Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$115,36 usai Kilang Minyak Diserang

CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2026 12:42 WIB
Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,22 atau 1,22 persen menjadi US$101,12 per barel. Ilustrasi (Dok. AKR Corporindo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu (28/10), setelah serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,48 atau 1,3 persen menjadi US$115,36 per barel pada pukul 01.40 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,22 atau 1,22 persen menjadi US$101,12 per barel.

Kenaikan terjadi saat kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi menggunakan rudal pada Selasa (27/10). Serangan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi di tengah konflik Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya.

Sementara itu, otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung terkait serangan terhadap fasilitas yang memiliki kapasitas pengolahan 550 ribu barel minyak per hari tersebut.

Kenaikan harga minyak itu terjadi setelah kedua acuan minyak turun hampir US$2 per barel kemarin (27/10). Penurunan sebelumnya didukung meningkatnya harapan akan perundingan di Timur Tengah hingga meredakan kekhawatiran pasar mengenai pasokan.

Di sisi lain, pasar juga sedang mencermati perkembangan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS). Persediaan minyak mentah AS diperkirakan naik sekitar 15 ribu barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober.

Sementara itu, negara-negara anggota OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember dalam pertemuan 1 November mendatang. Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan langkah tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar.

Produksi sebagian besar dari tujuh anggota inti OPEC+ yang kini menjadi fokus, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, masih berada di bawah target produksi masing-masing.

Di tengah perkembangan tersebut, ekspor minyak mentah Rusia dari pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam juga berpotensi turun pada November. Para pedagang juga mengatakan penurunan itu dapat terjadi karena kilang domestik meningkatkan produksi diesel setelah kesepakatan dengan Washington pada bulan ini.

(lil/ins)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK