Kementan-Pemda Percepat Pemulihan Sektor Pertanian Pascabencana Aceh
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Biro Komunikasi dan Layanan Informasi menyatakan menyambut baik penjelasan juru bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengenai mekanisme dukungan Kementerian Pertanian untuk pemulihan sektor pertanian dan perkebunan pascabencana hidrometeorologi di Aceh.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, menyampaikan bahwa penjelasan yang disampaikan Pemerintah Aceh sudah tepat dan sejalan dengan data Kementan.
"Ini menunjukkan komunikasi yang baik antara Kementan dan Pemerintah Aceh, sebagaimana hubungan erat antara Pak Menteri dan Pak Gubernur," ujar Arief di Jakarta, Jumat (7/8).
Arief menjelaskan, total alokasi dukungan pemulihan sektor pertanian di Aceh mencapai Rp1,7 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp530 miliar disalurkan langsung ke daerah untuk kegiatan optimalisasi lahan dan rehabilitasi sawah melalui dana Tugas Pembantuan.
Sisanya sebesar 1,2 trilliun dikelola melalui satker pusat dan balai di bawah Kementan, berupa alat mesin pertanian serta bibit padi, jagung, dan komoditas lainnya yang langsung disalurkan sebagai manfaat kepada petani di Aceh.
Menurut Arief, pelaksanaan program dari dana Rp530 miliar yang disalurkan langsung ke daerah semestinya sudah rampung pada Juni lalu. Namun, hingga kini baru terealisasi 48 persen.
"Perlu ada percepatan dari semua pihak karena saat ini sudah bulan Agustus. Jika tidak terserap sampai akhir tahun, dana ini akan dikembalikan ke kas negara," katanya.
Ia mengingatkan, realisasi anggaran melalui Satker dan Balai di bawah Kementan yang totalnya mencapai Rp 1,2 triliun juga perlu percepatan. Keterlambatan ini disebabkan lambatnya usulan penetapan CPCL (calon petani calon lokasi) dari pemerintah daerah.
Tanpa CPCL lengkap, anggaran tidak bisa dicairkan. Untuk itu, diperlukan percepatan pengusulan dan kelengkapan administrasi agar bantuan bisa segera dinikmati para petani terdampak bencana.
"Pak Menteri pada dasarnya ingin mengajak semua pihak bersama lakukan percepatan realisasi anggaran satker pusat ini. Ini tanggung jawab bersama karena manfaatnya sangat dinantikan petani di Aceh," kata Arief.
Semua program pemerintah pusat ini ditegaskan ditujukan untuk masyarakat Aceh. Arief berharap, seluruh pihak dapat bersama-sama mempercepat pemanfaatannya, mengingat waktu tersisa tahun ini hanya 4 bulan lagi.
"Anggaran tersisa masih sekitar 1,1 trilliun dan waktu tidak banyak. Serapan baru 25 persen dan kita harus bersama segera selesaikan,"tambahnya.
Selain program pemerintah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama mitra kerja juga mengalokasikan dana pribadi sekitar Rp40 miliar sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Aceh. Seluruh dana tersebut sudah tersalur sebagai dana bantuan di awal bencana.
Sebelumnya, pada 4 Agustus lalu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengunjungi kediaman Menteri Pertanian di Jakarta. Saat itu, Gubernur menyampaikan langsung apresiasi dan terima kasih atas dukungan pemulihan pascabencana sektor pertanian dan perkebunan di Aceh.
"Kehangatan pertemuan itu mencerminkan hubungan baik yang selama ini terjalin antara Pak Menteri dan Pak Gubernur, dan menjadi modal penting untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian di Aceh. Semangat percepatan ini semata-mata demi kepentingan rakyat Aceh," ujar Arief.
Kementan menyatakan akan terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh dan seluruh pemangku kepentingan, agar percepatan pemulihan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani Aceh.
(rea/rir)