Purbaya: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,6-6 Persen pada 2026
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perekonomian Indonesia diproyeksi mampu tumbuh di kisaran 5,6 persen hingga 6 persen pada 2026.
Kendati, laju ekonomi masih dibayangi meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik.
Purbaya mengatakan proyeksi tersebut ditopang sinergi kebijakan pemerintah bersama anggota KSSK dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan nasional.
"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6 sampai 6 persen year on year, ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026 di Kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8).
Ia mengatakan hasil asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada kuartal II 2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
"Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama kuartal II 2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas," katanya.
Menurut Purbaya, memasuki kuartal II 2026 tekanan global kembali meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, volatilitas pasar keuangan, hingga tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal.
Meski demikian, Purbaya menilai perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta stabilitas sektor keuangan yang terjaga.
"KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi," ujarnya.
Purbaya mengatakan volatilitas pasar keuangan global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu kembali penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta arus modal keluar dari negara berkembang.
Ia menyebut kondisi tersebut turut berdampak pada pasar surat berharga negara (SBN) domestik. Yield SBN tenor 10 tahun naik 31 basis poin secara kuartalan menjadi 7,14 persen pada akhir kuartal II 2026.
"Kenaikan yield dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global ke depan yang memicu risk-off investor pada pasar SBN," ujarnya.
Kendati demikian, investor asing masih membukukan pembelian bersih di pasar SBN Indonesia. Selama kuartal II 2026, investor nonresiden mencatat net buy sebesar Rp32,09 triliun, sedangkan sepanjang 2026 mencapai Rp6,99 triliun.
Purbaya menambahkan, hingga 30 Juli 2026 investor asing kembali membukukan pembelian bersih sebesar Rp6,36 triliun secara bulanan (month-to-date/MTD) atau Rp13,35 triliun sejak awal tahun (year-to-date/YTD), meski ketidakpastian global masih berlanjut akibat konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Lebih lanjut, ia memastikan ketahanan ekonomi domestik turut didukung daya beli masyarakat yang tetap terjaga, pertumbuhan investasi, percepatan belanja pemerintah, serta koordinasi kebijakan yang terus diperkuat antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas perekonomian dan sektor perbankan.
(lau/sfr)