ANALISIS

Molinas: Mesin Industrialisasi atau Sekadar Pasar Baru Motor Listrik?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 08:15 WIB
Molinas digadang-gadang jadi motor industrialisasi RI. Indonesia harus mampu menguasai teknologi dan rantai pasok, tak terjebak cuma jadi pasar dan perakit. (Foto: CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

Program ini dirancang bukan sekadar untuk meluncurkan satu merek kendaraan, melainkan membangun ekosistem nasional yang terintegrasi.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan ekosistem tersebut akan mencakup pengembangan industri dan manufaktur, komponen dan baterai, infrastruktur charging dan battery swapping, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, hingga penguatan penyerapan pasar.

PT Len Industri akan berperan sebagai lead integrator untuk mengorkestrasi kolaborasi para pemangku kepentingan dalam pengembangan ekosistem tersebut.

Kapasitas produksi Molinas disebut sebesar 100 ribu unit per tahun dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 persen yang ditargetkan mencapai 60 persen.

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai Molinas memiliki prospek yang sangat besar, asalkan nilai strategisnya tidak hanya diukur dari angka penjualan.

"Motor listrik nasional tentunya bisa menjadi katalis industrialisasi kalau ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan manufaktur, baterai, komponen, charging dan battery swapping, pembiayaan, sampai layanan purnajual," kata Yannes kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/8).

Menurut Yannes, roadmap hilirisasi tidak boleh berhenti pada nikel atau perakitan akhir saja. Nilai tambah terbesar justru muncul ketika Indonesia mulai menguasai teknologi komponen inti seperti baterai, motor penggerak, controller, Battery Management System (BMS), power electronics, hingga integrasi sistem.

"Kalau kandungan lokal terus diperdalam dan harga akhirnya kompetitif tanpa subsidi permanen, motor listrik nasional bisa menjadi pintu masuk transformasi industri," ujar Yannes.

Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan prospek Molinas untuk membangkitkan industri dan ekosistem sangat besar. Kekuatan utamanya adalah pasar dalam negeri.

Dari total basis sekitar 140 juta unit sepeda motor di Indonesia (dengan pembelian baru 6-7 juta unit per tahun), penetrasi motor listrik saat ini baru menyentuh angka 1 persen.

"Indonesia memiliki sesuatu yang sangat penting untuk membangun industri, yaitu pasar domestik yang cukup besar untuk menciptakan skala produksi," ujar Josua.

Ia mengatakan dampaknya juga bisa menyebar ke industri sel dan paket baterai, motor penggerak, komponen elektronik, rangka, ban, suku cadang, bengkel, pengisian dan penukaran baterai, pembiayaan, hingga daur ulang.

Dari sisi ketahanan energi, Molinas menjadi sangat krusial mengingat pengeluaran devisa negara untuk impor BBM mencapai US$28 miliar-US$30 miliar per tahun.

"Motor listrik dapat menjadi kebijakan industri sekaligus kebijakan energi, asalkan produksi dalam negeri benar-benar mendalam dan bukan sekadar perakitan," ujar Josua.

Jangan Terjebak Jadi Industri Perakitan


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :