ANALISIS

BI Rate Naik ke 5,5 Persen, Apa Cukup untuk Jinakkan Rupiah?

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 07:55 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Rabu, 5 September 2018.
Keputusan BI tidak dapat dibaca sebagai tanda kepanikan otoritas moneter, melainkan bentuk eskalasi respons terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Menurut dia, jika investor meragukan keberlanjutan fiskal atau konsistensi kebijakan pemerintah, premi risiko terhadap aset Indonesia akan meningkat sehingga kenaikan suku bunga tidak selalu cukup untuk mengimbangi kekhawatiran pasar.

"Karena itu, kenaikan suku bunga saja tidak cukup. Stabilitas rupiah pada akhirnya menjadi tanggung jawab bersama," ujarnya.

Ia menambahkan kebijakan moneter yang ketat harus didukung kebijakan fiskal yang kredibel, komunikasi pemerintah yang jelas, serta langkah struktural untuk memperdalam pasar keuangan dan menarik investasi jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai keputusan Bank Sentral menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen merupakan langkah yang tepat mengingat tekanan terhadap rupiah telah lebih dalam dari perkiraan.

"Menurut saya, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate hari ini merupakan langkah yang tepat karena rupiah sudah melemah lebih dalam dari perkiraan, tekanan global masih tinggi, dan pasar membutuhkan sinyal bahwa BI tidak membiarkan pelemahan rupiah bergerak tanpa respon kebijakan," kata Josua.

Ia menjelaskan kenaikan suku bunga akan memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal asing, sekaligus mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk menjaga stabilitas kurs.

Meski begitu, Josua menegaskan pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu perbedaan imbal hasil dengan aset dolar AS. Menurutnya, tekanan global seperti konflik Timur Tengah, tingginya harga minyak, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, hingga kecenderungan investor mencari aset aman juga berperan besar.

Di sisi domestik, pasar masih mencermati kredibilitas fiskal pemerintah, arah kebijakan ekonomi, arus keluar dana dari pasar saham, serta kepastian regulasi.

"Karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah," ujarnya.

Josua memperkirakan efektivitas kebijakan BI akan sangat bergantung pada kemampuan menarik kembali dana asing ke instrumen domestik, koordinasi pemerintah dan BI menjaga likuiditas perbankan, serta keberhasilan pemerintah memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal dan kepastian kebijakan.

Ia mengingatkan kenaikan suku bunga juga berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan dan menahan penurunan bunga kredit, sehingga dapat menambah tekanan bagi dunia usaha yang tengah menghadapi pelemahan rupiah dan kenaikan biaya energi.

Karena itu, menurutnya, stabilisasi rupiah harus diimbangi dengan upaya menjaga likuiditas agar pembiayaan sektor riil tidak terganggu.

"Rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga yang menarik, tetapi juga kepercayaan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia tetap konsisten, hati-hati, dan ramah terhadap investasi," tutup Josua.

[Gambas:Youtube]

(ins) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2