kopi yang rentan banjir tidak selalu lahan yang lokasinya di dataran rendah," ujarnya.
Selain banjir, tanaman kopi juga menghadapi tekanan dari meningkatnya intensitas sinar matahari.
"Cuaca ekstrem yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kopi adalah intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi karena tanaman kopi merupakan tanaman yang membutuhkan naungan sebesar 25-40 persen," kata Presti.
Ketika suhu semakin hangat, petani mulai mencari cara untuk beradaptasi. Salah satunya adalah dengan memindahkan budidaya ke wilayah yang lebih tinggi.
Fenomena ini terutama terjadi pada kopi arabika yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Add
as a preferred source on Google