HARI TANI 2026

Tanpa Slip Gaji, Petani Bisa Dapat Modal Tanam hingga Panen dari Bank

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 15:19 WIB
Pekerja mengangkat pucuk daun teh hasil panen di lahan PT. Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI), Kersik Tuo, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Rabu (20/5). Data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Indonesia yang menempati posisi tujuh negara penghasil teh
Bank mendorong pembiayaan sektor pertanian lewat pendekatan ekosistem, memperhatikan karakter usaha petani dan risiko terkait, demi ketahanan pangan nasional. (FOTO:ANTARA/Wahdi Septiawan).

Pendekatan serupa juga diterapkan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI. Bank syariah tersebut menyebut pembiayaan pertanian disalurkan melalui segmen mikro, Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga pembiayaan small medium enterprise (SME) berbasis ekosistem.

Direktur Retail Banking BSI Erwan Husainy mengatakan pembiayaan tidak hanya diberikan sebagai tambahan modal, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan dan siklus usaha petani.

"PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk turut mendukung penyaluran pembiayaan pada sektor pertanian baik melalui pembiayaan Mikro, KUR dan pembiayaan SME berbasis ekosistem. Pendekatannya tidak berhenti pada penyediaan modal, tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan dan siklus usaha petani serta membangun kerja sama kelompok dan offtaker," kata Erwan kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga Juni 2026, pembiayaan BSI ke sektor ekonomi pertanian mencapai Rp12,75 triliun atau sekitar 23 persen dari total pembiayaan UMKM BSI. Sektor tersebut menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan segmen UMKM perseroan.

Menurut Erwan, pembiayaan pertanian di BSI saat ini terutama digunakan untuk kebutuhan investasi, modal kerja, pembelian peralatan, serta ekspansi bisnis guna meningkatkan kapasitas produksi.

BSI juga memiliki produk yang dirancang untuk menyesuaikan pola pendapatan petani. Salah satunya melalui BSI KUR dan BSI Usaha Mikro dengan skema angsuran irregular atau musiman.

Dengan skema tersebut, periode pembayaran dapat disesuaikan dengan siklus usaha dan masa panen petani. Selain itu, BSI menyediakan pembiayaan pada segmen SME untuk pelaku usaha dengan skala yang lebih besar.

"BSI memiliki struktur produk yang sangat relevan untuk petani seperti BSI KUR dan BSI Usaha Mikro dengan skema angsuran irregular/musiman dimana periode pembayaran dapat disesuaikan dengan siklus usaha/masa panen serta segmen SME (Small Medium Enterprise)," jelas Erwan.

Namun, fleksibilitas pembiayaan tersebut tetap disertai prinsip kehati-hatian. BSI menyatakan penerapan Good Corporate Governance (GCG), prudential banking, serta pemantauan pembiayaan dilakukan untuk menjaga kualitas pembiayaan sektor pertanian.

Di luar pembiayaan, BSI juga menjalankan program kolaboratif berupa edukasi dan pendampingan usaha. Langkah tersebut diarahkan agar petani tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

"Sebagai bentuk dukungan konkret lainnya kepada para petani, kami juga memiliki berbagai program kolaboratif untuk edukasi, pendampingan usaha agar para petani Indonesia memiliki usaha berkelanjutan dan naik kelas sehingga mencapai harapan kita, yaitu mencapai kemandirian ekonomi dan finansial," pungkas Erwan.

[Gambas:Youtube]

(ins)

HALAMAN:
1 2