Harga Minyak Dunia Menanjak ke US$93,82 Imbas Pasokan Masih Terganggu

CNN Indonesia
Jumat, 21 Agu 2026 09:45 WIB
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6 sen menjadi US$86,78 per barel setelah menguat 2,3 persen pada sesi sebelumnya. (FOTO:iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak bergerak tipis pada perdagangan Jumat (21/8), tetapi berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah masih terganggu di tengah perang Amerika Serikat (AS)-Iran yang belum menemukan titik terang.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka naik 4 sen menjadi US$93,82 per barel. Brent sebelumnya melonjak 2,4 persen pada perdagangan Kamis (20/8).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6 sen menjadi US$86,78 per barel setelah menguat 2,3 persen pada sesi sebelumnya.

Dalam lima sesi perdagangan terakhir, harga Brent telah melonjak lebih dari 7 persen, sedangkan WTI naik lebih dari 8 persen. Keduanya bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran bahwa perang AS dan Israel terhadap Iran yang belum menemukan penyelesaian akan terus menekan pasokan dari sejumlah produsen minyak utama Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.

Kesepakatan damai sebelumnya antara pihak-pihak yang bertikai berakhir pada pekan ini. Namun, belum ada upaya untuk kembali membuka perundingan.

Di tengah kondisi tersebut, Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang mendukung Iran.

"Kedua pihak masih bertahan pada posisinya masing-masing, tetapi tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar menunggu, sementara harga minyak mentah terus bergerak naik," kata Analis IG Tony Sycamore.

Pada Rabu (19/8) malam, Trump kembali mengancam Iran dengan 'perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya'. Ia memperingatkan konsekuensi bagi negara mana pun yang memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran.

Ketegangan kawasan juga meningkat setelah Uni Emirat Arab menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan.

Kebijakan tersebut semakin menyoroti hubungan yang memburuk antara salah satu produsen minyak utama negara-negara Teluk dan Iran.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK