Wamentan Endus Anomali Harga Sawit Turun saat CPO Naik

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 10:55 WIB
Wamentan menilai turunnya harga TBS kelapa sawit di tingkat petani saat harga minyak sawit mentah atau CPO. (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menilai turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani saat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia sedang tinggi merupakan kondisi yang tidak wajar.

Ia bahkan menduga ada pihak di rantai distribusi yang mengambil keuntungan terlalu besar.

Sudaryono mengatakan harga CPO global saat ini meningkat. Di saat yang sama, nilai tukar dolar AS yang lebih tinggi terhadap rupiah seharusnya ikut mendorong kenaikan nilai jual komoditas sawit dalam mata uang domestik.

Namun, kondisi yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Harga TBS yang diterima petani di berbagai daerah dilaporkan mengalami penurunan.

"Ini anomali, jelas anomali. Harga CPO dunia naik, nilai tukar rupiahnya lebih tinggi. Artinya secara rupiah harga jualnya lebih tinggi. Tetapi di sisi petani terjadi penurunan harga pembelian TBS kelapa sawit. Ini anomali," kata Sudaryono dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Rabu (17/6).

Ia mengaku menerima laporan dari berbagai asosiasi petani sawit yang dibinanya, termasuk dari sejumlah kepala daerah, mengenai penurunan harga TBS yang terjadi hampir merata di sentra-sentra produksi sawit nasional.

Dari berbagai laporan tersebut, Sudaryono menilai ada persoalan dalam rantai tata niaga sawit yang perlu mendapat perhatian.

"Sudah jelas keliru. Harga tinggi tapi harga belinya turun. Berarti ada somebody in the middle yang kemudian mengambil keuntungan terlalu besar," ujarnya.

Menurut Sudaryono, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian berbagai pihak karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani sawit. Ia mengaku selama ini belum banyak melihat sorotan publik terhadap kondisi tersebut.

Ia berharap kalangan mahasiswa maupun kelompok masyarakat yang aktif melakukan advokasi dapat turut menyoroti persoalan yang dihadapi petani, termasuk anomali harga sawit saat ini.

"Misalnya tadi TBS sawit turun, itu kan jelas anomali, jelas salah. Saya berharap adik-adik mahasiswa sebagai salah satu kaum intelektual bisa melihat fenomena ini dan melakukan advokasi terhadap anomali yang memang terjadi," katanya.

Dalam kesempatan sama, Sudaryono kembali menyinggung rencana penerapan skema ekspor sawit satu pintu yang menurutnya dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menentukan harga komoditas sawit global.

Ia menuturkan sekitar 60 persen pasokan minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. Namun selama ini harga sawit internasional masih banyak mengacu pada bursa di Rotterdam maupun Malaysia.

"Jadi kita ini penguasa dunia, namun sejauh ini harga itu tidak kita yang tentukan. Harga itu ditentukan di Rotterdam sama harga ditentukan di Malaysia. Kita yang harus menentukan harga itu," ujarnya.

Menurut dia, sistem ekspor satu pintu dapat memberikan kepastian harga sekaligus memperkuat perlindungan terhadap petani sawit dalam negeri.

Selain itu, pemerintah sebenarnya telah memiliki mekanisme penetapan harga TBS melalui peraturan Kementerian Pertanian yang diterapkan di tingkat daerah melalui keputusan gubernur.

Dalam mekanisme tersebut, penetapan harga dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, petani, serta pabrik kelapa sawit (PKS). Namun, Sudaryono mengatakan masih banyak keluhan terkait pelaksanaan aturan tersebut di lapangan.

"Sudah diputuskan harga di setiap provinsi, tapi kemudian pabrik kelapa sawitnya tidak membeli sesuai dengan harga yang ditentukan," ujarnya.

(del/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK