ANALISIS

Menakar Modal, Kredibilitas Destry Damayanti Sebagai Calon Bos Baru BI

Muhammad Falah Nafis | CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 07:40 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti usai dilantik oleh Ketua Mahkamah Agung, Muhammad Hatta Ali di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu, 7 Agustus 2019. CNN Indonesia/Bisma Septalisma
Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Destry dinilai kredibel untuk jabatan tersebut. (FOTO:CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Meski begitu, Rizal mengingatkan bahwa menduduki posisi Gubernur BI memiliki bobot serta tanggung jawab yang jauh berbeda dibandingkan dengan jabatan kepemimpinan tingkat deputi. Ia menyebut tantangan utama yang dihadapi seorang gubernur tidak lagi sekadar urusan teknis teknokratis di atas kertas.

"Tantangannya bukan hanya teknokratis, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan dalam tekanan ekonomi dan politik, membangun komunikasi yang kredibel kepada pasar, serta menjaga keseimbangan antara mandat stabilitas dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kredibilitas pada akhirnya akan diuji dari keputusan kebijakan, bukan semata rekam jejak," tuturnya.

Selain itu, Rizal menambahkan bahwa pasar akan terus memantau dengan cermat setiap langkah awal kebijakan yang diambil oleh Destry kelak. Konsistensi dalam menyampaikan sinyal kebijakan (forward guidance) kepada publik serta keteguhan dalam mengambil posisi sulit saat menghadapi tekanan ekonomi akan menjadi indikator utama dalam mengukur kredibilitas sesungguhnya di mata para investor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kredibilitas pada akhirnya akan diuji dari keputusan kebijakan, bukan semata rekam jejak," tegas Rizal.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan sederet pekerjaan rumah (PR) berat telah menanti Destry di masa kepemimpinannya mendatang.

Menurut Yusuf, tantangan terbesar yang bakal dihadapi Destry justru berada pada ranah tata kelola strategis, yakni bagaimana mempertahankan prinsip independensi bank sentral di tengah besarnya dorongan pemerintah yang sedang berfokus mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Yusuf menilai sinergi dan koordinasi antara kebijakan moneter BI dengan kebijakan fiskal pemerintah memang menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Namun, ia menekankan perlunya garis batas yang sangat jelas agar koordinasi harmonis tersebut tidak bergeser menjadi bentuk dominasi kebijakan tertentu yang berisiko merusak persepsi pasar.

"Bagaimana menjaga independensi BI di tengah kebutuhan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Koordinasi antara BI dan pemerintah tentu diperlukan, tetapi batas antara kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan harus tetap jelas. Kredibilitas BI akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan tersebut," kata Yusuf.

Di samping tantangan independensi dan koordinasi fiskal-moneter, isu pergerakan serta stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi sorotan utama yang menuntut perhatian penuh dari kepemimpinan BI yang baru.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah bukanlah tanggung jawab tunggal Bank Indonesia semata. Menurutnya, mata uang rupiah yang kuat membutuhkan sokongan dari penguatan fundamental ekonomi secara menyeluruh, termasuk kebijakan fiskal pemerintah dan kinerja sektor riil. Dengan begitu, tidak tepat jika beban stabilitas kurs digantungkan penuh pada pundak seorang Gubernur BI.

"Untuk rupiah, saya kira tidak tepat membebankan target level tertentu kepada satu figur Gubernur BI. Rupiah dipengaruhi fundamental domestik, diferensial suku bunga, arus modal, neraca eksternal, hingga sentimen global," tegasnya.

Yusuf menjelaskan bahwa pergerakan mata uang merupakan hasil akumulasi dari berbagai variabel kompleks, baik dari sisi fundamental ekonomi dalam negeri maupun tekanan faktor eksternal yang berada di luar kendali domestik.

Ia mengungkapkan tekanan terhadap mata uang Garuda belakangan ini juga sangat dipengaruhi oleh dinamika global, seperti arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), tingginya eskalasi geopolitik di berbagai belahan dunia, hingga pergeseran persepsi risiko dari para investor global.

Dalam konteks dinamika tersebut, Yusuf mengatakan penunjukan Destry sebagai calon gubernur tunggal hendaknya dibaca sebagai sinyal stabilitas internal.

"Pencalonan Destry lebih tepat dilihat sebagai faktor yang membantu mengurangi ketidakpastian domestik dalam jangka pendek, bukan sebagai faktor tunggal yang menentukan pergerakan rupiah," pungkas Yusuf.

[Gambas:Video CNN]

(ins)

HALAMAN:
1 2