Kado HUT RI ke-81, Indonesia Swasembada 8 Komoditas Pangan Strategis
Standar tersebut berbeda dengan definisi baku dalam Undang-Undang Pangan yang mengartikan swasembada sebagai kemandirian pangan tanpa adanya impor.
Hal senada diungkapkan Eliza terkait dampak kenaikan harga beras. Menurut dia, harga di tingkat konsumen naik menyesuaikan lonjakan harga di hulu, tetapi stok yang melimpah tidak disalurkan secara optimal ke masyarakat pada waktu yang tepat.
Jadinya, kata Eliza, masyarakat menengah bawah yang sensitif terhadap perubahan harga tergerus daya belinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat menengah bawah ini pun terpaksa mengubah pola konsumsinya seperti mengurangi protein, serat, dan bahan pangan lainnya karena diutamakan memenuhi karbohidratnya dulu.
Mengejar Komoditas untuk Swasembada
Ke depan, pemerintah memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar swasembada pada tiga komoditas utama yang masih mengalami defisit secara signifikan. Ketiga komoditas tersebut adalah kedelai, bawang putih, dan daging sapi atau kerbau.
Prima menjelaskan defisit kedelai pada 2026 diperkirakan mencapai 2,49 juta ton dengan tingkat ketergantungan impor mencapai 90 hingga 97 persen.
Produksi domestik rata-rata hanya sekitar 227 ribu ton per tahun, berbanding terbalik dengan kebutuhan nasional yang mencapai 2,7 hingga 2,9 juta ton.
Menurut Prima, kedelai menjadi prioritas paling mendesak karena merupakan bahan baku utama tahu dan tempe yang menjadi sumber protein murah bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
Ketergantungan impor membuat harga pangan rakyat sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dan kondisi geopolitik.
"Ketergantungan impor 90 persen membuat harga pangan rakyat sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dan geopolitik seperti terlihat dari komitmen impor kedelai AS minimal 3,5 juta ton per tahun selama lima tahun yang justru memperbesar ketergantungan struktural," ujar Prima.
Selanjutnya, bawang putih diproyeksikan mengalami defisit sekitar 694.770 ton dengan tingkat ketergantungan impor mendekati 100 persen, yang mana mayoritas negara asalnya adalah China.
Sementara itu, defisit daging sapi atau kerbau mencapai 183.379 ton dengan perkiraan impor menyentuh 321.660 ton.
Penyediaan daging sapi atau kerbau dinilai menjadi krusial karena menopang program MBG yang membutuhkan pasokan protein hewani dalam skala besar dan stabil.
"Struktur peternakan sapi domestik Indonesia masih didominasi usaha rakyat skala kecil dengan produktivitas rendah," ujar Prima.
Prima juga menyoroti gula industri dan garam industri masih membuka kuota impor jumbo pada 2026, masing-masing sebesar 3,12 juta ton dan 1,18 juta. Selain itu, ada gandum yang hampir seluruhnya masih diimpor karena keterbatasan agroklimat Indonesia untuk budidaya gandum.
Eliza mengingatkan upaya mencapai swasembada untuk komoditas defisit ini harus dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu lebih dari lima tahun.
Langkah pertama harus dimulai dari riset dan inovasi benih. Ia mencontohkan varietas kedelai dan bawang putih lokal saat ini belum optimal, baik dari sisi produktivitas maupun output produksinya belum seperti yang disukai konsumen.
Ia menyebut kedelai dari Amerika Serikat memiliki ukuran yang besar, sedangkan kedelai produksi dalam negeri berukuran kecil. Eliza mengatakan konsumen menyukai biji kedelai besar.
Selanjutnya ada bawang putih produksi dalam negeri yang dinilai cukup kecil, berbeda dengan hasil produksi China yang cenderung besar.
"Fokus di riset dulu, setelah itu inovasi tersebut bisa dikembangkan ke petani-petani," ujar Eliza.
(dhz/ins)