ANALISIS

BI Rate Naik ke 5,5 Persen, Apa Cukup untuk Jinakkan Rupiah?

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 07:55 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 15-16 Mei  2019 di Gedung BI, Jakarta, 16 Mei 2019. Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan untuk mempertahankan tingkat su
Keputusan BI tidak dapat dibaca sebagai tanda kepanikan otoritas moneter, melainkan bentuk eskalasi respons terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar. (FOTO:CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6) di luar ekspektasi sebagian pelaku pasar.

Langkah tersebut diambil ketika nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.

Lantas, apakah langkah ini menandakan tekanan terhadap rupiah sudah sedemikian serius hingga membutuhkan respons cepat dari bank sentral?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai keputusan BI tidak dapat dibaca sebagai tanda kepanikan otoritas moneter, melainkan bentuk eskalasi respons yang terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga ke 5,5 persen sebaiknya tidak dibaca sebagai tanda kepanikan, melainkan sebagai eskalasi respons yang terukur," kata Yusuf kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/6).

Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin dan melakukan intervensi di pasar valas. Untuk itu, Yusuf menilai kenaikan kali ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kebijakan yang sama.

[Gambas:Youtube]

Ia menilai unsur kejutan dalam keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah dan tidak akan membiarkan pelemahan berlangsung tanpa respons.

Meski demikian, Yusuf mengakui tekanan eksternal terhadap rupiah saat ini lebih persisten dibandingkan perkiraan sebelumnya. Konflik di Timur Tengah memicu arus modal keluar dari negara berkembang dan mendorong rupiah menembus level Rp18 ribu per dolar AS.

"Jadi situasinya memang serius dan perlu diwaspadai, tetapi lebih tepat dipahami sebagai upaya manajemen risiko yang proaktif daripada respons terhadap kondisi darurat," ujarnya.

Yusuf menjelaskan kenaikan suku bunga tetap memiliki dampak positif dalam menjaga daya tarik aset domestik sehingga selisih imbal hasil dengan negara maju tetap kompetitif dan dapat menahan keluarnya modal asing.

Selain itu, stabilitas rupiah juga diperlukan untuk menekan risiko imported inflation atau inflasi impor. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku industri, energi, hingga pangan yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga di dalam negeri.

Namun, ia mengingatkan kemampuan suku bunga dalam menopang rupiah tetap terbatas. Sebab, tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini lebih banyak dipicu faktor global, terutama perpindahan dana investor ke aset aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

"Dalam situasi seperti itu, suku bunga lebih berfungsi untuk meredam tekanan dan mengurangi volatilitas daripada membalikkan arah pergerakan rupiah secara penuh," katanya.

Yusuf menilai stabilitas rupiah tidak bisa hanya ditopang kebijakan moneter. Persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan arah kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan rupiah.

Add as a preferred
source on Google
BI Rate Naik ke 5,5 Persen, Apa Cukup untuk Jinakkan Rupiah? BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2