Harga Minyak Dunia Masih Bertahan Dekat Level US$100 per Barel

CNN Indonesia
Jumat, 24 Jul 2026 10:12 WIB
Harga minyak dunia turun tipis ke US$99,97 per barel pada perdagangan Jumat (24/7), tetapi bersiap mencatat kenaikan mingguan tajam. (Foto: IAN TIMBERLAKE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia turun tipis ke US$99,97 per barel pada perdagangan Jumat (24/7), tetapi bersiap mencatat kenaikan mingguan tajam.

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan kembali meningkat setelah serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal tanker di Laut Merah memicu ancaman penutupan jalur pelayaran penting.

Di sisi lain, Kazakhstan memangkas produksi akibat terganggunya rute ekspor utama.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 72 sen atau 0,72 persen menjadi US$99,97 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 70 sen atau 0,76 persen ke level US$91,49 per barel.

Meski terkoreksi, Brent masih berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 13,5 persen, sedangkan WTI diperkirakan menguat 10,9 persen sepanjang pekan ini.

Sehari sebelumnya, Brent ditutup melonjak 7 persen dan WTI naik 6,2 persen. Ini menjadi pertama kalinya sejak Mei harga Brent ditutup di atas level psikologis US$100 per barel.

Lonjakan harga dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran, mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa jalur pelayaran Bab el-Mandeb dapat ditutup. Selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia itu merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia setelah Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga berjanji akan meminta pertanggungjawaban Iran apabila kembali terjadi serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi setelah Negeri Raja Salman mengalihkan ekspor minyaknya melalui jaringan pipa untuk menghindari penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Iran juga disebut mendesak Houthi untuk menutup jalur Bab el-Mandeb apabila AS terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, menyusul runtuhnya gencatan senjata sementara kedua negara dua pekan lalu.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan risiko terhadap rantai pasok energi global kembali meningkat.

"Jerat terhadap jalur pasokan energi global kembali mengencang," kata Sycamore dalam catatannya.

Di sisi lain, pasokan minyak global juga mendapat tekanan dari Kazakhstan. Kementerian Energi negara itu menyatakan perusahaan-perusahaan minyak untuk sementara mengurangi produksi setelah dugaan serangan drone Ukraina memaksa penutupan terminal ekspor utama di Laut Hitam.

(ldy/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK