Peternak Telur Menjerit, Kandang Banyak Kosong Gara-gara Harga Anjlok

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 07:40 WIB
Peternak ayam petelur mengeluhkan harga telur yang terus merosot di tengah kenaikan biaya pakan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Peternak ayam petelur mengeluhkan harga telur yang terus merosot di tengah kenaikan biaya pakan.

Kondisi tersebut disebut membuat sebagian peternak tak lagi mampu mempertahankan usahanya hingga kandang mulai banyak yang kosong.

Pengurus Pinsar Petelur Nasional (PPN) Suwardi mengatakan harga telur di tingkat peternak sejak April berada jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp26.500 per kilogram (kg).

Menurut Suwardi, harga telur di tingkat peternak rata-rata hanya Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg. Bahkan, harga sempat menyentuh titik terendah Rp17.100 per kg pada Juni.

"Jika dirata-rata dalam enam bulan terakhir, harga telur hanya Rp20 ribu sampai Rp21 ribu, padahal ongkos biaya pakannya sudah naik," ujar Suwardi dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10).

Ia memperkirakan kondisi tersebut membuat peternak mengalami kerugian Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari berdasarkan jumlah produksi.

Tekanan harga telur juga terjadi ketika biaya pakan justru meningkat. Suwardi menyebut jagung yang menjadi salah satu bahan utama pakan semakin sulit diperoleh dengan harga terjangkau.

Kondisi itu membuat sebagian peternak disebut mulai mengurangi bahkan menghentikan aktivitas kandangnya karena tidak lagi sanggup membeli pakan.

"Sudah ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya sudah melompong kosong. Sudah tidak sanggup lagi untuk mengasih pakan ayam itu. Daripada berdosa, kemarin dijual harga ayam cuma Rp20 ribu," ujarnya.

Menurut Suwardi, peternak berada dalam posisi sulit karena di satu sisi harus menjaga ayam tetap hidup dengan memberikan pakan, sementara harga telur yang dihasilkan tidak mampu menutup biaya produksi.

Ia mengatakan kondisi tersebut terasa ironis karena peternak selama ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan telur dalam negeri.

Masalah tidak hanya terjadi pada sisi produksi. Suwardi mengatakan sebagian telur yang dihasilkan peternak juga kesulitan terserap pasar karena harga jual yang rendah.

Ia bahkan menyebut telur dari peternak di Kalimantan sampai harus dibuang karena tidak ada pembeli.

"Telur-telur kami menumpuk. Saya piara ayam di Kalimantan, telurnya sampai kita buang, karena apa? Enggak ada yang beli, harganya murah," ujarnya.

Karena itu, peternak meminta pemerintah memasukkan telur dalam program bantuan pangan agar produksi yang tidak terserap pasar dapat digunakan sekaligus membantu mengurangi tekanan yang mereka hadapi.

Suwardi juga mengatakan kondisi serupa dirasakan peternak di wilayah lain. Seorang peternak dari Blitar menyebut harga telur di daerahnya terus turun sejak setelah Lebaran dan telah berada di bawah HAP pemerintah selama berbulan-bulan.

"Mulai sejak April, habis hari Lebaran itu harga telur memang terus turun, turun, turun. Sampai titik terbawah harga di kandang Blitar, seperti yang tadi disampaikan, itu Rp17.100 di kandang Blitar. Dan ini sudah bulan ketujuh, tiap hari kami merugi," ujarnya.

Peternak tersebut mengatakan usaha ayam petelur merupakan satu-satunya sumber penghasilan bagi sebagian peternak rakyat yang memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah.

Ia juga menyebut persoalan harga telur yang turun ketika harga pakan naik terjadi berulang setiap tahun.

"Kalau tiap kali kami merugi, kami tidak tahu ke depannya kami harus bagaimana. Dan ini sebenarnya berulang tiap tahun. Harga telur turun, pakan naik, ini berulang tiap tahun," katanya.

Tekanan yang dialami peternak juga disampaikan seorang peternak perempuan dari Blitar dalam rapat tersebut.

Ia mengatakan peternak telah mencoba menyampaikan persoalan tersebut kepada Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional sebelum mengadu ke DPR.

Ia bahkan menangis saat menyampaikan kondisi yang dihadapi peternak di hadapan Komisi IV DPR RI.

"Kami ini benar-benar sangat menderita. Artinya kami itu sudah kehabisan kata-kata. Modal itu sudah benar-benar orang yang tangguh sebenarnya, tapi kalau tiap hari kita itu sudah rugi, kita enggak tahu ke mana," tuturnya.

Peternak tersebut mengatakan pasokan jagung dari Perum Bulog yang tersendat juga membuat kondisi semakin sulit. Menurutnya, jagung yang sebelumnya diterima peternak setidaknya membantu mereka mempertahankan usaha.

"Kami memang berterima kasih sudah dapat jagung. Itu sangat membantu kami menahan kematian kami, artinya kami seharusnya mati kemarin masih hidup saat ini. Tapi enggak tahu sampai kapan kami akan hidup, dikarenakan juga jagung dari Bulog juga tersendat," ujarnya.

Ia berharap pemerintah memberikan solusi agar peternak rakyat tidak terus mengalami kerugian dan bisa mempertahankan usaha mereka.

Suwardi sebelumnya menyebut peternak memperkirakan membutuhkan sekitar 223 ribu ton jagung dalam lima bulan ke depan hingga Februari. Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat di tengah ancaman kemarau panjang dan El Nino.

Di sisi lain, peternak juga meminta agar hasil produksi telur dapat diserap melalui program pemerintah sehingga kelebihan pasokan tidak berujung pada telur yang terbuang.

Menurut Suwardi, persoalan tersebut perlu segera ditangani agar peternak tetap dapat menjalankan usaha sekaligus menjaga ketersediaan telur bagi masyarakat.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK