Napas Pendek Kopi Indonesia di Tengah Kepungan Cuaca Ekstrem

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 12:59 WIB
Petani menjemur biji kopi arabika Gayo di pinggiran Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh Tengah, Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Bagi sebagian orang, hujan mungkin terdengar sebagai kabar baik. Namun bagi tanaman kopi, kondisi itu justru dapat menjadi masalah. (FOTO:ANTARA/Irwansyah Putra).

"Saat ini memang terjadi pergeseran penanaman kopi Arabika ke dataran yang lebih tinggi karena kopi Arabika membutuhkan suhu yang lebih rendah atau sejuk. Adanya peningkatan suhu atau pemanasan global mengakibatkan suhu lingkungan menjadi lebih tinggi, sehingga petani mencari dataran yang lebih tinggi untuk mendapatkan suhu yang lebih sesuai," ujarnya.

Secara perlahan, kopi seolah sedang "naik gunung".

Lahan-lahan yang dahulu dianggap ideal mulai terasa terlalu hangat. Sebaliknya, wilayah yang lebih tinggi kini menjadi semakin menarik bagi para petani. Namun perpindahan itu membawa persoalan baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika semakin banyak orang mengejar lahan di dataran tinggi, bagaimana nasib kawasan pegunungan dan hutan?

Menurut Presti, ekspansi kebun kopi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hutan.

"Dengan adanya migrasi tanaman kopi di lahan yang lebih tinggi, akan berpengaruh terhadap pemanfaatan kawasan hutan dengan mengacu pada sistem agroforestri dan tidak boleh dilaksanakan secara monokultur," ujarnya.

Dengan kata lain, kopi memang bisa menjadi bagian dari kawasan hutan, tetapi harus ditanam berdampingan dengan pepohonan lain, bukan menggantikan seluruh ekosistem yang sudah ada. Apa yang terjadi di kebun perlahan mulai terasa di tingkat industri. 

Ipong salah satunya, pemilik Toko Kopi Koopen di Malang ini melihat adanya perubahan dari pasokan kopi yang masuk ke tempat usahanya.

[Gambas:Youtube]

Selama bertahun-tahun, Koopen mengandalkan pasokan dari petani lokal di Jawa Timur yang telah menjadi mitra sejak 2014. Namun beberapa tahun terakhir, kondisi yang ia temui mulai berbeda.

"Ada penurunan kualitas di saat harga kopi naik. Perubahan diameter biji kopi lebih kecil dan jumlah pasokan berkurang kurang lebih 25 sampai 30 persen dari pasokan normal," kata Ipong.

Penurunan itu paling terasa pada kopi arabika. "Untuk jenis Arabika saat ini mulai terjadi penurunan kualitas dan kuantitas produksi," ujarnya.

Pada saat pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga pun cenderung bergerak naik.

Data Sistem Informasi Perkebunan dan Agribisnis (SIPASBUN) per 3 Juni 2026 menunjukkan harga kopi Arabika berasan atau green bean mencapai Rp130 ribu per kilogram. Sementara kopi Robusta berasan berada di kisaran Rp65.100 per kilogram.

Adapun di tingkat industri, lonjakannya bahkan lebih terasa.

"Harga kopi kualitas grade 1 dan specialty naik hampir 100 persen lebih. Tahun 2020 sampai 2022 harga kopi robusta grade 1 sekitar Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram untuk green bean. Saat ini sudah di kisaran Rp75 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram," kata Ipong.

Begitu juga dengan kopi jenis arabika, kenaikannya lebih tajam lagi.

"Arabika naik dari harga Rp80 ribu sampai Rp120 ribu menjadi sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per kilogram," ujarnya.

Meski demikian, perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab. Menurut Ipong, tingginya permintaan pasar global membuat pembeli lokal harus bersaing dengan pasar internasional.

"Kenaikan harga di level konsumen dipengaruhi efek dolar juga karena permintaan luar lebih tinggi dan lokal bersaing dengan harga internasional," katanya.

Koopen sendiri masih mampu menjaga pasokan karena memiliki hubungan jangka panjang dengan para petani. Namun satu hal yang tak bisa dihindari adalah kenaikan harga bahan baku.

"Sampai saat ini pasokan aman, tapi harga memang naik," ujar Ipong.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, masa depan kopi Indonesia tidak sepenuhnya suram.

Indonesia masih memiliki sejumlah varietas yang relatif tangguh menghadapi perubahan cuaca, seperti robusta, liberika, dan excelsa. Di saat yang sama, permintaan pasar domestik maupun ekspor masih terus tumbuh.

Namun secangkir kopi hari ini juga menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Ia hadir dalam bentuk yang sederhana di mana panen berkurang, harga yang meningkat, dan kebun-kebun kopi yang perlahan bergerak mencari rumah baru di dataran yang lebih tinggi.

(ins) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2