Ajang Energi Baru Terbarukan IndoEBTKE ConEX 2026 Resmi Dibuka
Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) ke-12 pada 2-4 September 2026 resmi dibuka oleh Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung. Acara itu digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.
Acara itu dihadiri oleh 11 asosiasi yang terkait dengan Energi Baru Terbarukan, di antaranya adalah METI.
Dalam sambutannya, Yuliot mengatakan penggunaan energi baru terbarukan (EBTT) bisa membuat kelistrikan di pelbagai negara jauh lebih murah bagi masyarakat. Dia menuturkan sejumlah negara didominasi sumber energi dari EBT.
"Misalnya di Amerika Utara, ada PLTA. Prancis juga ada PLTN," kata Yuliot dalam pidatonya.
Dia juga menegaskan pelbagai program di Tanah Air adalah kemandirian energi, ketahanan energi, hingga swasembada energi. Untuk swasembada, kata Yuliot, salah satunya adalah mempercepat penggunaan kendaraan listrik hingga memaksimalkan EBT.
Di sisi lain, dia mengatakan keterlambatan transisi energi akan memicu masalah besar bagi APBN.
Dampak besar terjadi karena harga energi fosil yang saat ini menjadi pemasok utama energi dalam negeri cukup fluktuatif.
"Ketergantungan pada energi fosil yang harganya fluktuatif dan berbiaya tinggi akan terus membebani fiskal negara," katanya
Ajang IndoEBTKE Conex 2026 kali ini akan mendorong kolaborasi pemerintah, industri, investor, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
"IndoEBTKE ConEx 2026 akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari kebijakan dan pembiayaan hingga pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan," demikian keterangan penyelenggara.
Selain pameran energi baru terbarukan, ada pula agenda penandatanganan MoU untuk mendukung program 100 GW dan Program Listrik Desa yang diresmikan sebelumnya oleh Presiden Prabowo Subianto.
(lid/asa)