Masyarakat Kabupaten Tanah bumbu akan merayakan upacara adat bernama Mappanretasi. Upacara ini melibatkan berbagai suku yang ada di Tanah Bumbu (Tanbu).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesajen tersebut berisi sesisir pisang barengseng, nasi ketan empat warna, yaitu nasi ketan warna putih, hitam, kuning dan merah jambu. Dalam sesajen itu ada juga ayam panggang dan pisang raja. Pemberian sesajen itu pun dilakukan dengan mengiring ayam berwarna hitam yang dibawa naik kapal nelayan yang telah dihias.
Saat puncak acara tiba, Anda bisa melihat kapal-kapal nelayan yang telah dihias seindah mungkin mengarung ke tengah laut di titik yang ditentukan. Upacara ini dipimpin seorang sandro, orang yang memiliki gelar turun-temurun dan mereka biasanya mengenakan kopiah bugis bone dan pakaian adat bugis yang serba kuning. Ia didampingi 12 pengiring yang meliputi 6 orang perempuan dan 6 orang laki-laki.
Untuk menentukan titik pelarungan sesajen ke laut, pada malam sebelumnya, sandro akan turun ke laut. Hanya seorang sandro yang bisa melakukan hal ini karena ia perlu melakukan kontak batin.
Setelah kapal sampai ke titik yang telah ditentukan, ratusan kapal nelayan akan mengerubungi kapal yang ditumpangi sandro untuk mengikuti pembacaan doa selamatan laut. Setelah pembacaan doa selesai maka ayam hitam yang telah disiapkan akan langsung dipotong dan dilepas ke laut bersama sesajen lainnya.
Selama tiga minggu perayaan Mappanretasi ini, Anda juga bisa menemukan Pasar Malam di Kota Pagatan yang digelar mulai sore hari.
Untuk menyaksikan prosesi adat ini, Anda dapat menuju ke Batulicin, ibukota Kabupaten Tanbu yang berjarak sekitar 23 kilometer dari Banjarmasin. Perjalanan ke Batulicin dari Banjarmasin memerlukan waktu 5 jam.
(mer/mer)