Membaca Arah Rupiah di Tengah Pencarian Maestro Baru BI
Intervensi Terukur
Josua mengingatkan BI tetap memiliki kewenangan penuh untuk menjaga stabilitas rupiah meski belum memiliki gubernur definitif.
Saat ini, posisi tersebut dijalankan oleh Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti bersama seluruh Dewan Gubernur.
Menurut dia, keputusan BI bersifat kolektif kolegial, sehingga kebijakan suku bunga, likuiditas, intervensi pasar, hingga sistem pembayaran tidak bergantung pada satu orang semata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jangka pendek, BI perlu memperkuat intervensi secara terukur di pasar luar negeri, pasar tunai dalam negeri, dan transaksi berjangka tanpa penyerahan.
BI juga perlu menjaga suku bunga pasar uang dan imbal hasil instrumen moneternya agar aset rupiah tetap menarik, tanpa menyerap likuiditas perbankan secara berlebihan.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto juga dinilai memiliki peran penting untuk mengurangi ketidakpastian dengan segera memberikan kejelasan mengenai proses pemilihan Gubernur BI yang baru.
"Presiden harus segera menyampaikan jadwal dan kriteria pemilihan Gubernur baru serta mengutamakan figur teknokrat yang memiliki pengalaman moneter dan pasar," ujar Josua.
Terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai pergerakan rupiah tidak mengalami volatilitas yang besar setelah pengunduran diri Perry.
Pasalnya, jika dikaitkan dengan pelemahan nilai tukar usai suatu keputusan besar, dalam hal ini pengunduran diri gubernur BI, nyatanya rupiah disebut masih dalam kondisi yang relatif stabil.
"Sekarang kalau kita melihat dari pergerakan rupiah sempat naik di atas Rp18.100-an, sekarang kembali ke Rp18 ribu. Jadi, volatilitasnya rendah," ujar Faisal kepada CNNIndonesia.com.
Ia menilai pasar tetap memandang BI mampu melakukan intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah serta masih dapat menunjukkan kredibilitas dan independensi.
Meski demikian, Faisal mengingatkan pasar tetap akan mengawasi proses pemilihan Gubernur BI berikutnya.
Menurut dia, figur pengganti Perry tidak hanya harus memiliki kapasitas teknis dan pengalaman di bidang kebijakan moneter, tetapi juga mampu menjaga independensi BI dari kepentingan politik.
"Yang lebih penting sekarang menurut saya adalah figurnya itu, ini berkaitan juga dengan kekhawatiran terhadap independensi BI, harus dipastikan punya jarak dengan para figur politik yang ada di pemerintahan dan juga di DPR," ujar Faisal.
Hal tersebut dinilai penting karena kepercayaan pasar terhadap rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi juga oleh keyakinan bahwa bank sentral tetap independen.
(dhz/sfr) Add
as a preferred source on Google