Suplai Protein Berkurang, Sapi dan Ikan akan Diganti Serangga

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2015 12:39 WIB
Suplai Protein Berkurang, Sapi dan Ikan akan Diganti Serangga Serangga mulai diperhitungkan sebagai pengganti protein yang terdapat pada sapi dan ikan. (Thinkstock/Axel Ellerhorst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peternakan-peternakan terancam tidak berlanjut. Kedelai, sumber protein utama pakan ternak, bernilai lebih dari £ 1.000 per ton atau sekitar Rp 20 juta. Dibutuhkan sekitar 25 kilogram kedelai untuk membesarkan satu kilogram sapi.

Dilansir dari laman Independent, Inggris hanya memproduksi sekitar dua persen kedelai yang dibutuhkan. Sebagian besar lahan pertanian di Eropa sudah terpakai, sehingga negara itu bergantung pada impor di pasar global, di mana konsumsi daging meningkat 20 kali lipat dalam empat puluh tahun terakhir, dan akan terus meningkat.

Para ilmuwan sepakat, Eropa tengah menghadapi masalah kekurangan protein yang besar. Mereka semakin berpendapat, serangga bisa menjawabnya. Namun, tampaknya Inggris tidak begitu nyaman dengan ide mengunyah serangga.


Banyak program televisi, seperti  I'm A Celebrity... Get Me Out of Here, menambah citra buruk serangga.

Kendati opini publik terus berkembang, pengusaha Inggris Christine Spliid berada di garis terdepan pada pergeseran sikap ini. Dia meluncurkan Crobar, kudapan protein sehat yang dibuat memakai buah-buahan, kacang-kacangan, dan tepung berprotein tinggi dari jangkrik tumbuk kering yang dibekukan.

Pengusaha bergelar psikologi itu percaya bahwa sekali konsumen mengesampingkan keberatan mereka, logika lah yang akan menang. “Serangka disajikan segabagi gimmick makanan,” ucapnya menjelaskan.

“Namun, ada penerimaan yang tumbuh terhadap serangga yang bisa dimakan di Belgia, Belanda, Spanyol, dan Perancis. Amerika Serikat juga salah satunya. Ini hanya masalah waktu sebelum sikap (terhadap serangga) berubah di seluruh Eropa.”

Bahkan, lebih dari 80 persen populasi global makan serangga. Belatung jenis tertentu mengandung sekitar 50 persen protein, jumlah yang mirip dengan ikan, daging babi, atau daging sapi, tetapi dengan lemak yang kurang.

Serangga juga mengandung asam lemak tak jenuh ganda, kadar tinggi vitamin dan mineral, yang pada umumnya dianggap sangat lezat. Spliid mengatakan, “Ide bahwa saat ini kita mengalami defisit protein sangat abstrak, lebih mudah meyakinkan masyarakat tentang manfaat kesehatan. Tapi yang pertama, rasanya harus lezat.”

Spliid menggunakan jangkrik kering beku dan dipanggang pada suhu panas rendah selama sekitar 24 jam sehingga mengunci nutrisi pentingnya. “Rasa mereka seperti hazelnut,” kata Spliid.

Apa yang dulunya dianggap sebagai hal baru, kini diterima sebagai bahan utama di beberapa negara Uni Eropa. Pada 2013, Belgia jadi negara Eropa pertama yang memungkinkan penjualan serangga sebagai konsumsi manusia. Negara-negara lain mengikutinya.

Tahun lalu, salah satu jaringan supermarket di Belanda memperkenalkan berbagai serangga langka di 400 tokonya, termasuk burger serangga dan bakso serangga yang dilapisi tepung roti.

Di Inggris, para ilmuwan, dari badan penelitian lingkungan dan makanan, terlibat dalam proyek senilai £ 3 juta atau senilai Rp 61 miliar. Proyek yang didanai Uni Eropa ini disebut PROteINSECT.

Mereka menyelidiki pengenalan serangga ke dalam rantai makanan manusia. Tahun lalu, mereka menemukan, lebih dari 70 persen orang yang disurvei makan daging babi, ayam, atau ikan dari hewan yang diberi serangga.

Diharapkan, penerimaan tersebut akhirnya diterjemahkan sebagai arus utama penerimaan serangga sebagai konsumsi langsung manusia.


(win/mer)