MRT Siapkan Revitalisasi Kota Tua, Konsep Bakal Beda dengan Blok M

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 21:30 WIB
Kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat diramaikan ribuan wisatawan, Senin (24/4/2023) atau H+2 Lebaran. Berdasarkan pantauan CNN indonesia sekira pukul 12.00 WIB, banyak wisatawan dari berbagai daerah. CNN Indonesia/Safir Makki
MRT Jakarta menyiapkan revitalisasi Kota Tua setelah Blok M, tetapi konsepnya akan berbeda karena tetap mempertahankan warisan budaya. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jakarta tak hanya sedang membangun jaringan transportasi baru. Di balik stasiun dan jalur MRT, kawasan di sekitarnya juga mulai diperlakukan sebagai ruang yang bisa dihidupkan kembali.

Salah satu yang tengah disiapkan adalah Kota Tua. PT MRT Jakarta (Perseroda) berencana membawa pendekatan placemaking seperti yang diterapkan di Blok M, tetapi dengan satu pembeda utama, yakni identitas sejarah kawasan tetap menjadi pijakan.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan revitalisasi Kota Tua diharapkan dapat membuat kawasan tersebut kembali ramai tanpa menghilangkan karakter heritage yang sudah melekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mudah-mudahan segera area Kota Tua, itu akan kami revitalisasi juga. Mudah-mudahan tetap hidup dengan mempertahankan identitas heritagenya. Jadi heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu enggak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi ritel, komunitas, dan lain sebagainya," ujar Samuel dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Konsep yang dibawa MRT bukan sekadar mempercantik wajah kawasan. Placemaking dipahami sebagai upaya menghidupkan sebuah tempat melalui aktivitas, komunitas, konektivitas, hingga identitas yang membuat orang memiliki alasan untuk datang dan kembali.

Karena itu, Kota Tua tidak diposisikan untuk meniru Blok M secara mentah. Jika Blok M diarahkan menjadi ruang bagi anak muda dengan perpaduan gaya urban dan nostalgia, Kota Tua akan bertumpu pada karakter sejarahnya.

Identitas Glodok sebagai kawasan elektronik dan Pecinan juga tetap menjadi bagian dari karakter kawasan. Di saat yang sama, MRT melihat peluang untuk menambahkan aktivitas retail, komunitas, hingga kegiatan yang dapat mendukung fungsi wisata.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pengembangan kawasan yang menempatkan transportasi publik sebagai pusat aktivitas, bukan kendaraan pribadi. Dengan begitu, ruang pejalan kaki, akses menuju transportasi, aktivitas ekonomi, dan ruang publik menjadi bagian dari satu ekosistem.

Belajar dari Blok M yang Baru Setengah Jalan

Sebelum membawa konsep tersebut ke Kota Tua, MRT lebih dulu mengembangkan pendekatan serupa di Blok M.

Namun, Samuel mengatakan pekerjaan di Blok M sendiri belum selesai. Revitalisasi kawasan tersebut baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan rencana.

"Beberapa konsep ini akan diterapkan MRT, yang pertama di Blok M kemarin sudah, walaupun itu baru setengah jalan. Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi, jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M, dan konsep ini nanti akan diterapkan di Kota Tua juga," katanya.

Transformasi Blok M terlihat dari perubahan aktivitas kawasan. Dari yang sebelumnya relatif sepi, MRT mencatat jumlah pengunjung kini mencapai sekitar 40 ribu orang per hari pada hari kerja dan 60 ribu-70 ribu orang pada akhir pekan tanpa acara khusus. Ketika ada event, jumlahnya dapat meningkat hingga sekitar 80 ribu-90 ribu orang.

Perubahan itu juga tidak hanya ditopang pembangunan fisik. Taman Literasi, Blok M Hub, berbagai acara komunitas, festival, serta masuknya pelaku usaha menjadi bagian dari upaya membuat kawasan terus memiliki aktivitas.

MRT mencatat hampir 500 UMKM telah menjadi tenant dalam ekosistem yang dikembangkannya. Bagi MRT, keberadaan pelaku usaha kecil tersebut menjadi bagian dari strategi agar kawasan tidak hanya ramai ketika ada acara besar.

Jakarta, CNN Indonesia --

Jakarta tak hanya sedang membangun jaringan transportasi baru. Di balik stasiun dan jalur MRT, kawasan di sekitarnya juga mulai diperlakukan sebagai ruang yang bisa dihidupkan kembali.

Salah satu yang tengah disiapkan adalah Kota Tua. PT MRT Jakarta (Perseroda) berencana membawa pendekatan placemaking seperti yang diterapkan di Blok M, tetapi dengan satu pembeda utama, yakni identitas sejarah kawasan tetap menjadi pijakan.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan revitalisasi Kota Tua diharapkan dapat membuat kawasan tersebut kembali ramai tanpa menghilangkan karakter heritage yang sudah melekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mudah-mudahan segera area Kota Tua, itu akan kami revitalisasi juga. Mudah-mudahan tetap hidup dengan mempertahankan identitas heritagenya. Jadi heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu enggak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi ritel, komunitas, dan lain sebagainya," ujar Samuel dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Konsep yang dibawa MRT bukan sekadar mempercantik wajah kawasan. Placemaking dipahami sebagai upaya menghidupkan sebuah tempat melalui aktivitas, komunitas, konektivitas, hingga identitas yang membuat orang memiliki alasan untuk datang dan kembali.

Karena itu, Kota Tua tidak diposisikan untuk meniru Blok M secara mentah. Jika Blok M diarahkan menjadi ruang bagi anak muda dengan perpaduan gaya urban dan nostalgia, Kota Tua akan bertumpu pada karakter sejarahnya.

Identitas Glodok sebagai kawasan elektronik dan Pecinan juga tetap menjadi bagian dari karakter kawasan. Di saat yang sama, MRT melihat peluang untuk menambahkan aktivitas retail, komunitas, hingga kegiatan yang dapat mendukung fungsi wisata.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pengembangan kawasan yang menempatkan transportasi publik sebagai pusat aktivitas, bukan kendaraan pribadi. Dengan begitu, ruang pejalan kaki, akses menuju transportasi, aktivitas ekonomi, dan ruang publik menjadi bagian dari satu ekosistem.

Belajar dari Blok M yang Baru Setengah Jalan

Sebelum membawa konsep tersebut ke Kota Tua, MRT lebih dulu mengembangkan pendekatan serupa di Blok M.

Namun, Samuel mengatakan pekerjaan di Blok M sendiri belum selesai. Revitalisasi kawasan tersebut baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan rencana.

"Beberapa konsep ini akan diterapkan MRT, yang pertama di Blok M kemarin sudah, walaupun itu baru setengah jalan. Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi, jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M, dan konsep ini nanti akan diterapkan di Kota Tua juga," katanya.

Transformasi Blok M terlihat dari perubahan aktivitas kawasan. Dari yang sebelumnya relatif sepi, MRT mencatat jumlah pengunjung kini mencapai sekitar 40 ribu orang per hari pada hari kerja dan 60 ribu-70 ribu orang pada akhir pekan tanpa acara khusus. Ketika ada event, jumlahnya dapat meningkat hingga sekitar 80 ribu-90 ribu orang.

Perubahan itu juga tidak hanya ditopang pembangunan fisik. Taman Literasi, Blok M Hub, berbagai acara komunitas, festival, serta masuknya pelaku usaha menjadi bagian dari upaya membuat kawasan terus memiliki aktivitas.

MRT mencatat hampir 500 UMKM telah menjadi tenant dalam ekosistem yang dikembangkannya. Bagi MRT, keberadaan pelaku usaha kecil tersebut menjadi bagian dari strategi agar kawasan tidak hanya ramai ketika ada acara besar.

Disulap Sesuai Karakter dan Kebutuhan Wilayah BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2