Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah berhasil mencapai swasembada pada 8 dari 11 komoditas pangan strategis jelang perayaan HUT RI ke-81.
Pencapaian ini didorong oleh peningkatan produksi domestik dan perbaikan kebijakan penyerapan hasil panen petani.
Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi menilai capaian tersebut layak mendapatkan apresiasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merujuk Proyeksi Neraca 11 Komoditas Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 4 Juni 2026, ia menyebut delapan komoditas telah berstatus swasembada.
"Saya melihat capaian swasembada komoditas saat ini sebagai pencapaian yang layak diapresiasi," kata Prima kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/8).
Beras menjadi salah satu sorotan utama dengan proyeksi produksi 34,76 juta ton pada 2026. Angka ini melampaui kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton, sehingga menghasilkan surplus 3,66 juta ton.
Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak perlu impor beras medium sejak akhir 2025. Stok beras di Perum Bulog juga menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai sekitar 5,24 juta ton.
[Gambas:Youtube]
Senada, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian turut mengapresiasi kinerja pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.
"Kita perlu apresiasi kinerja pemerintah dalam mencapai swasembada pangan terutama untuk meningkatkan produksi beras dan jagung," ujar Eliza kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/8).
Ia menjelaskan berhentinya impor untuk memenuhi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah menginstruksikan Bulog untuk menjemput bola dengan membeli gabah langsung dari petani seharga Rp6.500 per kilogram dengan kualitas apapun.
"Jadi sebetulnya kita masih swasembada beras meski kemarin sempat impor karena tidak lebih dari 10 persen impornya terhadap total konsumsi," ujar Eliza.
Menurut dia, stok beras sekarang setara dengan lebih dari dua bulan konsumsi nasional. Eliza menilai ini memberikan penyangga ketahanan pangan yang kuat.
Bulog disebut dapat melakukan intervensi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), menyalurkan bantuan pangan, dan memitigasi bencana tanpa harus mendadak melakukan impor.
Selain beras, Prima mencatat dari delapan komoditas yang swasembada itu ada jagung pakan dengan catatat surplus sebesar 1,56 juta ton dari produksi 18 juta ton.
"Surplus ini penting karena menopang rantai pasok pakan ternak unggas yang mendukung swasembada daging ayam dan telur," ujar Prima.
Selanjutnya, ada gula konsumsi yang tercatat surplus 207 ribu ton dari produksi 3,04 juta ton.
Surplus tipis tersebut dinilai membuat gula konsumsi rentan terhadap gangguan produksi tebu dan perlu dibedakan tegas dari gula industri yang masih bergantung besar pada impor dengan kuota 3,12 juta ton pada 2026.
Kemudian, ada cabai besar dan cabai rawit yang tercatat surplus signifikan masing-masing sekitar 581 ribu ton dan 587 ribu ton.
"Namun, secara historis komoditas hortikultura ini tetap rawan lonjakan harga musiman karena sifat produksinya yang mudah rusak dan terkonsentrasi di sentra tertentu," ujar Prima.
Di sektor peternakan unggas, daging ayam ras mencatat surplus tipis 44 ton yang bahkan diarahkan untuk ekspor.
Lalu, ada telur ayam ras yang surplusnya jauh lebih besar, yaitu 516 ribu ton dari produksi 6,98 juta ton.
"Keduanya strategis sebagai sumber protein hewani termurah yang mendukung program gizi nasional seperti Makan Bergizi Gratis," ujar Prima.
INFOGRAFIS: 10 Langkah Besar Transformasi Indonesia ala Prabowo Foto: M. Bintang Putra Pratama/CNN Indonesia |
Adapun bawang merah tercatat surplus 69,36 ribu ton dari produksi 1,32 juta ton. Prima menilai ini berkat intensifikasi lahan dan varietas unggul yang pada akhirnya mewujudkan swasembada komoditas hortikultura strategis.
"Pola bawang merah ini idealnya direplikasi untuk mengejar swasembada bawang putih yang saat ini masih hampir seluruhnya impor," ujar Prima.
Catatan dari Pengamat
Prima memberikan sejumlah catatan kritis terhadap pencapaian ini. Ia menyoroti harga beras di pasaran yang terus naik selama tujuh bulan beruntun dan menjadi penyumbang inflasi.
Selain itu, menurut dia, definisi swasembada pemerintah yang mengacu standar Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO), yaitu masih bisa impor hingga 10 persen, tergolong longgar.
Swasembada Cerminan Kemandirian Pangan
Peningkatan produksi dan kebijakan penyerapan hasil panen jadi kunci sukses pemerintah Indonesia mencapai swasembada pada 8 dari 11 komoditas pangan strategis. (FOTO:CNN Indonesia/Ramadhan Nur Fadillah).
Standar tersebut berbeda dengan definisi baku dalam Undang-Undang Pangan yang mengartikan swasembada sebagai kemandirian pangan tanpa adanya impor.
Hal senada diungkapkan Eliza terkait dampak kenaikan harga beras. Menurut dia, harga di tingkat konsumen naik menyesuaikan lonjakan harga di hulu, tetapi stok yang melimpah tidak disalurkan secara optimal ke masyarakat pada waktu yang tepat.
Jadinya, kata Eliza, masyarakat menengah bawah yang sensitif terhadap perubahan harga tergerus daya belinya.
Masyarakat menengah bawah ini pun terpaksa mengubah pola konsumsinya seperti mengurangi protein, serat, dan bahan pangan lainnya karena diutamakan memenuhi karbohidratnya dulu.
Mengejar Komoditas untuk Swasembada
Ke depan, pemerintah memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar swasembada pada tiga komoditas utama yang masih mengalami defisit secara signifikan. Ketiga komoditas tersebut adalah kedelai, bawang putih, dan daging sapi atau kerbau.
Prima menjelaskan defisit kedelai pada 2026 diperkirakan mencapai 2,49 juta ton dengan tingkat ketergantungan impor mencapai 90 hingga 97 persen.
Produksi domestik rata-rata hanya sekitar 227 ribu ton per tahun, berbanding terbalik dengan kebutuhan nasional yang mencapai 2,7 hingga 2,9 juta ton.
Menurut Prima, kedelai menjadi prioritas paling mendesak karena merupakan bahan baku utama tahu dan tempe yang menjadi sumber protein murah bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
[Gambas:Photo CNN]
Ketergantungan impor membuat harga pangan rakyat sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dan kondisi geopolitik.
"Ketergantungan impor 90 persen membuat harga pangan rakyat sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dan geopolitik seperti terlihat dari komitmen impor kedelai AS minimal 3,5 juta ton per tahun selama lima tahun yang justru memperbesar ketergantungan struktural," ujar Prima.
Selanjutnya, bawang putih diproyeksikan mengalami defisit sekitar 694.770 ton dengan tingkat ketergantungan impor mendekati 100 persen, yang mana mayoritas negara asalnya adalah China.
Sementara itu, defisit daging sapi atau kerbau mencapai 183.379 ton dengan perkiraan impor menyentuh 321.660 ton.
Penyediaan daging sapi atau kerbau dinilai menjadi krusial karena menopang program MBG yang membutuhkan pasokan protein hewani dalam skala besar dan stabil.
"Struktur peternakan sapi domestik Indonesia masih didominasi usaha rakyat skala kecil dengan produktivitas rendah," ujar Prima.
Prima juga menyoroti gula industri dan garam industri masih membuka kuota impor jumbo pada 2026, masing-masing sebesar 3,12 juta ton dan 1,18 juta. Selain itu, ada gandum yang hampir seluruhnya masih diimpor karena keterbatasan agroklimat Indonesia untuk budidaya gandum.
Eliza mengingatkan upaya mencapai swasembada untuk komoditas defisit ini harus dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu lebih dari lima tahun.
Langkah pertama harus dimulai dari riset dan inovasi benih. Ia mencontohkan varietas kedelai dan bawang putih lokal saat ini belum optimal, baik dari sisi produktivitas maupun output produksinya belum seperti yang disukai konsumen.
Ia menyebut kedelai dari Amerika Serikat memiliki ukuran yang besar, sedangkan kedelai produksi dalam negeri berukuran kecil. Eliza mengatakan konsumen menyukai biji kedelai besar.
Selanjutnya ada bawang putih produksi dalam negeri yang dinilai cukup kecil, berbeda dengan hasil produksi China yang cenderung besar.
"Fokus di riset dulu, setelah itu inovasi tersebut bisa dikembangkan ke petani-petani," ujar Eliza.
[Gambas:Video CNN]