Ekonomi RI Masih Tumbuh, Mengapa Rupiah dan IHSG Sempat Tertekan?

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 16:35 WIB
Pasar menilai janggal ekonomi RI masih tumbuh, tetapi dua indikator utama pasar keuangan, yakni kurs rupiah dan IHSG justru bergerak ke arah sebaliknya. (Foto: CNNIndonesia/Adi ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih tertahan di level 5.000-an memunculkan pertanyaan di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih positif.

Bagi sebagian pelaku pasar, kondisi tersebut terlihat janggal. Di satu sisi ekonomi nasional masih tumbuh, namun di sisi lain dua indikator utama pasar keuangan justru bergerak ke arah sebaliknya.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan tekanan terhadap rupiah dan IHSG saat ini pada dasarnya masih dapat dikategorikan sebagai bagian dari dinamika pasar keuangan global.

"Pada dasarnya masih dapat dikategorikan sebagai fenomena yang relatif wajar dalam dinamika pasar keuangan, meskipun besarnya tekanan yang terjadi tetap perlu diwaspadai," kata Ronny kepada CNNIndonesia.com.

Menurut dia, rupiah dan IHSG merupakan dua indikator yang sangat sensitif terhadap persepsi risiko investor. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko di negara berkembang dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Saat ini pasar global menghadapi sejumlah tekanan sekaligus, mulai dari suku bunga AS yang masih tinggi, penguatan dolar AS, hingga ketidakpastian prospek ekonomi dunia. Kondisi tersebut membuat arus modal bergerak ke aset safe haven dan menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ronny menjelaskan pelemahan rupiah dan IHSG yang terjadi bersamaan bukanlah fenomena baru. Ketika investor asing menjual saham dan obligasi Indonesia, mereka juga menjual aset berdenominasi rupiah untuk kemudian ditukar menjadi dolar AS.

"Ketika investor asing keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia, mereka menjual aset rupiah dan mengonversinya ke dolar AS, sehingga nilai tukar tertekan dan indeks saham ikut melemah," ujarnya.

Meski demikian, Ronny menilai pasar biasanya mulai melihat faktor domestik apabila tekanan berlangsung terlalu lama atau lebih dalam dibandingkan negara berkembang lainnya.

"Pasar biasanya mulai menilai bahwa terdapat faktor domestik yang ikut memperburuk sentimen," katanya.

Namun, ia menilai terlalu sederhana jika seluruh pelemahan rupiah dan IHSG langsung dikaitkan dengan hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah. Menurutnya, investor mempertimbangkan banyak faktor sekaligus, mulai dari kondisi fiskal, arah kebijakan ekonomi, kepastian hukum, stabilitas politik, hingga prospek pertumbuhan jangka panjang.

"Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa investor sedang melakukan penilaian ulang terhadap tingkat risiko Indonesia," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet. Faktor global memang menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap rupiah dan IHSG.

Ia merinci suku bunga AS yang masih tinggi membuat aset berbasis dolar lebih menarik, sementara kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik turut menambah tekanan terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Namun, menurut Yusuf, faktor global saja belum cukup menjelaskan mengapa tekanan yang dialami Indonesia terlihat lebih besar dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.

"Sebagian pelemahan memang dapat dijelaskan oleh faktor global. Namun faktor global saja tidak cukup menjelaskan mengapa Indonesia mengalami tekanan yang lebih berat dibanding banyak negara lain di kawasan," kata Yusuf.

Ia menyoroti sejumlah pasar saham global yang masih mampu bertahan bahkan mencetak rekor baru di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Sebaliknya, pasar keuangan Indonesia justru mengalami tekanan yang relatif lebih dalam.

Menurut Yusuf, perhatian investor belakangan semakin tertuju pada isu tata kelola dan arah kebijakan ekonomi domestik. Salah satu sentimen yang sempat menjadi sorotan adalah keputusan MSCI mengeluarkan 19 saham Indonesia dari indeks global tanpa ada penambahan emiten baru.

"Bagi investor internasional, langkah ini tidak hanya dipandang sebagai penyesuaian teknis, tetapi juga sinyal adanya kekhawatiran terhadap kualitas tata kelola perusahaan, transparansi kepemilikan, dan likuiditas pasar," ujarnya.

Selain itu, pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah serta keberlanjutan berbagai program prioritas yang membutuhkan pembiayaan besar.

"Dengan kata lain, yang dipertanyakan investor bukan sekadar prospek pertumbuhan ekonomi, melainkan konsistensi aturan dan kredibilitas kebijakan," kata Yusuf.

(del/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK