Kala Karbon Bawa Kopi Pelosok Jambi Melanglang ke Negeri Kincir Angin
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 14:00 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kelompok Agam Maju Bersama menggunakan dana hasil perdagangan karbon untuk meningkatkan kapasitas produksi Kopi Delapan. (CNN Indonesia/Endrapta Ibrahim Pramudhiaz).
Jambi, CNN Indonesia --
Hujan turun perlahan di Desa Laman Panjang, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi.
Di atas tikar hijau yang membentang di lantai sebuah rumah produksi sederhana, beberapa cangkir bening berisi kopi robusta tersaji bersama makanan kecil manis.
Kepulan uap tipis terus mengepul dari permukaannya. Sesekali terdengar suara seruputan yang diikuti embusan napas lega. "Aaah..."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suara itu bersahut-sahutan dengan rintik hujan yang membasahi atap bangunan kayu tersebut.
Secangkir kopi menjadi pengikat obrolan bersama orang-orang di balik Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kelompok Agam Maju Bersama.
Dari tempat sederhana inilah mereka mengolah Kopi Delapan, merek kopi robusta yang lahir dari hutan dan kini mulai dikenal hingga ke luar negeri.
Nama "Delapan" bukan tanpa alasan. Nama itu diambil dari Desa Laman Panjang, kampung tempat kopi tersebut berasal. Kemasannya sederhana.
Sebungkus kopi seberat 50 gram dijual seharga Rp10 ribu. Pada bagian depan terpampang ilustrasi seorang petani sedang berdiri di kebun kopi. Di sudut kemasan terpasang logo halal, lalu pada bagian belakang tertulis kalimat yang mengundang senyum.
"Kopi robusta Delapan ini cocok jadi teman ngumpul bareng teman dan keluarga, dijamin bikin ngantuk hilang."
Di tengah udara yang dingin, kopi tersebut benar-benar menghangatkan tubuh sekaligus membuka percakapan panjang mengenai perjalanan usaha yang mereka bangun bersama.
Rumah produksi tempat mereka berkumpul jauh dari kata mewah. Bangunannya terbuat dari kayu dengan pencahayaan alami yang masuk melalui jendela-jendela. Tikar hijau menjadi alas duduk. Aroma kopi yang baru diseduh pun memenuhi seluruh ruangan.
Di tempat itulah para anggota bercerita tentang bagaimana mereka merawat kopi sejak masih berupa bibit hingga berubah menjadi bubuk siap seduh.
Tak lama setelah hujan reda, rombongan diajak berjalan menuju salah satu kebun kopi milik anggota kelompok. Jalan setapak yang cukup curam mengantarkan ke hamparan tanaman kopi.
Di sana, Neti, salah seorang anggota yang bertanggung jawab di bidang pemasaran, mulai menceritakan perjalanan Kelompok Kopi Agam Maju Bersama.
Menurut dia, hampir seluruh proses produksi dikerjakan sendiri oleh para anggota. Mulai dari memilih bibit, menanam, merawat pohon, memanen buah kopi, menggilingnya menjadi bubuk, hingga memasarkannya ke konsumen.
Kelompok Kopi Agam Maju Bersama tercipta pada 2019 setelah para petani menyadari kopi yang mereka tanam selama ini hanya dijual dalam bentuk biji kepada tengkulak. Padahal, nilai jualnya bisa jauh lebih tinggi apabila diolah menjadi produk jadi.
Meski kelompok sudah dibentuk sejak 2019, kegiatan produksi baru benar-benar berjalan pada 2023.
"KUPS-nya mulai berjalan pada 2023," ujar Neti kepada CNNIndonesia.com pada Juni lalu.
Perlahan, Kopi Delapan mulai menemukan pasarnya. Penjualannya memang masih didominasi wilayah Kecamatan Bathin III Ulu, tetapi kopi tersebut telah menembus berbagai daerah di luar Kabupaten Bungo hingga luar Provinsi Jambi.
Bahkan, sebagian produknya pernah terbang ke Bangkok, Thailand. Tahun lalu, mereka mengirim sekitar dua kilogram kopi ke Negeri Gajah Putih tersebut.
Dalam sebulan, mereka biasanya melakukan produksi dua kali. Setiap kali proses produksi, sekitar 20 kilogram kopi berhasil diolah.
Pada tahun pertama usaha berjalan, omzet kotor yang mereka peroleh mencapai sekitar Rp21 juta. Meski begitu, Neti mengakui perjalanan usaha tidak selalu mulus.
"Namanya usaha kadang naik kadang turun, tapi alhamdulillah kami masih tetap produksi," ujar Neti.
Tantangan terbesar justru datang dari pemasaran. Jumlah orang yang memperkenalkan produk masih terbatas dan pengembangan kebun juga terkendala modal dan tenaga.
Ada kalanya mereka menitipkan kopi ke warung, tetapi produk tersebut tidak laku. Perasaan kecewa tentu ada. Namun, semangat mereka tidak luntur.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Menurut Neti, bergabung ke kelompok ini memiliki segudang manfaat. Keuntungan pun tidak meluluhkan soal penghasilan.
Ia merasa pengetahuannya tentang kopi berkembang sangat pesat. Kalau dulu hanya mengenal kopi sebagai tanaman, kini ia memahami seluruh proses produksi hingga pemasaran.
Bahkan, ia berkelakar sudah cukup percaya diri apabila diminta menjadi narasumber mengenai kopi.
Perubahan serupa juga dirasakan anggota lainnya. Kini mereka memahami teknik budidaya yang lebih baik, mulai dari memilih bibit hingga memasarkannya.
Dari sisi ekonomi pun manfaatnya mulai terasa. Setiap anggota memperoleh keuntungan ganda. Hasil panen dari kebun menjadi milik pribadi serta keuntungan penjualan kopi bubuk yang dibagikan kepada kelompok.
Neti juga bercerita kalau kopi ini sudah membawa dia ke Belanda. Kopi Delapan membawanya terbang dari Jambi ke Amsterdam.
Ia terpilih mewakili Indonesia dalam kerja sama bersama International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai perwakilan perempuan yang dikirim dari Indonesia.
"Dari IUCN meminta perwakilan seorang perempuan dari Indonesia. Alhamdulillah saya terpilih," ujar Neti.
Selama dua pekan berada di Negeri Kincir Angin, Neti berkesempatan mengunjungi berbagai institusi, mulai dari kantor pemerintahan, Uni Eropa, Kementerian Luar Negeri Belanda, hingga Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Di kesempatan tersebut, ia memperkenalkan Kopi Delapan sekaligus menceritakan bagaimana masyarakat menjaga hutan di kampung halamannya.
Sambutan yang diterimanya membuat Neti terkesan. Menurut dia, masyarakat Eropa menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap kelestarian hutan.
"Saya beberapa kali mendapatkan surprise sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga hutan dan tinggal di sekitar hutan," ujar Neti.
Baginya, penghargaan tersebut terasa istimewa. Apa yang selama ini dianggap biasa oleh masyarakat yang hidup di sekitar hutan, ternyata dipandang sangat berharga oleh masyarakat di belahan dunia lain.
"Rasa cinta orang terhadap hutan dan lingkungan sangat tinggi. Mereka memberikan apresiasi kepada saya yang mungkin bagi saya yang tinggal di hutan ini enggak seberapa nilainya, tetapi bagi orang luar sana sangat berharga, sangat berterima kasih sekali," ujarnya.
"Perempuan memang terlihat lemah, tetapi untuk menjaga hutan, perempuan sangat kuat," ujar Neti secara bangga.
Berkah Cuan Perdagangan Karbon
Di balik berkembangnya Kelompok Kopi Agam Maju Bersama, ada cuan dari perdagangan karbon.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat potensi karbon Indonesia dari sektor kehutanan yang dapat diperdagangkan mencapai sekitar 13,4 miliar ton setara karbon dioksida (CO2e) hingga 2050.
Potensi tersebut tersebar di sejumlah wilayah kehutanan, termasuk Jambi.
Pada 2018, perdagangan karbon hasil proyek karbon di wilayah tersebut mulai dilakukan.
Fredi Yusuf, Carbon Accounting Specialist Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi) selaku komunitas pendamping masyarakat setempat, mengatakan sebagian dana hasil perdagangan karbon di daerah tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok kopi ini.
Melalui dana tersebut, para petani dibawa belajar ke Jangkat, Kabupaten Merangin, salah satu sentra kopi di Jambi. Di sana mereka mempelajari berbagai teknik budidaya, mulai dari penanaman, pemangkasan, hingga perawatan tanaman.
"Itu daerah penghasil kopi di kabupaten sebelah. Memang daerah itu terkenal sebagai penghasil kopi," ujar Fredi.
Sebelumnya, masyarakat memang telah menanam kopi secara turun-temurun. Namun, pengetahuan mengenai teknik budidaya masih terbatas, sehingga produktivitas kebun belum optimal.
Selain memberikan pelatihan di lapangan, KKI Warsi juga mendampingi anggota kelompok mengoperasikan mesin pengolahan kopi yang diberikan pemerintah daerah.
Dari sebuah rumah kayu sederhana di pelosok Jambi, secangkir Kopi Delapan akhirnya tak lagi sekadar menjadi hasil panen petani.
Ia berubah menjadi bukti bahwa hutan yang dijaga dengan baik bukan hanya melahirkan udara bersih dan sumber air yang lestari, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat desa untuk memperkenalkan hasil buminya hingga ke panggung dunia.
Nature Climate Solution Lead Konservasi Indonesia Iwan Wibisono menilai hal yang paling berharga dari keterlibatan masyarakat dalam rantai perdagangan karbon adalah membangun kesadaran bersama untuk menjaga hutan.
Bagi Iwan, nilai ekonomi karbon dan turunannya hanyalah bonus.
"Awalnya pemanfaatan jasa lingkungan melalui pemanfaatan nilai ekonomi karbon itu bukan target utamanya, tetapi target utamanya adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan atau kapasitas mengelola hutannya dengan baik, hutan yang ada di sekitar mereka," ujar Iwan.
Pemerintah Indonesia sendiri terus melakukan perbaikan untuk mengoptimalkan aktivitas perdagangan karbon di Indonesia.
Salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Kehutanan.
Penasihat Utama Menteri Kehutanan Edo Mahendra menilai Permenhut 6/2026 menjadi terobosan penting karena memberikan kepastian hukum yang lebih jelas bagi investor dan pelaku usaha.
Aturan ini juga memberikan kepastian mengenai peran pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam perdagangan karbon.
"Kita memberikan kepastian hukum. (Permenhut 6/2026) ini memberikan certainty, clarity, dan stability bagi para investor," ujar Edo saat ditemui beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, pemerintah juga baru Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai fondasi utama tata kelola pasar karbon nasional pada Kamis (9/7) lalu.
Sistem ini diharapkan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, keterlacakan (traceability), serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor di perdagangan karbon RI.