Schneider Electric Dorong Investasi Berdampak untuk Akses Enegi di RI

Schneider | CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 17:36 WIB
Foto: Arsip Schneider
Jakarta, CNN Indonesia --

Transisi energi kerap identik dengan pembangunan pembangkit listrik, pengembangan teknologi rendah karbon, dan investasi infrastruktur berskala besar.

Namun di tingkat masyarakat, transisi energi juga berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Misalnya, bagaimana petani dapat mengurangi biaya operasional, pelaku usaha kecil memperoleh listrik yang lebih andal dan terjangkau, serta bagaimana komunitas dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim.

Perspektif tersebut menjadi salah satu landasan Schneider Electric dalam mendorong akses energi berkelanjutan di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.

Melalui Schneider Electric Energy Access Asia (SEEAA), perusahaan mendorong investasi berdampak yang berfokus pada Perusahaan rintisan (starup) tahap awal di sektor energi bersih, akses energi, mobilitas rendah karbon, dan solusi iklim.

SEEAA berperan sebagai jembatan antara ambisi global Schneider Electric dan dampak nyata di tingkat lokal. Di tingkat global, Schneider Electric menargetkan dukungan bagi 100 juta orang untuk memperoleh akses terhadap listrik berkelanjutan pada 2030.

Namun, target tersebut membutuhkan eksekusi lokal melalui solusi yang relevan, terukur, dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

"Kami berinvestasi pada perusahaan tahap awal yang secara langsung menyediakan akses energi dan layanan energi bersih kepada pengguna akhir," ujar SVP Corporate Citizenship & Institutional Affairs Schneider Electric Gilles Vermot Desroches dalam keterangan resmi, Selasa (23/6).

Menurut Gilles, dampak tersebut diukur melalui indikator yang jelas di tingkat perusahaan, seperti jumlah penerima manfaat, emisi yang dihindari, dan lapangan kerja yang tercipta.

Dengan demikian, dampak yang dihasilkan tidak hanya menjadi target abstrak, tetapi juga terhubung langsung dengan aktivitas perusahaan yang didukung, mulai dari pemasangan sistem tenaga surya, akses energi bersih, hingga elektrifikasi mobilitas.

Di Indonesia, pendekatan ini memungkinkan SEEAA mendukung model bisnis yang relevan dengan kebutuhan lokal. Beberapa perusahaan yang didukung, seperti Agros, Xurya, SolarKita, dan Dash Electric, menunjukkan bahwa transisi energi dapat menjawab persoalan yang dekat dengan masyarakat dan pelaku usaha.

Agros, misalnya, mendukung petani melalui solusi pertanian berkelanjutan, termasuk pemanfaatan energi surya untuk menggantikan irigasi berbasis diesel.

Pendekatan ini dapat membantu menekan biaya bahan bakar, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat ketahanan petani dalam menghadapi tantangan iklim maupun biaya operasional.

Foto: Arsip Schneider


Di sisi lain, perusahaan energi surya seperti Xurya dan SolarKita membantu pelaku usaha maupun rumah tangga mengakses listrik yang lebih bersih, terjangkau, dan andal. Bagi pelaku usaha kecil, efisiensi biaya energi dapat berdampak langsung pada margin usaha dan keberlanjutan operasional.

Sementara itu, Dash Electric mendukung peralihan menuju mobilitas listrik, terutama dalam ekosistem logistik dan layanan berbasis kendaraan roda dua.

Selain membantu menurunkan emisi dan polusi udara perkotaan, penggunaan kendaraan listrik juga dapat menekan biaya operasional pengemudi dan meningkatkan prediktabilitas pendapatan mereka.

"Perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal adopsi dan penyelesaian masalah sehari-hari bagi masyarakat dan bisnis," jelas Gilles.

Inovasi energi bersih di Indonesia mulai menunjukkan hasil yang terukur. Hingga akhir Desember 2025, perusahaan yang didukung SEEAA dan beroperasi di Indonesia telah menjangkau lebih dari 38.000 penerima manfaat, menghindari lebih dari 407.000 ton CO2e emisi, serta mendukung lebih dari 280 lapangan kerja.

Menurut Gilles, angka tersebut menunjukkan bahwa inovasi energi bersih tidak lagi hanya berada pada tahap uji coba, tetapi sudah menjangkau pengguna yang nyata.

Jumlah penerima manfaat menunjukkan bahwa solusi tersebut mulai diadopsi lebih luas, sementara emisi yang dihindari menunjukkan kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.

Di sisi lain, lapangan kerja yang tercipta menegaskan bahwa transisi energi juga dapat mendukung pembangunan ekonomi lokal, termasuk melalui peran baru dalam instalasi, pemeliharaan, dan operasional.

"Angka-angka ini menunjukkan bahwa inovasi energi bersih di Indonesia tidak hanya layak secara komersial, tetapi juga telah memberikan dampak lingkungan, peluang ekonomi, serta meningkatkan akses terhadap layanan," katanya.

Melalui SEEAA, Schneider Electric berfokus pada tiga hal:

Menghubungkan Aksi Iklim sampai Mata Pencaharian

Foto: Arsip Schneider

Di luar SEEAA, komitmen Schneider Electric terhadap aksi iklim yang inklusif juga tercermin melalui keterlibatannya dalam Livelihoods Funds.

Apabila SEEAA berfokus pada investasi di perusahaan tahap awal yang menghadirkan solusi energi bersih dan akses energi, Livelihoods Funds menempatkan masyarakat pedesaan, petani, dan ekosistem lokal sebagai bagian penting dari upaya membangun ketahanan iklim jangka panjang.

Melalui pendekatan ini, aksi iklim tidak dipandang semata sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai upaya untuk memperkuat mata pencaharian, memperbaiki kualitas ekosistem, dan menciptakan perubahan yang lebih berkelanjutan di tingkat komunitas.

Dalam kunjungannya ke Indonesia baru-baru ini, Gilles melihat secara langsung bahwa aksi iklim, restorasi ekosistem, dan kehidupan masyarakat pedesaan saling terkait erat.

Ia menilai, restorasi ekosistem melalui pendekatan seperti agroforestri bukan hanya intervensi lingkungan, tetapi juga berdampak pada pendapatan petani, kesehatan tanah, produktivitas jangka panjang, serta kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Namun, dampak tersebut tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, serta pemahaman terhadap realitas di lapangan.

Menurutnya, transformasi tidak bisa hanya dilakukan dengan menerapkan model yang sudah ditentukan sebelumnya, tetapi harus dimulai dengan mendengarkan kebutuhan masyarakat lokal dan membangun solusi yang praktis serta inklusif.

"Transisi ini sangat manusiawi. Ini tentang kepercayaan, hubungan, dan tujuan bersama dalam jangka panjang. Solusi iklim yang berhasil harus melampaui jawaban teknis. Solusi tersebut harus berakar pada ekosistem lokal, selaras dengan mata pencaharian masyarakat, dan dibangun melalui kemitraan," ujar Gilles.

Pada akhirnya, transisi energi berkeadilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi baru diterapkan, tetapi juga oleh seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Melalui SEEAA di sektor akses energi, serta Livelihoods Funds pada agenda restorasi ekosistem dan ketahanan mata pencaharian, Schneider Electric berupaya mendukung solusi yang memperluas akses energi, memperkuat ketahanan komunitas, serta menciptakan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut klik di sini.

(inh)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK