Jagung hingga Porang Melimpah di RI, Kenapa Sulit Jadi Pengganti Nasi?
Indonesia memiliki banyak pilihan sumber karbohidrat selain beras. Ada jagung, singkong, sagu, ubi jalar, kentang, sorgum, talas, hingga porang.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bahkan mengidentifikasi 69 dari 77 sumber karbohidrat lokal yang ada di Indonesia. Namun, banyaknya pilihan tersebut belum otomatis menggeser nasi dari meja makan masyarakat.
Data Bapanas menunjukkan konsumsi beras memang turun dari 94,4 kilogram (kg) per kapita per tahun pada 2021 menjadi 87,3 kilogram pada 2025.
Di sisi lain, konsumsi sejumlah pangan lokal seperti singkong, ubi jalar, dan kentang mulai meningkat.
Lantas, jika pilihan pangan lokal begitu banyak, kenapa nasi masih sulit tergantikan?
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan pemerintah tidak menetapkan satu komoditas tertentu sebagai pengganti beras secara nasional.
Pendekatan yang didorong adalah memperbanyak pilihan sumber karbohidrat berdasarkan potensi pangan dan kebiasaan konsumsi masing-masing daerah.
"Yang didorong adalah penganekaragaman pangan sumber karbohidrat sesuai dengan potensi pangan lokal daerah masing-masing, seperti jagung, singkong, ubi jalar, kentang, sagu, dan pangan lokal lainnya," ucap Andriko kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/9).
Beberapa pangan lokal memang memiliki basis konsumsi yang kuat di daerah tertentu. Sagu, misalnya, banyak dikonsumsi masyarakat di Papua Selatan, Papua, Papua Barat Daya, Maluku, serta sejumlah wilayah Sulawesi.
Jagung memiliki basis konsumsi di Nusa Tenggara Timur, sedangkan ubi jalar banyak dikonsumsi di Papua Pegunungan dan Papua Tengah.
Dari 77 sumber karbohidrat lokal yang dipetakan Bapanas, saat ini 69 jenis telah teridentifikasi. Daftarnya mencakup berbagai jenis umbi, serealia, beras lokal, buah, hingga biji-bijian.
Porang pun masuk dalam daftar tersebut bersama suweg, walur, talas, uwi, gembili, singkong, jagung, sorgum, dan sejumlah komoditas lainnya.
Kendati, Bapanas tidak memosisikan diversifikasi sebagai upaya mengganti beras sepenuhnya. Target pemerintah adalah membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan pangan pokok sumber karbohidrat sehingga pola konsumsi menjadi lebih beragam.
"Dalam hal ini, tidak bermaksud mengganti beras tetapi masyarakat memiliki lebih banyak pilihan pangan pokok sumber karbohidrat, sehingga pola konsumsi menjadi lebih beragam dan tetap bergizi," imbuh Andriko.
Bapanas saat ini memfokuskan pengembangan usaha pangan lokal seperti singkong, sagu, dan sorgum. Langkah itu untuk memperkuat nilai tambah dan hilirisasi pangan lokal.
Tantangannya tidak hanya soal produksi. Andriko mengatakan harga, akses dan distribusi, serta preferensi masyarakat saling berkaitan dalam menentukan apakah pangan lokal bisa dikonsumsi secara rutin.
"Kalau pangan lokal tersedia tetapi harganya tidak kompetitif atau sulit diperoleh, masyarakat akan kembali memilih pangan yang paling mudah diakses. Sebaliknya, kalau tersedia tetapi belum sesuai dengan selera dan kebiasaan konsumsi, masyarakat juga belum tentu mengonsumsinya secara rutin," ujar Andriko.
Karena itu, pemerintah melihat kebutuhan utamanya adalah membangun ekosistem pangan lokal dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, pasar, akses konsumen, pengolahan, hingga bentuk produk yang praktis.
Untuk membangun ekosistem tersebut, Bapanas menjalankan edukasi dan kampanye konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), termasuk kampanye 'Kenyang Gak Harus Nasi'.
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan pangan lokal dalam konsumsi rapat serta penggunaan pangan lokal oleh pelaku usaha kuliner.
Di sisi hilir, Bapanas memberikan fasilitas alat dan mesin pengolahan kepada kelompok tani dan UMKM, mulai dari mesin penepung, dryer/oven, dough sheeter, hingga mesin pengemas.
Fasilitas tersebut ditujukan agar UMKM dapat mengolah bahan lokal menjadi produk seperti MOCAF dan tepung sorgum dengan standar industri dan nilai tambah yang lebih tinggi.
Perubahan konsumsi pun mulai terlihat. Konsumsi beras turun dari 94,4 kilogram per kapita per tahun pada 2021 menjadi 87,3 kilogram pada 2025, sementara konsumsi sejumlah pangan lokal sumber karbohidrat, terutama singkong, ubi jalar, dan kentang, meningkat.
"Perubahan perilaku konsumsi pangan lokal selain nasi juga harus diikuti dengan membuat pangan lokal tersebut praktis, enak, terjangkau, mudah diperoleh, dan sesuai dengan selera masyarakat," terang Andriko.
Bersambung ke halaman berikut...