Psikologis Manusia

Saat Anda Menghadapi Orang dengan Aviophobia

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 29/12/2014 20:31 WIB
Saat Anda Menghadapi Orang dengan Aviophobia ilustrasi penumpang pesawat (Pixabay/RyanMcGuire)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari 38 persen orang-orang di seluruh dunia memiliki ketakutan terbang yang juga disebut sebagai aviophobia atau pteromerhanophobia. Ketika terbang untuk yang pertama kalinya, seseorang mungkin memahami mengapa banyak orang di seluruh dunia yang menderita ketakutan itu.

Orang dengan aviophobia akan berpikir objek mesin yang sangat besar di langit. Banyak orang yang takut dengan dengan ruangan rumit di pesawat. Ada juga ketakutan akan benturan dan suara-suara dalam penerbangan. Kebanyakan penderita aviophobia merasa cemas berlebihan saat pesawat akan lepas landas atau saat hendak mendarat.

Orang dengan kecemasan untuk terbang dengan pesawat memiliki tingkat keparahan bervariasi. Beberapa yang mengalami teror moderat penerbangan ada yang tidak meminta bimbingan. Mereka biasanya mengalami kecemasan parah yang berdampak panjang dalam kehidupannya.


Menurut psikolog Ratih Ibrahim kepada CNN Indonesia, orang-orang dengan aviophobia akan menjadi anti terhadap objek yang dia takuti. “Jika mendengar atau berhadapan dengan objek tersebut, jantungnya akan berdegup keras, keringatnya mengucur banyak, nafas memburu, dan mata berkunang-kunang,” ucap Ratih menjelaskan.

Tidak ada cara lain, pengobatan jangka panjang menyembuhkan orang dengan fobia adalah lewat terapi. Aviophobia bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang-orang terdekat kita. Sebaiknya kita tahu langkah-langkah sederhana saat menghadapi orang-orang dengan aviophobia.

Orang dengan aviophobia akan mengalami kepanikan luar biasa ketika naik pesawat terbang. Yang harus dilakukan adalah membantu untuk tenang. “Ajak yang bersangkutan untuk tenang sehingga dapat menggunakan akal sehatnya,” ujar Ratih.

Baru setelah itu, ajak dia untuk mengatur napas dan duduk rileks. “Ajak dia berdoa. Untuk umat muslim berzikir adalah cara yang baik untuk menenangkan diri.” Jika sudah mulai tenang, ajak lah orang tersebut untuk ikhlas. “Pasrah kepada Tuhan.”

Ratih bercerita tentang kliennya, seorang traveler, yang dalam satu minggu bisa tiga kali melakukan perjalanan. “Setiap bepergian dia akan berdoa satu hal yang sama, diberi keselamatan. Setelah itu dia akan pasrah. Ikhlas akan membantu seseorang untuk tenang.”