Potret Kehidupan Warga di Kampung Terpencil Flores

Windratie, CNN Indonesia | Rabu, 25/03/2015 14:40 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Di tanah yang menghampar luas, rumah-rumah yang sebagian besar masih berlantai tanah dan berdinding pelupuh, dan beratap seng tersebar.

Beramai-ramai anak-anak SD Negeri 1 Lengko Ajang di Kelurahan Golo Wangkung, Manggarai Timur, menuju ke sekolah. Rata-rata hampir seluruh anak-anak di Golo Wangkung bersekolah, kata Petrus Sahadun, Lurah Golo Wangkung. (CNN Indonesia/ Windratie)
Di rumahnya yang berdinding kayu dan berlantai tanah, Theresia Maina, warga Golo Wangkung menyiapkan sarapan lengkap dengan satu teko kopi. Rumah Mama There dan suaminya Emilius Darmai seringkali dipakai untuk ajang pertemuan masyarakat desa. (CNN Indonesia/ Windratie)
Hampir sekitar tujuh puluh persen masyarakat Golo Wangkung dikategorikan miskin, kata Petrus Sahadun, Lurah Golo Wangkung. Rumah mereka masih beratap seng, berdinding bambu, dan berlantai tanah. Keluarga miskin biasanya memiliki rumah yang tidak dibatasi kamar. (CNN Indonesia/ Windratie)
Seorang anak perempuan membawa jeriken ke tempat pengambilan air di pintu masuk desa. Tidak ada air keran untuk mengisi kebutuhan air warga di masing-masing rumah. Setiap desa di Golo Wangkung memiliki tempat pengisian air masing-masing. (CNN Indonesia/ Windratie)
Masjid ini menjadi saksi masyarakat Kampung Kalo Golo Wangkung yang hidup dalam damai. Mayoritas masyarakat Kampung Kalo beragama Katolik dengan sekitar 1.847 warga. Sementara umat muslimnya ada sekitar 108 warga. (CNN Indonesia/ Windratie)
Warga menuju perkebunan kopi. Sebagian besar warga Golo Wangkung adalah petani kopi, cengkeh, kakau, dan kemiri. Menurut, Petrus Sahadun, Lurah Golo Wangkung, hasil perkebunan kakao sudah semakin menurun setiap tahunnya disebabkan oleh hama. (CNN Indonesia/ Windratie)
Rumah warga ini beralih fungsi sebagai ruangan belajar untuk Pendidikan Anak Usia Dini. Pendidikan di Golo Wangkung sudah ada dari tingkat Paud yang digelar tiga kali dalam satu minggu. Ada sekitar 30 – 40 anak Golo Wangkung belajar di Paud dengan biaya lima belas ribu per bulan. (CNN Indonesia/ Windratie)
Della, murid Paud Golo Wangkung yang masih berusia lima tahun enam bulan ini sudah lancar membaca. (CNN Indonesia/ Windratie)
Seorang anak perempuan sedang mengisi jeriken air. Besarnya pasokan air dari mata air tergantung pada musim. Di musim hujan pasokan air akan lancar dengan debit air besar. Sebaliknya, di musim kemarau debit air sangat kecil. (CNN Indonesia/ Windratie)
Keluarga kecil warga Golo Wangkung Stefanus dan Sisilia, serta dua anak mereka. Stefanus adalah warga yang kerap merantau ke luar desa. Bekasi pernah jadi tempatnya mencari nafkah, tapi kembali ke kampung halaman karena tidak bisa bersaing dengan teman-teman dari Jawa, katanya. (CNN Indonesia/ Windratie)
Seorang ibu warga Kampung Kalo, Golo Wangkung menunjukkan kebun kakao di halaman belakang rumahnya. (CNN Indonesia/ Windratie)
Keluarga Stefanus dan Sisilia berkumpul di ruang tamu rumah mereka di Kampung Kalo, Golo Wangkung. Di desa ini, setiap tamu yang datang ke rumah akan disambut oleh seluruh keluarga. Segelas air nira hangat disuguhkan. Tak jarang tetangga sebelah juga ikut datang untuk mengobrol. (CNN Indonesia/ Windratie)