Seperti dilaporkan Time (13/5), jika depresi sudah tidak lagi cukup kuat mencengkeram pikiran sekalipun, efeknya ke kesehatan fisik tetap terasa.
Tak hanya berimbas pada stroke, depresi juga meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2 dan bahkan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, demikian seperti diterbitkan di Journal of the American Heart Association, Rabu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti menganalisa data lebih dari 16 ribu orang berusia 50 tahun dan lebih. Mereka diteliti tiap dua tahun selama periode 1998-2010. Orang yang diteliti dan memiliki riwayat stroke, faktor risiko stroke dan gejala depresi.
Orang-orang dengan gejala depresi yang mereda pada wawancara kedua, ternyata tetap 66 persen berisiko tinggi stroke dibanding mereka yang tanpa gejala depresi.
Namun meski data menyebutkan bahwa mengobati gejala depresi tidak secara langsung mengurangi risiko stroke, para peneliti tetap menekankan pentingnya penanganan secara dini.
“Kami juga merekomendasikan bagi orang yang mengalami depresi, agar juga fokus pada perawatan kesehatan secara menyeluruh. Termasuk pencegahan stroke, sebagaimana orang yang sehat lainnya,” kata Gilsanz. (utw/utw)