MRT Siapkan Revitalisasi Kota Tua, Konsep Bakal Beda dengan Blok M

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 21:30 WIB
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta Pranowo
Disulap Sesuai Karakter dan Kebutuhan Wilayah. (Foto: CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani)

Jukir Lama Tak Ditinggalkan

Ada sisi lain dari revitalisasi Blok M yang tidak selalu terlihat dari perubahan bangunan dan keramaian kawasan, yakni bagaimana pekerja lama di kawasan tersebut ikut diserap dalam ekosistem baru.

Samuel mengatakan MRT memandang komunitas dan pekerja yang sudah lebih dulu berada di kawasan sebagai bagian yang perlu dilibatkan. Salah satunya adalah para juru parkir alias jukir lama.

Menurut dia, sejumlah jukir yang sebelumnya beraktivitas secara informal kemudian beralih menjadi petugas parkir resmi. Pendekatan tersebut dilakukan agar revitalisasi tak sekadar mengganti wajah kawasan, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat yang sebelumnya menggantungkan penghasilan di sana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu masuk Blok M tuh masuk bayar, dan kalau mau parkir kayak ada lagi jukirnya. Nah, sekarang kalau teman-teman perhatikan sudah enggak ada. Kenapa? Karena jukirnya sudah kerja jadi petugas parkir resmi," ujar Samuel.

Ia mengatakan para pekerja tersebut pada dasarnya membutuhkan lapangan pekerjaan. Karena itu, MRT berupaya merangkul pekerja yang memang sudah berada di kawasan ketika proses pengembangan dilakukan.

"Jadi petugas parkir resminya sebetulnya jukir yang lama sudah ganti baju jadi formal. Jadi sebenarnya teman-teman ini intinya kan butuh pekerjaan aja. Kami juga coba rangkul sebisa mungkin pekerjanya di kawasan yang dikembangkan itu, orang-orang yang awalnya dari situ juga," katanya.

Kota Tua Jadi Bab Berikutnya

Samuel menjelaskan placemaking melalui empat prinsip, yakni akses dan konektivitas, kenyamanan dan citra kawasan, aktivitas dan pengguna, serta interaksi sosial. Konsep tersebut digunakan MRT untuk mengembangkan kawasan di sekitar transportasi publik agar tidak hanya menjadi tempat perpindahan penumpang.

Untuk Kota Tua, pendekatan tersebut akan disesuaikan dengan karakter kawasan. Samuel mengatakan identitas Chinatown, Little Amsterdam, dan Glodok tetap dipertahankan, sementara aktivitas baru seperti retail dan kegiatan komunitas akan ditambahkan.

Rencana tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan yang terhubung dengan MRT Fase 2A Bundaran HI-Kota Tua. Jalur ini akan melewati sejumlah kawasan, antara lain Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, hingga Kota Tua.

MRT juga telah menyiapkan konsep pengembangan Pintu Besar Selatan dalam Urban Design Guideline kawasan Glodok-Kota Tua. Konsep tersebut mencakup commercial active frontage, jalur pedestrian, transportasi yang berorientasi pada pejalan kaki, pengamanan pedestrian, serta fasilitas ruang hijau dan biru.

Sementara itu, untuk mengukur keberhasilan placemaking, MRT menggunakan sejumlah indikator seperti jumlah pengunjung dan aktivitas kawasan, keterlibatan tenant serta komunitas, kenyamanan pengguna, dan tingkat kepuasan pelanggan maupun pemangku kepentingan.

Pengembangan Kota Tua tersebut masih berada dalam tahap konsep dan pengembangan kawasan. Samuel belum merinci jadwal pelaksanaan, nilai investasi, maupun bentuk fisik revitalisasi yang akan dibangun.

Ia mengatakan pendekatan serupa akan diterapkan secara bertahap di kawasan lain yang dikembangkan MRT, dengan konsep yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah.

"Konsep ini nanti akan diterapkan di Kota Tua juga. Harapannya memang Jakarta dan area TOD MRT akan semakin livable dan lovable," kata Samuel.

[Gambas:Youtube]

(del/pta)

HALAMAN:
1 2