Kala Karbon Bawa Kopi Pelosok Jambi Melanglang ke Negeri Kincir Angin
Hujan turun perlahan di Desa Laman Panjang, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi.
Di atas tikar hijau yang membentang di lantai sebuah rumah produksi sederhana, beberapa cangkir bening berisi kopi robusta tersaji bersama makanan kecil manis.
Kepulan uap tipis terus mengepul dari permukaannya. Sesekali terdengar suara seruputan yang diikuti embusan napas lega. "Aaah..."
Suara itu bersahut-sahutan dengan rintik hujan yang membasahi atap bangunan kayu tersebut.
Lihat Juga : |
Secangkir kopi menjadi pengikat obrolan bersama orang-orang di balik Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kelompok Agam Maju Bersama.
Dari tempat sederhana inilah mereka mengolah Kopi Delapan, merek kopi robusta yang lahir dari hutan dan kini mulai dikenal hingga ke luar negeri.
Nama "Delapan" bukan tanpa alasan. Nama itu diambil dari Desa Laman Panjang, kampung tempat kopi tersebut berasal.
Kemasannya sederhana.
Sebungkus kopi seberat 50 gram dijual seharga Rp10 ribu. Pada bagian depan terpampang ilustrasi seorang petani sedang berdiri di kebun kopi. Di sudut kemasan terpasang logo halal, lalu pada bagian belakang tertulis kalimat yang mengundang senyum.
"Kopi robusta Delapan ini cocok jadi teman ngumpul bareng teman dan keluarga, dijamin bikin ngantuk hilang."
Di tengah udara yang dingin, kopi tersebut benar-benar menghangatkan tubuh sekaligus membuka percakapan panjang mengenai perjalanan usaha yang mereka bangun bersama.
Rumah produksi tempat mereka berkumpul jauh dari kata mewah. Bangunannya terbuat dari kayu dengan pencahayaan alami yang masuk melalui jendela-jendela. Tikar hijau menjadi alas duduk. Aroma kopi yang baru diseduh pun memenuhi seluruh ruangan.
Di tempat itulah para anggota bercerita tentang bagaimana mereka merawat kopi sejak masih berupa bibit hingga berubah menjadi bubuk siap seduh.
Tak lama setelah hujan reda, rombongan diajak berjalan menuju salah satu kebun kopi milik anggota kelompok. Jalan setapak yang cukup curam mengantarkan ke hamparan tanaman kopi.
Di sana, Neti, salah seorang anggota yang bertanggung jawab di bidang pemasaran, mulai menceritakan perjalanan Kelompok Kopi Agam Maju Bersama.
Menurut dia, hampir seluruh proses produksi dikerjakan sendiri oleh para anggota. Mulai dari memilih bibit, menanam, merawat pohon, memanen buah kopi, menggilingnya menjadi bubuk, hingga memasarkannya ke konsumen.
Kelompok Kopi Agam Maju Bersama tercipta pada 2019 setelah para petani menyadari kopi yang mereka tanam selama ini hanya dijual dalam bentuk biji kepada tengkulak. Padahal, nilai jualnya bisa jauh lebih tinggi apabila diolah menjadi produk jadi.
Meski kelompok sudah dibentuk sejak 2019, kegiatan produksi baru benar-benar berjalan pada 2023.
"KUPS-nya mulai berjalan pada 2023," ujar Neti kepada CNNIndonesia.com pada Juni lalu.
Perlahan, Kopi Delapan mulai menemukan pasarnya. Penjualannya memang masih didominasi wilayah Kecamatan Bathin III Ulu, tetapi kopi tersebut telah menembus berbagai daerah di luar Kabupaten Bungo hingga luar Provinsi Jambi.
Bahkan, sebagian produknya pernah terbang ke Bangkok, Thailand. Tahun lalu, mereka mengirim sekitar dua kilogram kopi ke Negeri Gajah Putih tersebut.
Dalam sebulan, mereka biasanya melakukan produksi dua kali. Setiap kali proses produksi, sekitar 20 kilogram kopi berhasil diolah.
Pada tahun pertama usaha berjalan, omzet kotor yang mereka peroleh mencapai sekitar Rp21 juta. Meski begitu, Neti mengakui perjalanan usaha tidak selalu mulus.
"Namanya usaha kadang naik kadang turun, tapi alhamdulillah kami masih tetap produksi," ujar Neti.
Tantangan terbesar justru datang dari pemasaran. Jumlah orang yang memperkenalkan produk masih terbatas dan pengembangan kebun juga terkendala modal dan tenaga.
Ada kalanya mereka menitipkan kopi ke warung, tetapi produk tersebut tidak laku. Perasaan kecewa tentu ada. Namun, semangat mereka tidak luntur.
Bersambung ke halaman berikutnya...