Psikologi Anak

Anak Terancam Sakit Jantung karena Pola Asuh yang Salah

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Selasa, 13/01/2015 10:42 WIB
Anak Terancam Sakit Jantung karena Pola Asuh yang Salah Ilustrasi (Thinkstock/XiXinXing)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pola asuhan ternyata dapat memprediksi hidup seseorang ke depannya. Sejak lahir, anak-anak telah dikenalkan dengan berbagai macam hal. Tapi yang paling banyak mereka kenali adalah perilaku orang tua mereka.

Dalam tiga tahun pertamanya, anak-anak mengembangkan kesadaran kemampuan bersosialisasi yang dapat memprediksi pencapaian sosial dan prestasi akademik 30 tahun mendatang. Hal ini bergantung pada seberapa sensitif pengasuh memenuhi kebutuhan mereka.

Setelah berumur tiga tahun pun mentalitas anak-anak masih mudah dibentuk. Berinteraksi dengan mereka adalah hal yang sangat penting yang ternyata juga berhubungan dengan masa depan mereka. Sebuah studi menemukan, anak-anak yang diasuh secara lebih positif kemungkinan besar memiliki jantung yang sehat.


"Pilihan orang tua membuat efek jangka panjang pada kesehatan anak-anak mereka di masa yang akan datang, dan perbaikan dalam satu hal dapat memiliki manfaat yang terukur," kata peneliti di University of Helsinki di Finlandia, Laura Pulkki-Råback, seperti dilansir dari Medicaldaily, Selasa (13/1).

"Misalnya, jika orang tua menganggur lalu mendapat pekerjaan tetap, efeknya mungkin besar. Jika ia juga berhenti merokok, manfaatnya bahkan lebih besar. Semua upaya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga itu pasti bermanfaat," ujarnya.

Bukan hanya soal stabilitas emosi, kondisi orang tua juga dapat membantu tumbuh kembang mental dan fisik anak hingga ia dewasa. Anak-anak yang bisa mengendalikan agresivitas dan impulsifnya, dan yang tumbuh dengan orang tua yang memiliki kebiasaan yang sehat serta kondisi finansial yang lebih stabil terbukti 14 persen memiliki berat normal, 12 persen akan tidak merokok, dan 11 persen kemungkinan besar memiliki kadar glukosa yang sehat.

Penelitian ini dilakukan pada 3.577 anak yang berusia 3-18 tahun. Para peneliti melihat status sosial ekonomi, kestabilan emosi, perilaku kesehatan orang tua, kondisi stres, kemampuan mengatur masalah, dan penyesuaian sosial. Hampir 1.100 peserta kembali untuk lanjutan tes jantung 27 tahun kemudian, ketika mereka berusia antara 30-45 tahun. Hasilnya para peneliti menemukan bahwa mereka yang masa kanak-kanaknya cenderung stabil dan punya kebiasaan hidup sehat, kemungkinan besar memiliki kesehatan jantung yang ideal.

"Bukti ilmiah mendukung fakta bahwa investasi dalam kesejahteraan anak dan keluarga merupakan langkah jangka panjang yang efektif karena mengurangi biaya perawatan kesehatan di hari tua," kata Pulkki-Råback.

Keterlibatan orang tua, kesehatan, dan stabilitas di masa kanak-kanak sangat penting. Sebuah studi lainnya menemukan bahwa ritual keluarga yang sederhana seperti makan malam atau menyanyikan lagu bersama-sama akan mendorong kesehatan emosional dan sosial.

Studi lainnya menemukan bahwa 30,6 persen anak-anak yang tinggal di kota-kota besar hidup dalam kemiskinan. Menurut penerbit penelitian, National Center for Children in Poverty, anak-anak tersebut berisiko mimiliki kesehatan yang lebih buruk karena kurangnya pendidikan dan tidak mampu membayar biaya perawatan kesehatan.

Meskipun stres yang terkait dengan kesulitan keuangan, orang tua tetap harus merawat anak-anak dan memelihara stabilitas emosi mereka. Dan itu bisa dijadikan sebuah prioritas. Kadang-kadang Anda tidak bisa memiliki semua yang Anda butuhkan, tetapi Anda dapat melakukan berbagai hal dengan apa yang Anda miliki. Percayalah, hal itu juga pasti akan membawa perubahan.



(mer/mer)